POHON Asam Jawa di tepi jalan merupakan bagian dari sejarah. Sebab, rata-rata pohon tersebut ditanam saat masa kolonial Belanda.
Meski saat ini, keberadaannya mulai menghilang seiring pelebaran jalan dan dimakan usia.
Saat masa kolonial Belanda dahulu, tanah Jawa masih dipenuhi hutan belantara.
Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811), dibangunlah jalan raya dari barat hingga timur sepanjang Jawa. Mulai dari Anyer (Banten).
Hingga terakhir di ujung timur Panarukan (Situbondo). Tujuan utama pembangunan jalan ini tak lain, untuk jalur mobilisasi pasukan militer Belanda dalam mengamankan wilayah Jawa dari invasi Inggris.
Di sepanjang bentang jalan juga didirikan banyak pos yang digunakan sebagai tempat persinggahan pasukan.
Pos-pos tersebut sekaligus jadi penghubung pengiriman surat oleh Belanda.
Oleh karena itu, jalan poros Daendels tersebut dikenal dengan sebutan Jalan Raya Pos (De Grote Postweg).
Syahdan, gubernur penguasa bertangan besi saat itu juga menitahkan kepada seluruh penguasa pribumi lokal, untuk mengerahkan rakyatnya menanami pohon di sepanjang jalan. Khususnya jalan yang berada di wilayah dekat pantai.
Pohon yang akan ditanam itu harus kuat dan rindang. Tapi, bukan Jati. Juga bukan Beringin. Jenis pohon yang dipilih jatuh pada pohon Asam Jawa.
Jadi, tak heran jika dulunya banyak dijumpai deretan pohon asam di sepanjang jalan pantai utara (pantura) maupun pantai selatan (pansela).
Termasuk jalur pantura yang melewati wilayah Bangil/Pasuruan dan Probolinggo.
Achmad Budiman Suharjono, pemerhati sejarah Pasuruan mengungkapkan, memang ada catatan yang menyebutkan keberadaan pohon Asam Jawa di era pemerintahan kolonial saat itu.
Disebutkan dalam catatan HJ Domis, Residen Pasuruan pada tahun 1830, bahwa di sepanjang jalan Bangil menuju Pasuruan banyak dijumpai tanaman Tamarind tumbuh subur.
Istilah Tamarind ini tak lain merupakan genus ilmiah dari Tamarindus Indica, yang berarti Asam Jawa.
“Jadi, pohon Tamarind tersebut kemungkinan besar ditanam beberapa tahun sebelum masa HJ Domis menjadi Residen Pasuruan. Yakni, diperkirakan ditanam pada masa pemerintahan Gubernur Daendels,” ungkap pria yang juga budayawan Kota Pasuruan tersebut.
Ia juga tak menampik bila literasi terkait muasal penanaman pohon asam pada era itu sangat minim.
Yang ada, hanya catatan-catatan sejarah terkait proyek besar pembangunan Jalan Raya Pos-nya saja.
Konon, pemilihan pohon asam itu bukan tanpa alasan. Pohon ini termasuk jenis pohon yang tangguh.
Memiliki akar yang kuat, mampu bertahan dalam kekeringan dan tahan dari terjangan angin laut yang asin.
Selain itu, pohon asam memiliki daun kecil tapi rimbun. Sehingga bisa menjadi payung raksasa sekaligus peneduh dari terik matahari.
Pohon asam juga dipilih lantaran memiliki buah yang bisa bermanfaat sebagai penghilang dahaga saat perjalanan.
Tak cuma itu, buah dan pucuk daunnya juga bisa dimanfaatkan penduduk sekitar sebagai bumbu masak maupun jamu atau obat tradisional.
Maka, berpuluh-puluh tahun kemudian, sepanjang jalan jalur itu pernah menjadi semacam “Lorong Hijau.”
Pohon-pohon asam itu tumbuh menjulang dengan dahan dan ranting saling bertaut satu sama lain. Seolah-olah membentuk sebuah terowongan alami yang sangat panjang.
Tumbang hingga Terdampak Pelebaran
Keberadaan pohon Asam Jawa itu, memiliki banyak manfaat. Tidak hanya sekadar peneduh.
Tetapi juga, untuk minuman. Terutama, daunnya yang bisa diolah menjadi minuman tradisional.
Abdurrohman (56), salah satu warga Dusun Blawi, Desa Masangan, Kecamatan Bangil mengaku kerap memanfaatkan daun Asam Jawa (sinom) untuk jamu tradisional.
Ia menceritakan, saat ia masih remaja, kisaran tahun 1980-an, pohon Asam Jawa masih banyak dijumpai di sepanjang jalan.
Pohonnya besar-besar dan rindang. Saat itu jalan raya tak selebar sekarang. Tak sedikit warga sekitar setiap saat meluruh buah asam matang yang jatuh di tepi jalan.
“Dulu waktu saya kecil, jalan ini banyak pohon asamnya. Dari ujung barat sampai timur desa. Untuk mendapatkan buah dan daunnya sangatlah mudah. Banyak warga sini memanfaatkan buahnya untuk sekadar camilan, bumbu masak dan sinomnya jadi jamu tradisonal,” ungkap pria yang sejak lahir tinggal di rumah tak jauh dari ruas jalur pantura Bangil-Pasuruan tersebut.
Kini, pohon-pohon asam yang legendaris itu kian berkurang jumlahnya.
Sebagian tumbang dimakan usia, sebagian lagi harus mengalah pada perluasan jalan dan pembangunan kota.
Namun, bagi mereka yang pernah melintasi pantura Bangil-Pasuruan-Probolinggo di masa lalu, aroma asam yang segar dan bayangan hitam pohon raksasa itu tetaplah menjadi bagian dari memori yang tak lekang oleh waktu. (ube/one)
Editor : Jawanto Arifin