Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Sejarah Ponpes Roudlotut Tholibin, dari Musala Berkembang dengan Seabrek Jenjang Pendidikan

Inneke Agustin • Minggu, 1 Maret 2026 | 14:47 WIB

SEKARANG: Suasana Ponpes Roudlotut Tholibin atau Pondok Kareng, Kota Probolinggo.
SEKARANG: Suasana Ponpes Roudlotut Tholibin atau Pondok Kareng, Kota Probolinggo.

PONDOK pesantren (Ponpes) Roudlotut Tholibin atau Pondok Kareng berlokasi di Jalan KH Fadhol, Kelurahan/Kecamatan Kademangan Kota Probolinggo.

Dinamakan Pondok Kareng karena sebelum berubah nama menjadi Kademangan, wilayah tersebut disebut Sumber Kareng.

Kepala Seksi Keamanan Ponpes Roudlotut Tholibin, Mahfud Ali menyampaikan, lembaga tersebut dahulu didirikan oleh Kiai Faqih Bin Alawi Bin Samlawi Bin Alawi Bin Abdurrohman Bin Pangeran Kidul Bin Sunan Giri. Masyarakat sekitar sering menyebutnya sebagai Bujuk Pakis.

Mahfud menjelaskan, berdirinya ponpes diawali dengan kerisauan Kiai Abu Tholib atau Bujuk Randuh yang saat itu menetap di Desa Jrebeng Lor, Kecamatan Wonoasih terhadap kehidupan masyarakat Kademangan.

“Rampok, sabung ayam, perjudian, mabuk-mabukan menjadi keseharian masyarakatnya. Akhirnya desa ini dikenal sebagai Desa Mices, yaitu desa yang dipenuhi sarang maksiat dan kemungkaran,” tuturnya.

Kiai Abu Tholib yang masih merupakan saudaranya itu, lantas meminta Kiai Faqih untuk memberikan ilmu keagamaan di desa ini.

PENGASUH: Pengasuh Ponpes Roudlotut Tholibin, KH Abdul Karim saat mengajar.
PENGASUH: Pengasuh Ponpes Roudlotut Tholibin, KH Abdul Karim saat mengajar.

BELAJAR: Sejumlah santri Ponpes Roudlotut Tholibin atau Pondok Kareng, Kota Probolinggo yang tengah belajar.
BELAJAR: Sejumlah santri Ponpes Roudlotut Tholibin atau Pondok Kareng, Kota Probolinggo yang tengah belajar.

DULU: Foto KH. Fadhol (kiri) dan KH. Abdul Mujib dari Ponpes Roudlotut Tholibin atau Pondok Kareng, Kota Probolinggo.
DULU: Foto KH. Fadhol (kiri) dan KH. Abdul Mujib dari Ponpes Roudlotut Tholibin atau Pondok Kareng, Kota Probolinggo.

Supaya masyarakatnya tidak berkutat dalam kemaksiatan. Kiai Faqih pun mengamininya.

Kiai Faqih diberikan sebidang tanah di sekitar Masjid Al Mubarok oleh saudaranya yang lain, yang dikenal dengan nama Bujuk Singosari dari Desa Pohsangit Leres.

“Sedikit demi sedikit, akhirnya beliau menjalankan tugasnya. Pada awalnya, beliau mendirikan sebuah musala kecil untuk membimbing masyarakat kembali ke jalan yang benar,” kata Mahfud.

Meski penolakan beberapa kali dirasakan, namun Kiai Faqih mampu mengatasinya.

Musala yang dibangun olehnya inilah, yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinaya Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin.

Namun pada 1875, Kiai Faqih wafat dan digantikan oleh Kiai Anom yang merupakan menantunya.

Dan setelah itu, dilanjutkan oleh menantu Kiai Anom yaitu Kiai Mushohib yang oleh masyarakat sekitar di kenal dengan nama Kiai Gedangan.

Di masa Kiai Gedangan ini, terdapat banyak permintaan dari masyarakat, agar didirikan pemondokan-pemondokan bagi para santri.

Sehingga di masa itu, mulai terdapat santri yang menetap dari masyarakat sekitar.

Kemudian terus berkembang dan banyak santri yang berdatangan dari berbagai daerah sekitar Probolinggo, Lumajang, Pasuruan, Situbondo, Jember, dan kota-kota lain.

“Dari beliau inilah, kemudian lahir santri-santri yang menjadi kiai dengan jumlah santri dan pengaruh kuat di tengah masyarakat,” ungkapnya.

Sepeninggalan Kiai Gedangan, kepemimpinan pesantren diberikan kepada putranya, yakni Kiai Fadhol.

Pasca meninggalnya Kiai Gedangan, Kiai Fadhol tidak berkenan mengopeni santri dan para santri yang menetap pulang ke daerah masing-masing. Hingga jumlah santri yang menetap hanya dua santri saja.

Karena di masa Kiai Fadhol ini, pondok pesantren tidak terurusi dengan baik.

Kiai Fadhol juga punya keanehan tersendiri yang dimaksud dengan Khoriqul ‘adah. Masyarakat sekitar meyakini, bahwa Kiai Fadhol adalah seorang Waliyullah.

“Kewaliyan Kiai Fadhol ini sudah tidak di ragukan lagi. Karena melihat dari banyaknya informasi yang datang dari kalangan ulama’, kiai, tokoh dan masyarakat bahkan Kiai Abdul Hamid Pasuruan sering menyebut bahwa Kiai Fadhol ini adalah seorang waliyullah,” terang Mahfud.

Keadaan Kiai Fadhol yang Khoriqul Adah tersebut, membuat KH Ahsan Baqir membantu kepengurusan ponpes.

Namun beliau tidak berumur panjang dan wafat dalam usia yang relatif muda.

Setelah itu, kepengurusan pesantren diserahkan kepada keponakannya yakni Kiai Bisri yang wafat pada 1947.

Setelah itu, kepengurusan pesantren diserahkan kepada suami dari adik beliau yaitu Kiai Shodik.

Akan tetapi, Kiai Shodik kemudian pindah tempat, sehingga kemudian dilanjutkan oleh Kiai Hamid yang merupakan putra dari KH Ahsan Baqir.

Setelah Kiai Hamid, kepengurusan pesantren di serahkan pada KH Zaed atau menentu Kiai Ahsan Baqir yang wafat pada 1961.

“Setelah beliau inilah, kepengurusan pesantren mulai vakum dan seperti kota mati,” kata Mahfud.

 

Perkembangan Ponpes Roudlotut Tholibin

Dalam perkembangannya, Ponpes Kareng diberi nama secara resmi Ponpes Roudlotut Tholibin oleh KH Abdul Mujib Abdullah.

Ia merupakan menantu dari KH Fadhol yang biasa dipanggil Mas Babun Khoir dari Jrebeng Lor dan notabene masih saudara dekatnya. Pada 1971, Mas Babun Khoir melaksanakan ibadah haji dan mengganti namanya menjadi KH Abdul Mujib Abdullah.

“Beliaulah pengasuh yang ditunjuk langsung oleh Kiai Fadhol dan merupakan yang pertama dalam mengembangkan Pondok Kareng sampai hari ini,” ungkap Kepala Seksi Keamanan Ponpes Roudlotut Tholibin, Mahfud Ali.

Setelah diambil menantu pada tahun 1970, ia langsung merintis pendidikan formal yang bernama MI Ihyaul Islam dan terus meningkatkan dan memperkuat kinerja pendidikan madrasah diniyah.

Berkat kegigihannya, mulai berdatangan santri yang menetap baik dari dalam kota maupun luar kota.

Meski jumlahnya tidak terlalu banyak, antara 25-75 santri dan tiap tahunnya pasang surut.

“Setelah MI berdiri, pada tahun 1980 beliau merintis lembaga pendidikan lagi yang bernama MTs Roudlotut Tholibin dalam proses pendirian pendidikan formal ini,” kata Mahfud.

Tantangan dan godaannya sangat besar baik dari internal maupun eksternal.

Namun, KH Abdul Mujib sama sekali tidak menghiraukan godaan tersebut. Bahkan, ia cenderung terus melanjutkan keinginannya untuk membesarkan PP Roudlotut Tholibin.

“Walaupun banyak aral dan rintangan yang menghalangi, tekad beliau tidak pernah memudar. Alasan beliau sangat kuat dalam mengembangkan pendididkan formal, yang dianggap sebagian orang akan mengancam keberlangsungan terhadap pendidikan diniah dan majlis ta’lim lainnya,” ujar Mahfud

Selain itu, tujuan mulia yang tidak banyak dilihat orang, agar orang tua yang memiliki orientasi pendidikan formal dapat memondokkan anaknya di pesantren setempat.

Sehingga pada akhirnya, mereka pun akan dididik kajian kitab kuning. Strategi jenius inilah yang tidak banyak dilihat orang, namun ia sangat faham akan hal ini.

Keberhasilan itu, membuatnya mengembangkan pendidikan formal tingkat SLTA di tahun 1987.

Ia menamakan pendidikan formal itu, MA Wahid Hasyim dengan tujuan, agar memberi peluang kepada siswa Madrasah Tsanawiyah, bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

“Selain itu agar para santri yang ingin melanjutkan pendidikan tidak harus keluar pondok dan tetap melanjutkan kajian kitab kuningnya,” tuturnya.

Jumlah siswanya terus meningkat dari tahun ke tahun. Kondisi ini, membuatnya berencana merintis Sekolah Menengah atas pada 1996.

Namun rencana ini diurungkan karena ada tawaran dari Lembaga Pendidikan Ma'arif NU (LP Ma'arif NU) Kota Probolinggo untuk mengambil alih SMA Sunan Giri (SMAGI) yang pada waktu itu pendidikan tersebut kekurangan murid. Pemberian mandat ini bertujuan agar pendidikan tersebut tidak mati.

Pada tahun 2015 Yayasan Pesantren Roudlotut Tholibin (YASSARO) merintis Sekolah Menengah Kejuruan yang diberi nama SMK Sunan Giri. Fokusnya, dalam bidang otomotif.

Tujuan didirikan pendidikan ini, untuk memberi bekal santri yang tidak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi. Sehingga bisa langsung berwirausaha atau bekerja.

“Kedepannya, YASSARO akan fokus mendirikan perguruan tinggi. Selain agar para santri bisa melanjutkan jenjang pendidikan formal juga agar para santri tetap melanjutkan kajian kitab kuningnya. Kitab kuning di YASSARO adalah harga mati yang tidak bisa diubah atau dialihkan meskipun hanya beberapa centi,” beber Mahfud.

Saat ini YASSARO sudah memiliki lembaga pendidikan mulai dari PAUD sampai Sekolah Menengah Atas dan tentunya pendidikan diniyah yang berbasiskan salaf.

Sementara itu, pengasuh Ponpes Roudlotut Tholibin, KH Abdul Karim mengatakan bahwa lembaganya tersebut, sama dengan ponpes lainnya yang menjungjung tinggi manhaj ilmiah dan amaliyah. Dua pilar penting dalam pengembangan ilmu agama.

“Mempraktikkan fiqih dengan meramut serta menjaga yang lama yang baik, dan mengambil yang baru yang baik. Kemudian juga menjadi bagian dari sosial kemasyarakatan,” paparnya. (gus/one)

Editor : Jawanto Arifin
#musala #sejarah #Kota Probolinggo #ponpes