STADION Untung Suropati (Unsur) yang menjadi kebanggaan masyarakat Kota Pasuruan memiliki sejarah panjang.
Dibangun di zaman pemerintahan Hindia Belanda, stadion ini telah berumur 91 tahun. Dulunya stadion ini memiliki lahan luas yang digunakan untuk masyarakat berolahraga.
Ahmad Budiman Suharjono, pemerhati Sejarah Pasuruan menuturkan sebagai daerah yang ditetapkan sebagai gemeente atau kotapraja pada 1918, Kota Pasuruan baru memiliki seorang pejabat "wali kota" atau burgemeester. Pada 1928, yang ditunjuk sebagai burgemeester yaitu meneer "H.E. Boussevain".
Dengan memiliki wali kota sendiri untuk pertama kalinya, "Gemeente Pasoeroean" berubah menjadi "Stadsgemeente Pasoeroean".
Tercatat sebagai wali kota pertama, Boussevain segera membuat gebrakan. Yakni dengan membeli komplek Hotel Morbeck yang legendaris.
Salah satu bangunan hotel, segera diubah menjadi "Gemeentehuis" atau "gedung Balaikota" atau "gedung Kotapraja".
Sedangkan bangunan hotel lainnya, direnovasi dan tetap digunakan sebagai hotel dengan manajemen baru.
Cikal bakal Stadion Unsur, bermula pada 1932. Pemerintah kota pada masa itu, membeli sebuah lahan kosong di heerenstraat, sebelah selatan rumah dinas residen Pasuruan.
Lahan itu lantas dibangun menjadi kawasan olahraga bagi masyarakat Kota Pasuruan.
Kawasan ini disebut dengan nama sport park atau stadion. Lahannya berdekatan dengan makam kuno keluarga Bupati Pasuruan.
Mulai dari ibu Nyai Beri, hingga ibunda dari Raden Grudo yang dikenal sebagai Nitiadiningrat I.
"Pemerintah pada masa itu, membeli lahan agar masyarakat bisa berolahraga. Dan kebetulan keluarga bupati tidak keberatan dengan pembangunan ini," katanya.
Terdapat fasilitas utama sebagai lapangan sepak bola, serta track untuk olahraga lari di sekelilingnya.
Selain untuk lari, track ini tercatat pernah dipergunakan juga untuk lomba pacuan kuda. Pembangunannya dilakukan beberapa bulan saja.
Tentunya, pemerintah pada masa itu juga memugar makam kuno tersebut. Pagar dan dinding makam turut diperbaiki. Sekitar 4 Juni 1932, sport park ini rampung dibangun.
Stadion itu lantas diresmikan dengan ditandai adanya pertandingan persahabatan.
Pemerintah memgadakan pertandingan sepak bola antara klub H.B.S dan Zeemacht.
Kedua klub ini asal Kota Surabaya. Dan dimenangkan oleh Zeemacht dengan skor 3-2. Zeemact diganjar piala yang disediakan oleh pabrik rokok Faroka asal Kota Malang.
"Sejak saat itu, sport park ini bebas digunakan oleh masyarakat untuk berolahraga. Termasuk bermain bola," jelas Budiman.
Masuk Objek Diduga Cagar Budaya
Sport Park yang kini dikenal sebagai Stadion Unsur ini, memiliki luasan yang berbeda dengan saat awal dibangun.
Pada masanya, stadion itu memiliki luas lapangan dua kali luas saat ini. Meski sudah berubah, namun stadion ini patut menjadi objek diduga bangunan cagar budaya (ODCB).
Ahmad Budiman Suharjono, pemerhati sejarah Pasuruan menuturkan stadion ini mengalami perubahan dibandingkan saat dibangun pertama kali.
Stadion lama lebih luas. Luasnya mencapai dua kali luas stadion saat ini. Tidak hanya memiliki lapangan dalam, tapi juga lapangan luar.
Luas stadion dalam relatif tetap. Tapi, stadion atau lapangan luar sudah tidak ada.
Dan sekarang menjadi kantor Balai Kota Pasuruan di Jalan Pahlawan. Kemungkinan perubahan ini terjadi pada 1990-an.
Saat itu, kantor balaikota lama di jalan Balaikota dipindah ke kantor balaikota yang ada saat ini.
Dahulu, lapangan luar ini juga dipakai sebagai lapangan sepak bola. Serta digunakan sebagai lapangan Bola Keranjang (Korfball), salah satu olah raga populer zaman Belanda tempo dulu.
Meski lapangan luar sudah tidak berbekas, tapi lapangan dalam masih utuh dan tidak berubah.
"Perubahannya, tidak adanya lapangan luar. Lapangan ini dibangun menjadi kantor balaikota yang terletak di utara stadion saat ini," jelasnya.
Budiman mengakui untuk bangunan stadion, memang sudah banyak berubah. Seperti pagar, atap atau tribun penonton.
Namun, luas lapangan di stadion ini, tidak berubah. Stadion ini bisa disebut sebagai ODCB. Karena sudah berusia lebih dari 50 tahun.
"Kalau bangunannya memang sudah berubah. Tapi bisa menjadi ODCB. Karena stadion ini sudah berumur lebih dari 50 tahun," tukas Budiman.
Digunakan Berbagai Event Olahraga
Di masa kini, Stadion Unsur menjadi stadion kebanggan Kota Pasuruan. Stadion ini dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan olahraga masyatakat.
Seperti pertandingan bola hingga menjadi kandang dari klub kebanggaan Kota Pasuruan, Persekap.
Beberapa kali stadion ini juga menjadi tempat komersial. Dengan disewakan oleh pemkot melalui Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora). Beberapa kali pula, stadion ini digunakan oleh komunitss olahraga.
Seperti umumnya stadion, Stadion Unsur memiliki sejumlah fasilitas. Mulai lapangan bola, tribun penonton, toilet, hingga lintasan atletik.
Stadiom ini bisa muat untuk 5 ribu penonton. Untuk menjaga kondisinya, pemkot mengalokasikan anggaran pemeliharaan setiap tahunnya.
Ahmad Budiman Suharjono, pemerhati sejarah Pasuruan menyebut sepengetahuannya dahulu, setiap pagi orang boleh masuk untuk berolahraga.
Mereka biasanya lari berkeliling lapangan. "Kalau dulu biasanya banyak orang berolahraga tiap hari," jelas Budiman. (riz/one)
Editor : Jawanto Arifin