Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Mengenal Saluran Sekunder Pandaan, Jejak Kokoh Irigasi Belanda yang Berusia Lebih dari Seabad

Rizal Syatori • Minggu, 5 April 2026 | 11:36 WIB
BANGUNAN SEJARAH: Saluran Sekunder Pandaan yang dibangun era Belanda. Saluran air itu tetap kokoh meski melintasi zaman. (Rizal Syatori/Radar Bromo)
BANGUNAN SEJARAH: Saluran Sekunder Pandaan yang dibangun era Belanda. Saluran air itu tetap kokoh meski melintasi zaman. (Rizal Syatori/Radar Bromo)

BERDIRI sejak era penjajahan Belanda, Saluran Sekunder Pandaan tetap berdiri kokoh melintasi zaman.

Meski telah berusia lebih dari seratus tahun, infrastruktur air ini masih menjadi urat nadi pengairan bagi lahan pertanian di wilayah Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan.

Memiliki panjang mencapai 3.651 meter, saluran ini membentang melewati dua desa dan dua kelurahan, yakni Desa Sumbergedang, Desa Tawangrejo, Kelurahan Petungasri, hingga Kelurahan Pandaan.

Pemerhati saluran air asal Prigen, Baron Efendy, mengungkapkan, konstruksi ini dibangun sebelum tahun 1900-an, serupa dengan bangunan bersejarah Talang Abang.

"Ini murni peninggalan Belanda. Usianya sudah lebih dari satu abad, namun fungsinya tidak pernah pudar," jelasnya.

Aliran air saluran ini, bermula dari Dam Winong yang kemudian melewati Talang Abang di Desa Sumbergedang, Kecamatan Pandaan. Dari sana, air mengalir menuju Saluran Primer Pateguhan sebelum akhirnya masuk ke Saluran Sekunder Pandaan.

JERNIH: Jernihnya air yang mengalir di Saluran Sekunder Pandaan, menampakkan kedalamannya yang telah dangkal. Sehingga, butuh normalisasi sebagai solusi. (Rizal Syatori/Radar Bromo)
JERNIH: Jernihnya air yang mengalir di Saluran Sekunder Pandaan, menampakkan kedalamannya yang telah dangkal. Sehingga, butuh normalisasi sebagai solusi. (Rizal Syatori/Radar Bromo)
REKAYASA AIR: Terjunan di Saluran Sekunder Pandaan yang membuktikan kecanggihan rekayasa air pada zaman dahulu. (Rizal Syatori/Radar Bromo)
REKAYASA AIR: Terjunan di Saluran Sekunder Pandaan yang membuktikan kecanggihan rekayasa air pada zaman dahulu. (Rizal Syatori/Radar Bromo)

Salah satu keunikan saluran ini, terletak pada konstruksinya yang mengecil secara bertahap.

Dengan lebar yang bervariasi antara 4, 3, hingga 2 meter, desain ini disesuaikan dengan pembagian debit air yang semakin berkurang di sisi hilir.

Meski tampak sederhana dengan tepian berupa plengsengan batu kali dan tanah padat, kekuatannya diklaim melampaui bangunan modern.

Baron menyebutkan, rahasia kekokohannya terletak pada material tradisional yang digunakan pada masa itu.

"Bangunannya jauh lebih kuat dibanding konstruksi masa kini. Selain batu kali dan pasir, mereka menggunakan campuran semen bata dan tetes tebu. Perpaduan organik inilah yang membuat struktur bangunan sangat awet dan tahan lama," tambahnya.

Saat ini, pengelolaan Saluran Sekunder Pandaan berada di bawah wewenang Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Sumber Daya Air (UPT PSDA) WS Welang Pekalen, Dinas Pengairan Provinsi Jawa Timur.

Pemeliharaan rutin terus dilakukan oleh tim di lapangan, mulai dari juru pengairan hingga penjaga pintu air, guna memastikan warisan sejarah ini tetap berfungsi optimal mengairi bumi Pandaan.

 

Terjunan dan Sistem Kendali Banjir

Keunggulan Saluran Sekunder Pandaan, bukan hanya terletak pada usia bangunannya yang mencapai lebih dari satu abad. Tetapi juga pada sistem rekayasa airnya yang canggih.

Di sepanjang jalur irigasi ini, terdapat beberapa titik terjunan atau grojokan yang menjadi kunci, stabilitas aliran air di wilayah Kecamatan Pandaan.

Keberadaan terjunan ini dapat dilihat dengan jelas di sisi timur jalan nasional ruas Surabaya-Malang, tepatnya di antara Kelurahan Petungasri dan Desa Tawangrejo, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan.

Menurut pemerhati saluran air, Baron Efendy, struktur ini sengaja dibangun untuk mengikuti kontur tanah yang miring.

"Fungsi utama terjunan ini, adalah untuk memecah energi atau mengurangi kecepatan laju air. Tanpa adanya terjunan, arus air yang terlalu kencang bisa merusak dinding saluran di bagian hilir," jelas Baron.

Selain terjunan, sistem irigasi ini dilengkapi dengan saluran pembuang yang dikendalikan oleh pintu-pintu air, atau yang oleh warga setempat lebih dikenal dengan istilah demper. Keberadaan pintu air ini sangat vital, terutama saat musim penghujan tiba.

"Saluran pembuang ini berfungsi sebagai katup pengaman untuk mengendalikan banjir," tambahnya.

Meski sebagian besar konstruksi peninggalan Belanda ini masih asli, beberapa titik plengsengan batu pernah mengalami perbaikan (rehabilitasi) akibat kerusakan alami atau kebocoran.

Tercatat pada tahun 1991, Dinas Pengairan Provinsi Jawa Timur melakukan renovasi di beberapa lokasi strategis, seperti di kawasan timur jalan nasional (depan ruko), wilayah Kemisik, hingga Plumbon.

Namun, hal yang paling mengagumkan adalah kondisi belasan terjunan yang ada di sepanjang saluran tersebut.

Hingga saat ini, struktur terjunan tersebut masih orisinal dan belum pernah tersentuh rehabilitasi total.

"Struktur terjunannya masih asli sejak dulu. Ini bukti betapa matangnya perencanaan dan kualitas material bangunan di masa lampau," beber Baron.

 

Tetap Jernih Tapi Kini Menanti Normalisasi

Meski pesona kejernihan airnya tak memudar, kondisi Saluran Sekunder Pandaan kini menghadapi tantangan serius.

Masalah pendangkalan akibat sedimentasi mulai mengancam fungsi optimal saluran irigasi bersejarah peninggalan era Belanda ini.

Lurah Pandaan, Heru Budi Sulistyo, mengungkapkan, potret saluran yang melintasi wilayahnya, kini telah banyak berubah.

Jika dahulu saluran ini memiliki kedalaman yang cukup signifikan, mencapai lebih dari satu meter, saat ini permukaannya dipenuhi tumpukan sedimen tanah dan material batu.

"Kondisinya sekarang banyak yang dangkal. Permukaannya tertutup sedimen baru dan bebatuan, sehingga perlu ada langkah pengerukan atau normalisasi segera dari instansi terkait," ujar Heru.

Selain masalah pendangkalan, penurunan debit air juga menjadi sorotan. Walaupun air yang mengalir tetap terjaga kejernihannya sejak dulu, volume airnya tidak lagi sederas masa kejayaannya.

Hal ini berdampak pada berubahnya aktivitas sosial masyarakat di sekitar saluran.

Heru mengenang masa lalu saat saluran ini menjadi pusat keceriaan anak-anak sekolah.

"Dulu, sepulang sekolah anak-anak banyak yang mandi di sini. Titik favoritnya ada di terjunan depan pintu masuk Lapangan Plumbon. Sekarang, pemandangan itu sudah tidak ada lagi," tuturnya.

Perubahan debit air dan pendangkalan ini menjadi alarm bagi pihak pengelola, dalam hal ini UPT PSDA WS Welang Pekalen, untuk memberikan perhatian lebih.

Normalisasi dinilai mendesak, agar warisan infrastruktur yang telah berusia lebih dari satu abad ini, tidak hanya sekadar menjadi monumen sejarah.

Tetapi, tetap berfungsi maksimal mengairi lahan serta menjaga kelestarian lingkungan di jantung Kecamatan Pandaan. (zal/one)

Editor : Jawanto Arifin
#saluran air #bangunan #belanda #Pandaan #sejarah