Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Pulau Gili Ketapang, Surga di Kabupaten Probolinggo yang Penuh Sejarah

Inneke Agustin • Minggu, 26 Oktober 2025 | 17:55 WIB
MENDARAT: Sebuah pesawat amfibi Van Berkel WA milik MLD (bernomor W4), yang dibuat oleh pabrik mesin pemotong Van Berkel’s Patent di Rotterdam, saat sedang mendarat di depan Pulau Ketapang.
MENDARAT: Sebuah pesawat amfibi Van Berkel WA milik MLD (bernomor W4), yang dibuat oleh pabrik mesin pemotong Van Berkel’s Patent di Rotterdam, saat sedang mendarat di depan Pulau Ketapang.

SIAPA yang tak tahu Pulau Gili Ketapang? Pulau ini, bak surga pasir putih dari Kabupaten Probolinggo. Pada peta tahun 1707, 1711, 1718, 1724 hingga 1728, pulau ini terlihat jelas.

“Dulu nama pulaunya masih Pulau Atol yang terbentuk dari gugusan karang di lautan,” kata Edi Martono, pegiat sejarah Kota Probolinggo dari komunitas Pojok Literasi.

Edi mengatakan, terdapat foto pendaratan Belanda di pantai pulau Gili Ketapang sekitar tahun 1919. Saat itu, mereka menggunakan pesawat amfibi.

“Jadi kalau dihitung usianya sudah 50 tahun lebih. Posisi Pulau Gili Ketapang tidak menjadi lebih dekat atau semakin menjauh, masih sama dengan peta sebelumnya,” tuturnya.

Hal tersebut diperkuat adanya foto dokumentasi dari media KITLV Belanda yang menunjukkan sebuah pesawat amfibi tahun 1926.

Foto itu berjudul Een Van Berkel WA watervliegtuig van de MLD (nummer W4), gebouwd door snijmachinefabriek van berkel`s patent te Rotterdam, bij de landing voor het eiland Ketapang.

PETA: Peta yang menunjukkan Pulau Gili Ketapang juga dibuat oleh Henri Abraham Chatelain dan dipublikasikan pada tahun 1719. Nama pulau itu ditulis Poelo Catapang yang berada di utara Baleba.
PETA: Peta yang menunjukkan Pulau Gili Ketapang juga dibuat oleh Henri Abraham Chatelain dan dipublikasikan pada tahun 1719. Nama pulau itu ditulis Poelo Catapang yang berada di utara Baleba.

“Artinya kurang lebih sebuah pesawat amfibi Van Berkel WA milik MLD (bernomor W4), yang dibuat oleh pabrik mesin pemotong Van Berkel’s Patent di Rotterdam, saat sedang mendarat di depan Pulau Ketapang,” imbuh Edi.

Ada pula sebuah foto di KITLV yang berjudul Een alis-alis op het eiland Ketapang pada tahun 1926.

Yang artinya, sebuah alis-alis di Pulau Ketapang pada tahun 1926.

Istilah “alis-alis” dalam konteks Belanda-Indonesia lama, kemungkinan merujuk pada perahu kecil tradisional atau jenis perahu layar sederhana yang digunakan di perairan pesisir Jawa dan Madura

Meski demikian, Pulau Gili Ketapang nampak lebih mendekat. Karena kondisi perairan di pantai utara Kota Probolinggo saat itu, berbeda dengan masa kini.

“Kalau dulu kan masih asri dan bening airnya. Sementara sekarang airnya lebih keruh, jadi tampak seolah berpindah,” ujarnya.

Pada peta yang dibuat oleh Samuel Thornton seorang cartographer Inggris tahun 1711, tampak sebuah pulau di dekat Caleba atau Banger yang saat ini menjadi Kota Probolinggo. Pulau tersebut bernama Pulau Katopangen.

Lokasinya juga berdekatan dengan Drien Gien atau Dringu serta Padiarkan atau Pajarakan.

Tak hanya Samuel, peta yang menunjukkan Pulau Gili Ketapang juga dibuat oleh Henri Abraham Chatelain dan dipublikasikan pada tahun 1719. Nama pulau itu ditulis Poelo Catapang yang berada di utara Baleba.

Foto Pulau Gili Ketapang juga dapat dilihat pada Topographische kaart der afdeelingen Probolinggo, Kraksaän en Loamadjang van de residentie Pasoeroean opgenomen ingevolge gouvernements besluit van den 6den juli 1866 No.8 in de jaren 1875-1880.

Catatan tentang pulau Gili Ketapang pada Carmelrozen; geïllustreerd maandschrift gewijd aan de vereering van Maria, jrg 16, 1927, no. 4 tahun 1927-08 oleh P. Linus Henckens, O.Carm, misionaris di Jawa Timur.

Dalam tulisan tersebut menceritakan bahwa di depan pelabuhan Probolinggo terdapat sebuah pulau kecil yang bernama Poelau Ketapang.

Luasnya tidak lebih dari 125 hektare dan penduduk sekitar 1.400 orang Madura yang hidup tenang dan damai menjalankan pekerjaan kesayangan mereka, yaitu menangkap ikan.

BUKTI SEJARAH: Catatan tentang pulau Gili Ketapang pada Carmelrozen; geïllustreerd maandschrift gewijd aan de vereering van Maria, jrg 16, 1927, no. 4 tahun 1927-08 oleh P. Linus Henckens, O.Carm.
BUKTI SEJARAH: Catatan tentang pulau Gili Ketapang pada Carmelrozen; geïllustreerd maandschrift gewijd aan de vereering van Maria, jrg 16, 1927, no. 4 tahun 1927-08 oleh P. Linus Henckens, O.Carm.

“Beberapa kali kami sudah melihat pulau kecil itu dari dermaga. Dan setiap kali muncul keinginan untuk pergi ke sana dan melihatnya secara langsung. Suatu pagi, perjalanan itu akhirnya kami lakukan dengan perahu layar. Bersama seorang pelaut tua dan beberapa kuli Madura yang gagah, kami berangkat dari pantai, berlayar melewati dermaga, dan mencapai laut lepas. Saat itu pukul sembilan pagi, matahari tropis bersinar terik di langit, sementara permukaan laut memantulkan panas yang menyengat,” tulisnya.

Mereka tidak membawa banyak bekal makanan. Hanya minuman penyegar. Sebab jarak antara pelabuhan dan pulau itu dengan angin yang cukup baik, bisa ditempuh dalam waktu satu jam. Dan mereka berharap sudah kembali sebelum tengah hari.

“Dalam waktu kurang dari satu jam kami tiba di pulau itu. Namun tidak bisa langsung mendarat, karena air laut di sepanjang pantainya terlalu dangkal. Kami pun harus berpindah ke perahu kecil (vlerkprauw) yang akan membawa kami ke darat,” terangnya.

Kedatangan mereka menimbulkan rasa ingin tahu penduduk. Warga berdatangan dari segala arah, karena sepertinya belum pernah ada seorang pastor yang menginjakkan kaki di sana.

Seolah hal itu, menjadi sebuah peristiwa besar dalam kehidupan mereka yang tenang.

“Diikuti oleh anak-anak dan diperhatikan oleh orang-orang tua yang mengintip dari balik pagar bambu rendah rumah mereka, kami berjalan-jalan di `surga dunia` kecil itu,” kisahnya.

Bagaimana rupanya? Pastor tersebut menggambarkan Pulau Gili Ketapang tampak tandus dan kering.

Tanahnya gersang dan hanya bisa menghasilkan sedikit tanaman seperti jewawut, kacang-kacangan, dan jagung.

Pohon kelapa dan pisang, yang biasanya banyak tumbuh di tanah Hindia, tidak dapat hidup di sana saat itu. “Hanya dua pohon sirsak yang menjadi keunikan setempat,” tuturnya.

 

Jadi Jujukan Wisatawan Lokal dan Asing

Puluhan tahun setelahnya, Pulau Gili Ketapang juga mulai berubah dan berkembang. Kini masyarakatnya mencapai 2900 KK yang didominasi oleh suku Madura.

“Kebanyakan mereka bekerja sebagai nelayan dan pelaku pariwisata. Sebab di sini ada spot snorkeling juga,” kata Kepala Desa Gili Ketapang, Badrul Munir.

Munir mengatakan, lokasi snorkeling tersebut ada di sisi selatan dan utara pulau. Di Desa Gili Ketapang sendiri ada 15 pengelola wisata tersebut.

Tiap minggunya, ada saja wisatawan yang menikmati liburannya di pulau berpasir putih ini.

“Ada yang wisatawan lokal, ada juga yang wisatawan asing. Kalau wisatawan asing ini bisa dua hingga empat orang. Kadang bisa 10 orang tiap minggunya. Mereka ke sini hendak berkeliling pulau atau snorkeling,” ungkapnya.

SNORKELING: Seorang wisatawan saat melakukan snorkeling di Pulau Gili Ketapang, Kabupaten Probolinggo.
SNORKELING: Seorang wisatawan saat melakukan snorkeling di Pulau Gili Ketapang, Kabupaten Probolinggo.
SPOT FOTO: Salah satu spot foto menarik berlatar belakang pantai di Pulau Gili Ketapang, Kabupaten Probolinggo.
SPOT FOTO: Salah satu spot foto menarik berlatar belakang pantai di Pulau Gili Ketapang, Kabupaten Probolinggo.

Adanya wisata bahari sejak tahun 2016 ini, membuat Pulau Gili bertumbuh pesat.

Termasuk dari segi fasilitas. Seperti kamar mandi umum, kafe, hingga penginapan. Sayangnya pada 2018, sejumlah homestay harus tutup.

“Sekarang kalau para wisatawan hendak menginap, harus kembali ke kota,” ujarnya.

Masyarakat Pulau Gili Ketapang seluruhnya beragama Islam. Meski dalam catatan sejarah, pernah menceritakan adanya seorang pastor yang ke pulau tersebut. Pada awal 2000-an, jaringan listrik belum masuk ke desa ini.

“Masyarakat masih pakai diesel yang ada di rumah-rumah warga. Itupun hanya bertahan enam jam,” imbuhnya.

Sementara untuk air minum, jaringan PDAM baru masuk pada tahun 2011. Sebelumnya untuk air minum, masyarakat harus membeli air galon yang disuplai dari Pelabuhan Tanjung Tembaga dan dibawa oleh kapal-kapal nelayan.

“Sementara air sumur digunakan untuk cuci pakaian saja, karena airnya payau. Sekarang sudah lebih nyaman, pakai PDAM,” papar Munir. (gus/one)

Editor : Jawanto Arifin
#kabupaten probolinggo #pulau gili ketapang #sejarah #snorkeling