Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Jejak Kampung Gang Keles, Nama Jalan Kota Probolinggo yang Tak Lekang oleh Zaman

Arif Mashudi • Minggu, 12 April 2026 | 10:20 WIB
DENAH: Peta zaman Belanja (Kuno), sudah ada Kampung Gang Keles yang berada di sisi utara Lapas Probolinggo.
DENAH: Peta zaman Belanja (Kuno), sudah ada Kampung Gang Keles yang berada di sisi utara Lapas Probolinggo.

SEJARAH tata Kota Probolinggo, menyimpan catatan unik yang tertuang dalam lembaran koran kuno De Indische Courant edisi 29 Januari 1935. 

Kala itu, Ferdinand Edmond Meijer, Wali Kota pertama Probolinggo, mengusulkan sebuah langkah besar. 

Yakni membagi jalan-jalan di kota ini ke dalam empat klasifikasi, Kelas I hingga IV. 

Dengan restu Komisi Keuangan dan Dewan Kota, kebijakan ini diambil bukan sekadar untuk ketertiban. 

Melainkan sebagai instrumen penghitungan pajak jalan berdasarkan kapasitas dan nilai strategisnya.

Dari kebijakan era Hindia Belanda inilah, lahir daftar 60 nama jalan ikonik yang menggunakan istilah serapan seperti Straat, Weg, Laan, Gang, hingga Passage. 

Seiring bergulirnya roda zaman dan semangat nasionalisme, hampir seluruh nama jalan tersebut telah bersalin rupa. 

Missigitlaan (Jalan Masjid) kini kita kenal sebagai Jalan KH. Agus Salim, sementara Gevangenislaan (Jalan Penjara) telah berganti nama menjadi Jalan Trunojoyo.

GERBANG: Gapura Jalan Gang Keles III, menjadi pintu Masuk Kampung Gang Keles. (arif mashudi for jawa pos radar bromo)
GERBANG: Gapura Jalan Gang Keles III, menjadi pintu Masuk Kampung Gang Keles. (Arif Mashudi/Radar Bromo)

Namun, di tengah gelombang perubahan nama tersebut, terselip sebuah anomali sejarah yang menarik: Gang Keles I, II, dan III.

Edy Martono, seorang pegiat literasi dan sejarah Kota Probolinggo, mengungkapkan bahwa dari puluhan nama jalan kuno, hanya Gang Keles-lah yang namanya tetap tegak berdiri sejak masa kolonial hingga hari ini. 

Pemukiman di kawasan ini pun hingga kini, masih setia menyandang sebutan "Kampung Keles".

“Dari 60 nama-nama jalan se kota Probolinggo ini, yang ada sejak zaman Belanda, hanya jalan Gang di Kampung Keles yang tidak berubah. 

Sampai sekarang jalan gang itu disebut gang Keles I, Gang Keles II dan III. Pemukiman di ketiga gang itu, dikenal sebagai Kampung Keles,” kata Edy.

Secara etimologi, nama "Keles" menyimpan kaitan erat dengan bangunan yang ada di sisi selatannya, yakni Lapas Probolinggo yang berdiri sejak tahun 1872. 

Kata ini diyakini menyadur istilah Belanda Kluis, yang berarti ruang tertutup, brankas, atau tempat penyimpanan yang aman. 

Mengingat lokasinya yang berdempetan langsung dengan tembok penjara yang kokoh dan tertutup rapat, lidah masyarakat lokal pun perlahan menyerap kata Kluis menjadi "Keles".

Hingga saat ini, belum ditemukan dokumen resmi yang menjelaskan mengapa Wali Kota Meijer atau para penerusnya tidak pernah mengganti nama gang ini. 

Ada kemungkinan, karena tidak adanya peristiwa sejarah besar yang terjadi di sana, atau justru karena letaknya yang tersembunyi namun vital sebagai penghubung antara Jalan Trunojoyo, Jalan KH. Mansyur, dan Jalan A. Yani.

“Dari dulu tidak berubah, jalan gang-nya tetap menghubungkan Jalan Trunojoyo ke Jalan KH. Mansyur dan Jalan A. Yani,” terangya.

Gang Keles kini bukan sekadar jalan sempit di tengah kota. Melainkan satu-satunya "fosil" toponimi yang masih hidup, menjadi saksi bisu perjalanan Probolinggo dari era kolonial menuju masa depan.

BERSEJARAH: Satu-satunya rumah yang dibangun saat zaman Belanda, dan bertahan hingga sekarang, nyaris tidak mengalami perubahan. (arif mashudi for jawa pos radar bromo)
BERSEJARAH: Satu-satunya rumah yang dibangun saat zaman Belanda, dan bertahan hingga sekarang, nyaris tidak mengalami perubahan. (Arif Mashudi/Radar Bromo)

Masih Ada Sisa Eks Rumah Belanda

Kampung Gang Keles itu sendiri masuk wilayah RW XI Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Problinggo. 

Kini, Gang Keles I masuk wilayah RT 01, Gang Keles II wilayah RT 2 dan Gang Keles III RT 03. 

Rumah pemukiman di Kampung Gang Keles lebih banyak dibanding zaman dahulu. 

Tetapi, dari ratusan rumah, hanya ada satu rumah yang tidak berubah bentuk dan warna catnya. Yaitu Rumah Bu Yanti, yang berada di Gang keles II. 

“Kalau rumah yang tidak pernah berubah bentuk, dan warna catnya, ya rumah Bu Yanti depan rumah saya ini. Sejak zaman Belanda, rumah ini bentuknya seperti ini. Termasuk pagarnya dari kawat tidak berubah. Cat dindingnya, bagian bawah saja dicat, tapi warna catnya tetap sama seperti dulu,” kata Ketua RW XI, Fivieana F. saat ditemui di rumahnya. 

Ia menerangkan, Kampung Gang Keles itu sendiri ada tiga Gang atau tiga RT. Untuk Gang Keles I mulai dari Bakso Stasiun sampai ke timur palang rel Kereta Api (KA). 

Sementara untuk Gang Keles II, satu deret jalan rumahnya. Sedangkan Gang Keles III, tepat bersebelahan dengan dinding Lapas Probolinggo. 

“Jumlah pemukinan bertambah, Mas. Tapi tidak banyak. RT 01 itu hanya 20 KK, RT 02 ada 50 KK, dan RT 03 ada 46 KK. Banyak rumah yang dibangun sejak zaman Belanda di sini. Termasuk rumah saya ini. Tapi sudah banyak berubah. Yang tidak berubah sama sekali bentuk hingga atapnya, ya rumah bu Yanti ini,” terangnya. (mas/one)

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#gang keles #kuno #belanda #sejarah #kampung