DI bentang timur Pulau Jawa, mengalir sebuah sungai yang tak hanya membawa air, tetapi juga sejarah panjang peradaban agraris: Sungai Pekalen.
Sejak lama, sungai ini menjadi urat nadi kehidupan masyarakat di Kabupaten Probolinggo.
Dari sawah-sawah yang hijau hingga jaringan irigasi yang rumit, Pekalen adalah saksi bisu bagaimana manusia mencoba menaklukkan sekaligus bergantung pada alam.
Sejarah mencatat, upaya pengelolaan Sungai Pekalen sudah dimulai sejak sekitar tahun 1850.
Saat itu, pemerintah kolonial Hindia Belanda mulai membangun sistem kanal sederhana untuk mengatur aliran air.
Salah satu yang paling dikenal adalah saluran Taretta-leiding. Kanal ini mengambil air dari dua titik utama, yakni Gerongan dan Satrian.
Dari sana, air dialirkan ke lahan pertanian di wilayah Gending, Gading, hingga Pajarakan.
“Pada waktu saluran air Taretta tidak bisa digunakan lagi karena abrasi, maka dibangun kanal saluran air ‘Kleenang’ yang baru,” ujar Pemerhati Sejarah Probolinggo, Ahmad Budiman.
Peristiwa ini menjadi bukti bahwa sejak awal, pengelolaan Pekalen selalu berhadapan dengan dinamika alam.
Sungai ini bukan hanya sumber kehidupan, tetapi juga tantangan teknis yang tak pernah selesai.
Babak penting dalam sejarah Pekalen dimulai ketika seorang insinyur muda Belanda datang ke Probolinggo. Namanya Anske Gerben Lamminga.
Lahir di Makkum, Friesland, pada 25 November 1855, Lamminga datang ke Hindia Belanda dengan semangat eksplorasi dan dedikasi tinggi.
Dari tahun 1881 hingga 1893, ia tinggal di Karesidenan Probolinggo dan mencurahkan tenaga serta pikirannya untuk satu hal: mengatur air Pekalen.
Dua tahun pertama, ia bahkan tinggal di pedalaman Desa Pekalen bersama istrinya.
“Ia tinggal di rumah salah seorang penjaga pintu air. Di mana belum ada fasilitas jalan dan kendaraan yang layak, di daerah yang terkenal dengan ketidaknyamanannya,” tuturnya.
Kondisi itu tidak menyurutkan tekadnya. Justru dari situ, Lamminga melakukan observasi mendalam.
Ia mencatat setiap detail: aliran air, debit sungai, kontur tanah, hingga pola kebutuhan petani.
Hasilnya adalah sebuah karya besar: Pekalen Werken atau “Pekerjaan Pekalen”.
“Dia membuat rekaman yang sangat luas dan akurat, dan berdasarkan ini dibuat desain awal yang kemudian disahkan pada tahun 1885,” jelas Budiman.
Tak hanya merancang, Lamminga juga bertanggung jawab atas pelaksanaan proyek tersebut.
Sistem ini kemudian dikenal sebagai “irigasi teratur” pertama di Hindia Belanda.
Luasnya mencapai lebih dari 10.000 bahu setara lebih dari 7.000 hektare. Sebuah pencapaian monumental pada zamannya.
Keberhasilan di Pekalen menjadikan Lamminga sebagai figur penting dalam dunia teknik pengairan.
Ia kemudian menuliskan detail pekerjaannya dalam sebuah buku berjudul Werken voor verbetering van de bevloeiing en de waterafvoer der districten Gending, Gading en Padjarakan.
Buku yang ditulis pada tahun 1894 itu, menjadi referensi penting dalam pengembangan irigasi di wilayah lain.
Tak berhenti di Probolinggo, Lamminga melanjutkan tugasnya di Tegal dan Pekalongan.
Antara tahun 1895 hingga 1903, ia menangani proyek irigasi seluas 166.000 bahu atau sekitar 118.000 hektare.
Namun, kontribusi terbesarnya bukan hanya pada pembangunan fisik. Ia memperkenalkan sistem pengelolaan air yang disebut Pekalen Regeling.
“Metode ini diresmikan melalui Gouvernements Besluit tanggal 25 April 1901 nomor 35, sebagai peraturan pertama untuk irigasi,” bebernya.
Atas kontribusinya, Lamminga kemudian dikenal sebagai “Bapak Irigasi Modern”.
Namanya bahkan diabadikan dalam sebuah monumen di Tegal pada tahun 1930 meski kini lokasi tersebut telah berubah menjadi Monumen Yos Sudarso.
Sungai yang Kini Menua
Lebih dari satu abad berlalu, sejak Lamminga menyusun desain irigasi Pekalen.
Namun, waktu membawa perubahan. Menurut Kepala UPT PSDA PUPR Kabupaten Probolinggo, Yahya, kondisi Sungai Pekalen saat ini mengalami banyak pergeseran.
“Kondisi saat ini sudah banyak perubahan. Aliran debitnya berubah, banyak erosi dan gerusan,” ujarnya.
Perubahan itu terasa di sepanjang aliran sungai. Dari hulu di Andungbiru, Kecamatan Tiris, mengalir melewati Dam Jatiapu di Selogudig Wetan, hingga bermuara di Desa Penambangan dan Sukokerto, Kecamatan Pajarakan. “Dari karakter banyak berubah,” tambahnya.
Pernyataan singkat itu menyiratkan perubahan besar baik dari sisi hidrologi, morfologi sungai, hingga kualitas lingkungan.
Di beberapa titik, tanggul pengaman (tangkis) telah dibangun. Perbaikan juga terus dilakukan untuk menahan laju kerusakan. Namun, upaya tersebut sering kali seperti berpacu dengan waktu.
Meski kondisinya berubah, peran Pekalen tetap vital. Sungai ini masih menjadi sumber irigasi utama bagi ribuan hektare sawah.
Saat ini, Pekalen berada di bawah kewenangan pemerintah pusat dengan cakupan lebih dari 6.000 hektare baku sawah.
Salah satu titik strategis adalah Dam Jatiapu yang mengairi sekitar 490 hektare lahan pertanian.
Artinya, setiap perubahan pada sungai ini langsung berdampak pada kehidupan petani
Di sinilah dilema muncul. Di satu sisi, Pekalen adalah infrastruktur vital. Di sisi lain, kondisinya semakin rentan.
Apa yang dibangun Lamminga lebih dari seabad lalu, adalah sebuah sistem yang terintegrasi menggabungkan ilmu teknik, pemahaman alam, dan kebutuhan manusia.
Namun hari ini, sistem itu menghadapi tekanan yang jauh lebih kompleks: perubahan iklim, sedimentasi, alih fungsi lahan, hingga aktivitas manusia yang tidak terkendali.
Jika tidak dikelola dengan serius, bukan tidak mungkin Pekalen akan kehilangan fungsinya secara perlahan. Padahal, sungai ini bukan sekadar saluran air.
Ia adalah warisan sejarah. Ia adalah simbol kejayaan teknologi masa lalu. Dan yang paling penting, ia adalah sumber kehidupan bagi masyarakat Probolinggo.
Belajar dari sejarah, pengelolaan sungai tidak bisa dilakukan setengah hati. Dibutuhkan pendekatan yang menyeluruh seperti yang dilakukan Lamminga di masa lalu.
Pendataan yang akurat, perencanaan yang matang, dan pelaksanaan yang konsisten menjadi kunci.
Namun, di era sekarang, satu hal tambahan menjadi penting: kesadaran bersama. Sungai tidak bisa dijaga hanya oleh pemerintah.
Ia membutuhkan partisipasi semua pihak masyarakat, petani, hingga pemangku kebijakan.
Karena pada akhirnya, masa depan Pekalen bukan hanya tentang air yang mengalir. Tetapi tentang bagaimana manusia belajar menghargai alam.
Seperti yang pernah dibuktikan di masa lalu bahwa ketika ilmu, kerja keras, dan kepedulian bersatu, sungai bisa menjadi sumber kemakmuran. (mu/one)
Editor : Jawanto Arifin