MASYARAKAT Kabupaten Probolinggo tentunya tidak asing lagi dengan RSUD Waluyo Jati.
Rumah sakit tipe B ini rupanya memiliki sejarah panjang, hingga kini fasilitas maupun layanannya semakin lengkap.
Cikal-bakal rumah sakit ini bermula dari berdirinya Rumah Sakit Umum (RSU) Kraksaan yang berlokasi di sebelah utara Alun-Alun Kraksaan tepatnya di Jalan Rengganis.
Sebagai pusat layanan kesehatan masyarakat, rumah sakit ini juga sering disebut RS Rengganis.
“RS Kraksaan berdiri sekitar tahun 1950-an. Memang sudah menjadi rujukan untuk mendapatkan layanan kesehatan saat itu,” kata Direktur RSUD Waluyo Jati, Dr. dr. Hj. Yessi Rahmawati, Sp.OG(K), MH, MKes, FISQua.
Namun saat itu, pemberian layanan kesehatan hanya menyentuh kalangan tertentu yang tinggal di sekitar pusat kota.
Sementara untuk masyarakat yang tinggal di desa, hanya beberapa saja yang memanfaatkan RS Kraksaan ini.
Sebab pengetahuan masyarakat tentang peran rumah sakit masih cukup terbatas.
Sehingga, pada umumnya masyarakat masih percaya pada dukun dan mantri yang tinggal di desa dekat dengan tempat tinggal.
Seiring dengan perkembangan zaman, pengetahuan masyarakat tentang peran rumah sakit sebagai pusat layanan kesehatan semakin berkembang.
Kondisi inilah yang kemudian membuat masyarakat banyak berobat ke rumah sakit dan RS Kraksaan semakin banyak dikunjungi pasien.
Hingga pada akhirnya, sekitar tahun 1979 dorongan membangun rumah sakit baru muncul.
Saat itu RSU Kraksaan difungsikan sebagai tempat rawat inap pasien. Kebutuhan pengobatan masyarakat semakin kompleks, sehingga menuntut layanan rumah sakit lebih memadai dan maju.
Pengembangan rumah sakit kala itu, tidak bisa dilakukan satu lokasi dengan bangunan induk.
Selain lokasinya yang sempit, kondisi bangunan yang ada kurang memadai. Sehingga sulit untuk dikembangkan.
Akhirnya Pemerintah Kabupaten Probolinggo memutuskan mencari lahan untuk membangun rumah sakit yang lebih representatif.
Lahan sekitar 35.000 persegi yang terletak di Kelurahan Kandangjati Kulon, Kecamatan Kraksaan, menjadi lokasi baru pembangunan rumah sakit.
“Kebutuhan layanan kesehatan semakin kompleks. Perlu rumah sakit yang representatif. Setelah melalui pertimbangan yang matang akhirnya dibangunlah rumah sakit baru,” ucapnya.
Dokter Yessi-sapaannya-menjelaskan kondisi awal rumah sakit setelah dibangun, memang belum lengkap.
Baru memiliki ruangan Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan beberapa ruangan poli yang hanya bisa melayani pasien rawat jalan.
Sementara untuk rawat inap pasien, masih tetap diarahkan ke RSU Kraksaan. Hingga akhirnya, pembangunan sarana dan prasarana ditingkatkan.
Dokter dan tenaga kesehatannya dipenuhi. Barulah sepenuhnya layanan rumah sakit dipindahkan ke RSUD Waluyo Jati.
Dokter yang sejak awal kariernya berdinas di RSUD Waluyo Jati ini menambahkan, bahwa pemberian nama rumah sakit juga memiliki makna dan harapan yang cukup dalam.
Nama rumah sakit diambil dari dua kata bahasa Jawa. Yakni Waluyo artinya keselamatan dan Jati artinya sejati.
Dalam konteks kesehatan dapat diartikan, kesehatan adalah keselamatan sejati.
RSUD Waluyo Jati kemudian diresmikan tanggal 6 Januari 1982. Serta ditetapkan sebagai Rumah Sakit Kelas C Non Pendidikan (berdasarkan dokumen profil yang merujuk SK Menkes No.105/MENKES/SK/II/1988 dan Instruksi Gubernur No.26/1983).
Seiring dengan berjalannya waktu, sejak 2021 lalu, RSUD Waluyo Jati kemudian menjadi rumah sakit kelas B atau tipe B.
“Menyempurnakan rumah sakit tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh proses panjang, dari RSU Kraksaan kini menjadi RSUD Waluyo Jati yang lebih representatif,” tandasnya.
Lengkapi Fasilitas Penunjang Layanan
RSUD Waluyo Jati kini menjelma sebagai rumah sakit jujukan masyarakat Kabupaten Probolinggo dan sekitarnya.
Karena itu, rumah sakit setempat dituntut untuk memiliki fasilitas, sarana dan prasarana yang baik.
Serta manajemen yang visioner. Sehingga keberadaan rumah sakit dapat memenuhi kebutuhan layanan kesehatan masyarakat yang juga semakin kompleks.
Direktur RSUD Waluyo Jati, Dr. dr. Hj. Yessi Rahmawati, Sp.OG(K), MH, MKes, FISQua mengatakan peningkatan mutu layanan dan keselamatan pasien serta penguatan sarana dan prasarana terus dilakukan.
Sehingga keberlanjutan layanan tetap terjaga dan kepercayaan publik semakin kuat.
“Untuk layanan kesehatan dan sarana prasarana, tentunya terus dilengkapi. Menyesuaikan kebutuhan dan tantangan dunia medis kedepan,” katanya.
Beberapa layanan saat ini yang telah dikembangkan, mulai Gedung Cath Lab dan ICVCU yang lengkap dan telah menyelesaikan uji komisioning dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Unit Hemodialisa (HD) atau cuci darah yang masuk tahap menunggu visitasi dari Kemenkes RI.
Serta, layanan laser mata, Endoskopi THT, dan Laser Kulit di Poli Eksekutif. Kemudian, ada layanan Vaksin Internasional, Radiologi Mammografi yang melengkapi CT Scan 128 Slices.
Di rumah sakit setempat, juga ada Stroke Unit dengan dokter dan perawat terlatih, Poli Jiwa dan Ruang Rawat Inap Jiwa yang telah berjalan dan melahirkan gagasan baru.
Serta Gedung Rekam Medik terintegrasi dengan ruang poliklinik tambahan, dilengkapi ruang Gym.
“Dalam mendukung transformasi Jaminan Kesehatan Nasional, RSUD Waluyo Jati juga telah memenuhi lebih dari 60 persen standar Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) BPJS sebagai bentuk kesiapan bertahap dalam meningkatkan kenyamanan pasien,” bebernya.
Dokter Yessi-sapaannya-menguraikan, tidak hanya fokus pada aspek medis, RSUD Waluyo Jati terus menguatkan layanan humanis dan religius.
Diantaranya melalui Program Sedekah Gratis Setiap Hari, Nasi Sedekah Berkah setiap Jumat, Khotmil Qur’an setiap Jumat Manis, serta pembangunan musholla tambahan dan toilet.
Hal ini merupakan implementasi dari nilai WJ SATIA (Sambut istimewa pasien dan keluarga) dan penguatan budaya layanan BUGARR (Bersih, unggul, gerak cepat, aman, ramah dan rapi).
Konsep BUGARR juga diwujudkan melalui penataan lingkungan rumah sakit yang bersih, asri, dan nyaman.
Mulai pembangunan taman, ruang sitotoksik sesuai standar keselamatan, pembaruan kamar jenazah yang bermartabat, serta doorlop atau konektor antar gedung yang bersih, rapi dan estetik.
“Selain itu RSUD Waluyo Jati juga meluncurkan layanan pengaduan BUNDA CARE. Layanan ini memastikan setiap komplain ditangani secara cepat, tepat, dan solutif, sehingga menciptakan pengalaman layanan yang semakin nyaman dan terpercaya,” tukasnya. (ar/one)
Editor : Jawanto Arifin