Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Jejak Halte Trem PG Pajarakan, dari Jalur Gula hingga Denyut Angkutan Desa

Agus Faiz Musleh • Minggu, 1 Februari 2026 | 14:45 WIB
TEMPO DULU: Bangunan halte trem PG Pajarakan yang sempat menjadi tempat untuk mengangkut barang hasil pertanian.
TEMPO DULU: Bangunan halte trem PG Pajarakan yang sempat menjadi tempat untuk mengangkut barang hasil pertanian.

WAKTU boleh bergerak maju, tapi jejaknya tak selalu benar-benar hilang.

Di Pajarakan, Kabupaten Probolinggo, sisa-sisa masa lalu itu masih bisa diraba bukan lewat rel baja atau lokomotif uap, melainkan melalui ingatan kolektif dan perubahan fungsi ruang.

Salah satu penandanya adalah halte trem Pabrik Gula (PG) Pajarakan. Dahulu, simpul penting lalu lintas manusia dan komoditas.

Kini tinggal cerita yang menempel pada bangunan dan ruas jalan yang telah berganti rupa.

Di utara kompleks PG Pajarakan, pernah berdiri sebuah halte trem yang sibuk. Setiap hari, gula, hasil kebun, dan penumpang hilir-mudik mengikuti irama peluit lokomotif. Dari titik itu, trem bergerak menuju Kraksaan, Paiton, hingga Kota Probolinggo.

Halte tersebut bukan sekadar tempat naik-turun penumpang. Melainkan nadi pengangkutan barang dan orang yang menghubungkan desa, pabrik, dan pelabuhan.

Kini, wajahnya berubah total. Rel telah lama raib. Bangunan halte tak lagi utuh. Bahkan, fungsinya pun berganti.

KENANGAN: Kondisi halte trem PG Pajarakan yang berada di tepi jalan tampak mengenaskan. Bangunannya hampir tidak berbentuk.
KENANGAN: Kondisi halte trem PG Pajarakan yang berada di tepi jalan tampak mengenaskan. Bangunannya hampir tidak berbentuk.

Lokasi yang dulunya menjadi persinggahan trem uap, sekarang menjadi halte bus.

Penggunanya adalah warga yang hendak menuju Bermi, Krucil, atau sekadar menunggu angkutan kota.

Tak banyak yang menyadari, di titik itulah, sejarah pergerakan ekonomi Probolinggo pernah berdenyut kencang.

Keberadaan halte trem PG Pajarakan tak bisa dilepaskan dari jaringan trem Probolinggo Stoomtram Maatschappij (PbSM).

Perusahaan trem swasta ini menjadi tulang punggung transportasi wilayah Probolinggo pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Trem bukan hanya alat angkut.

Melainkan simbol modernitas kolonial yang menjangkau pabrik-pabrik gula di kawasan tapal kuda.

Dalam catatan PT Kereta Api Indonesia (KAI), Stasiun Trem Kraksaan diresmikan bersamaan dengan pembukaan jalur trem Gending-Jabung sepanjang 19 kilometer pada 1 Mei 1897.

Jalur ini menjadi salah satu tulang punggung pengangkutan hasil industri gula di Probolinggo.

Modal awal yang digelontorkan PbSM mencapai 900 ribu gulden-jumlah yang jika dikonversikan ke nilai rupiah saat ini, setara diangka kisaran Rp 7 miliar.

Saham perusahaan tersebut terbagi menjadi 900 lembar. Masing-masing bernilai 1.000 gulden.

PbSM menjadi operator utama yang menghubungkan Paiton hingga Pelabuhan Probolinggo.

Di sepanjang lintasan itu, berdiri sejumlah stasiun dan halte, termasuk halte trem di kawasan PG Pajarakan.

“Pendiri trem saat itu berharap, keberadaan trem dapat memenuhi kebutuhan transportasi yang murah, cepat, dan aman antarkota. Rutenya dari Paiton hingga Pelabuhan Probolinggo,” kata Humas KAI Daop 9, Cahyo Widiantoro.

Harapan itu bukan tanpa alasan. Wilayah Probolinggo kala itu dikenal sebagai sentra industri gula.

Setidaknya ada tujuh pabrik gula besar yang beroperasi. Yakni PG Wonolangan, PG Gending, PG Pajarakan, PG Kandangjati, PG Jabung, PG Bago, dan PG Paiton.

Semua membutuhkan sarana angkut yang efisien untuk mengirim gula ke pelabuhan.

 

Jadi Angkutan Vital

Peran trem sangatlah vital kala itu. Karena menjadi sarana pengangkutan barang dan orang.

Tak kalah pentingnya, adalah keberadaan halte trem PG Pajarakan. Karena dari kawasan pabrik, gula diangkut ke halte, lalu diteruskan dengan trem menuju stasiun-stasiun besar dan akhirnya ke pelabuhan.

Selain gula, trem juga mengangkut hasil pertanian dan perkebunan warga sekitar. Mulai dari padi hingga kapuk randu.

Tak hanya barang. Manusia pun bergerak. Halte trem PG Pajarakan menjadi titik naik-turun pekerja pabrik, pedagang, hingga warga desa yang hendak ke Kraksaan atau Kota Probolinggo.

Jalur ini juga terhubung dengan Stasiun Kraksaan, yang saat itu melayani sedikitnya 12 kali perjalanan trem setiap harinya.

Rinciannya, satu kali perjalanan pulang-pergi (PP) Kraksaan-Paiton, satu kali PP Probolinggo-Kraksaan, serta empat kali PP perjalanan trem dari Probolinggo ke Paiton.

Ritme perjalanan itu menjadikan kawasan sekitar halte hidup sejak pagi hingga sore.

“Letak Stasiun Kraksaan yang telah diresmikan dinilai cukup strategis. Di sisi barat stasiun terdapat beberapa fasilitas, seperti rumah asisten residen, rumah kepala distrik, Pegadaian, rumah sakit, sekolah Eropa, sekolah pribumi, dan kantor pos,” jelas Humas KAI Daop 9, Cahyo Widiantoro.

Penumpang trem PbSM kala itu dibagi dalam dua kelas. Kelas 1 diperuntukkan bagi pegawai sipil Eropa, pegawai pribumi berpangkat tinggi, serta orang kaya dari kalangan Eropa dan Tiongkok.

Sementara Kelas 2 digunakan oleh orang Eropa dan Tiongkok yang kurang mampu, serta masyarakat pribumi.

Pembagian kelas itu tentu berimbas pada harga tiket. Pada tahun 1900, tarif perjalanan trem Probolinggo-Kraksaan untuk Kelas 2 dipatok 30 sen.

Jika melanjutkan hingga Paiton, penumpang harus membayar 40 sen. Sedangkan dari Kraksaan ke Paiton cukup membayar 15 sen.

Waktu tempuhnya pun terbilang cepat untuk ukuran masa itu. Dari Kraksaan ke Paiton memakan waktu sekitar satu jam.

Sementara perjalanan Probolinggo-Kraksaan ditempuh dalam 1 jam 10 menit.

Kecepatan rata-rata trem mencapai 5 kilometer per jam cukup stabil untuk angkutan barang dan manusia.

Barang utama yang diangkut adalah gula dari Pabrik Gula Kandangjati dan pabrik gula lainnya, termasuk PG Pajarakan.

Namun seiring waktu, hasil pertanian lain ikut meramaikan gerbong trem. Pada Agustus 1924, Kraksaan tercatat sebagai salah satu wilayah penghasil padi yang cukup besar, bahkan menjadi penopang pasokan ke wilayah Pasuruan.

“Untuk hasil kebun, yang banyak diusahakan adalah kapuk randu. Semua diangkut menggunakan trem. Barang tersebut kemudian dibawa ke Pelabuhan Probolinggo. Sebaliknya, barang kebutuhan masyarakat atau pabrik gula dibawa dari pelabuhan dan didistribusikan menggunakan trem,” terangnya.

 

Runtuhnya Kejayaan Transportasi Trem

Kejayaan transportasi trem tak berlangsung selamanya. Tahun 1943 menjadi penanda surutnya transportasi trem di Probolinggo.

Pendudukan Jepang mengubah segalanya. Jalur trem mulai dibongkar, lokomotif dihentikan, dan rel-rel dicabut.

“Semasa pendudukan Jepang, jalur trem Jabung-Paiton sepanjang lima kilometer dibongkar oleh tentara Jepang. Bahkan beberapa rel dibawa ke Thailand dan Myanmar,” jelas Humas KAI Daop 9, Cahyo Widiantoro

Pembongkaran itu memutus urat nadi transportasi trem. Termasuk halte trem PG Pajarakan yang perlahan kehilangan fungsi.

Aktivitas pengangkutan beralih ke moda lain. Bangunan halte tak lagi terawat, lalu berganti fungsi mengikuti kebutuhan zaman.

Kini, kawasan itu tak lagi dipenuhi aroma gula dan suara mesin uap. Yang terdengar hanyalah deru sepeda motor dan percakapan penumpang bus desa.

Halte trem PG Pajarakan telah menjelma menjadi halte bus biasa tanpa papan penanda sejarah, tanpa jejak rel yang tersisa.

Namun bagi sebagian warga dan pemerhati sejarah lokal, tempat itu tetap menyimpan cerita.

Bahwa dari titik sederhana di utara PG Pajarakan, pernah mengalir pergerakan ekonomi, sosial, dan budaya yang menghubungkan desa-desa di Probolinggo dengan dunia luar.

Jejak halte trem PG Pajarakan memang tak kasat mata. Tapi ia hidup dalam narasi sejarah menjadi pengingat bahwa Probolinggo pernah memiliki sistem transportasi yang maju pada masanya.

Sebuah bab penting yang kini hanya bisa ditelusuri lewat arsip, cerita, dan sisa ruang yang terus berubah. (mu/one)

Editor : Jawanto Arifin
#trem #transportasi #kereta api #pabrik gula #pg pajarakan