PENDIRIAN Pondok Pesantren (Ponpes) Roudhutol Ma'ruf Al Hasaniyyah di Jalan Trunojoyo, Lecari, Kelurahaan Tapaan, Kecamatan Bugul Kidul, Kota Pasuruan memiliki sejarah yang cukup panjang.
Siapa sangka, awalnya, pendiri ponpes Kiai Chumaidi tidak berniat mendirikan ponpes. Ia hanya ingin menyediakan tempat ibadah yang nyaman bagi masyarakat luar kota.
Cikal bakal pendirian ponpes ini bermula dari keinginan Kiai Chumaidi memiliki musala yang nyaman digunakan bagi warga dari luar daerah.
Keinginan itu diwujudkannya dengan mendirikan sebuah musala di Kelurahan Bangilan, Kecamatan Panggungrejo sekitar 1970-an. Musala ini diberi nama Roudhotul Qur'an.
Berbeda dengan musala pada umumnya, musala ini menyediakan banyak kamar.
Tujuannya, agar masyarakat atau tamu dari luar daerah yang singgah untuk salat, bisa beristirahat di kamar ini. Setiap harinya, selalu ada tamu yang datang untuk menginap.
"Musala ini jadi embrio, cikal bakal berdirinya ponpes. Namun awalnya, Abah tidak ada rencana untuk punya ponpes," kata M. Ibnil Arobi, ketua Yayasan Ponpes Roudhotul Ma'ruf.
Keberadaan musala tersebut diketahui oleh Kiai Abdul Hamid, pendiri Ponpes Salafiyah Kota Pasuruan.
Kiai Hamid lantas mengirimkan santrinya, untuk tinggal di sana. Santri ini ikut memakmurkan musala tersebut.
Bertahun-tahun kemudian, keberadaan musala ini semakin dikenal luas oleh masyarakat kota dan luar kota.
Banyak warga dari luar daerah yang datang dan mampir untuk salat di musala ini. Karena semakin ramai, Kiai Chumaidi menilai butuh lokasi yang lebih luas, untuk memudahkan masyarakat beribadah.
Ia lantas mencari lokasi yang nyaman. Saat itulah, ia diberi tanah wakaf di Raci, Kecamatan Bangil oleh seseorang.
"Abah pamit dan mohon izin ke Romo Kiai Hamid. Namun Kiai Hamid bilang jika itu bukan bagianmu. Akhirnya, Abah tidak mengambil tanah wakaf itu," jelas Gus Arobi-sapaannya.
Akhirnya, tanah wakaf ini diserahkan pada habib Hasan Baharun dan mendirikan Ponpes Darullughah Wadda’wah (Dalwa) di Bangil.
Kiai Chumaidi kemudian mencari lokasi lain. Dan menemukan tanah yang cukup luas di wilayah Lecari, Tapaan, Kota Pasuruan.
Seperti sebelumnya, Kiai Chumaidi menyampaikan hal ini kepada Kiai Hamid. Kiai Hamid ternyata merestui.
"Pembangunan ponpes ini dimulai sekitar 1980-an. Dan rampung pada 1990-an. Baru difungsikan di awal 1990," sebut Gus Arobi.
Awal Ditujukan sebagai Ponpes Salaf
Selama hampir 10 tahun, Kiai Chumaidi sempat bolak-balik Bangilan dan Tapaan. Selama ponpes dibangun, Kiai Chumaidi tinggal di Bangilan.
Barulah usai pembangunannya rampung, Kiai Chumaidi tinggal di Jalan Trunojoyo, Lecari, Tapaan, Kota Pasuruan. Pada awal pendiriannya, ponpes ini sebagai Ponpes Salaf.
Ketua Yayasan Ponpes Roudhotul Ma'ruf, M. Ibnil Arobi, menuturkan Ponpes Roudhotul Ma'ruf ini, didirikan di lahan seluas 1.000 meter persegi.
Awalnya, ponpes hanya mengajarkan ilmu agama. Sehingga santri yang dimiliki oleh ponpes ada dua macam.
Ada yang memilih tinggal di ponpes. Namun adapula yang paginya sekolah formal, dan sorenya kembali ke pondok.
Ternyata semakin tahun jumlah santri di pondok semakin sedikit. Banyak wali santri memilih ponpes modern bagi anaknya.
Di mana mereka bisa belajar formal di pagi sampai siang, lalu berlanjut mendalami ilmu agama. Karena itulah, secara bertahap pendidikan formal dibuka.
"Awalnya jadi Ponpes Salaf. Namun sejak pertengahan 1990-an berubah menjadi ponpes lebih modern atas permintaan wali santri," kata Gus Arobi-sapaannya.
Putra keempat pendiri ponpes ini menyebut, semula yang didirikan pertama kali adalah Tempat Pendidikan Al-Quran (TPQ).
Lalu, dibangun jenjang SD. Setelah jenjang SD memiliki lulusan, wali santri meminta adanya jenjang SMP. Dan kini, sudah ada sembilan lulusan SD atau telah berjalan 15 tahun.
Sementara SMP sudah berjalan sembilan tahun. Jumlah santri terus bertambah setiap tahunnya.
Dari awalnya hanya 100 orang santri saat menjadi Ponpes Salaf, lalu bertambah menjadi 300 santri sejak pendidikan formal dibuka. Dan kini, lebih dari 400 santri. Baik laki-laki maupun perempuan.
"Yang jenjang SD boleh pulang pada malam hari. Namun bagi santri yang sudah SMP, harus tinggal di ponpes agar ilmu yang diberikan bisa lebih maksimal," tutur Gus Arobi.
Saat ini, ponpes sudah memiliki jenjang pendidikan formal mulai TK hingga SMP. Tidak menutup kemungkinan, akan membuka jenjang SMA.
Kebetulan pihak pesantren sudah membeli lahan di sisi timur. Nantinya, areal ini bisa menjadi bangunan bagi SMA. Apalagi disebutkannya, wali kota sangat mendukung rencana ini.
"Wali santri juga meminta agar dibangun SMA. Tentu ini menjadi perhatian kami untuk menambah jenjang SMA," tuturnya.
Alasan Penamaan Roudhotul Ma'ruf Al Hasaniyah
Pemberian nama Roudhotul Ma'ruf Al Hasaniyah bukannya tanpa alasan. Yang memberi nama adalah Kiai Chumaidi.
Sejak pertama kali berdiri pada 1990-an hingga menjadi pondok yang lebih modern, nama pesantren tidak pernah berubah.
Ketua Yayasan Ponpes Roudhotul Ma'ruf, M. Ibnil Arobi, menjelaskan penamaan pesantren sepenuhnya dilakukan oleh Kiai Chumaidi.
Kata Ma'ruf adalah nama dari mertuanya. Pemberian nama ini agar pesantren memiliki kebaikan. Seperti arti kata dari Ma'ruf yang artinya adalah kebaikan. Sementara Roudhotul artinya taman.
"Diberi nama Roudhotul Ma'ruf, karena pesantren adalah sebuah tempat yang baik dalam mencari ilmu. Roudhotul Ma'ruf artinya taman yang baik," jelas Gus Arobi-sapaannya.
Anak keempat dari sebelas bersaudara ini menyebut, Al Hasaniyah ini merujuk pada pendiri Pesantren Genggong Probolinggo, Kiai Hasan.
Dan Kiai Chumaidi adalah santri dari Kiai Hasan. Ia pernah menuntut ilmu agama di Ponpes Genggong. Tujuannya agar mendapatkan barokah dari kiai Hasan.
Ponpes Roudhotul Ma'ruf masih memegang visi misi awal. Meski porsi ilmu umum yang diajarkan di pondok bertambah setiap tahunnya, namun ilmu agama masih mendominasi hingga 60 persen.
Namun ia meyakini, kualitas lulusan ponpes setempat, tidak kalah dengan lulusan pesantren lainnya.
Pembelajaran kitab dalam ponpes ini, merujuk pada Pesantren Sidogiri. Sehingga, ilmu yang diajarkan telah teruji dan baik. Kurikulum sekolah formal mengikuti Dinas Pendidikan.
"Tentu kualitas pesantren akan terus ditingkatkan setiap tahunnya. Kami merujuk pada ketentuan dan kurikulum yang ada," paparnya. (riz/one)
Editor : Jawanto Arifin