DUNIA mungkin hanya mengenal Alkmaar sebagai kota di Belanda. Tapi bagi masyarakat sekitar Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan, nama itu bukan sekadar asing dari negeri jauh.
Di telinga warga tua, sebutan itu masih akrab. Meski kini berubah pelafalan menjadi Lekemar, menyesuaikan lidah Jawa yang lembut dan bersahaja.
Konon, Alkmaar adalah nama kolonial untuk wilayah Purwosari atau Purworedjo tempo dulu.
Nama itu dilekatkan, karena di sana berdiri sebuah pabrik gula besar, Suikerfabriek Alkmaar, yang menjadi salah satu penopang ekonomi kolonial di timur Jawa pada akhir abad ke-19.
Saat itu, Pasuruan adalah tanah emas bagi industri gula. Hamparan ladang tebu diapit pabrik-pabrik besar seperti Wonorejo, Bekasi Oost, Plered, hingga yang masih bertahan sampai sekarang, PG Kedawung.
Di antara ladang dan cerobong asap yang dahulu mengepul, berdiri pula jaringan rel trem yang menjadi urat nadi pergerakan ekonomi: Pasoeroean Stoomtram Maatschappij (PsSM).
Maskapai perkeretaapian swasta ini berdiri di penghujung abad ke-19. Ketika uap, besi, dan gula bersatu membentuk denyut kemakmuran Hindia Belanda.
Sebelum PsSM hadir, jaringan utama milik Staats Spoorwegen (SS) sudah lebih dahulu menembus wilayah Pasuruan pada dekade 1870-an, melalui lintasan Bangil–Malang dan Bangil–Probolinggo.
Namun jalur itu hanya menghubungkan kota-kota besar di pesisir, belum menjangkau pedalaman yang justru menyimpan pabrik-pabrik gula terbesar.
Pemerhati sejarah perkeretaapian, Navy Eka Pattiruhu, menjelaskan bahwa kelahiran PsSM tak lepas dari kebutuhan industri gula terhadap akses transportasi yang efisien.
“Rel-rel utama Staats Spoorwegen tidak cukup untuk menopang industri gula Pasuruan yang tersebar di pedalaman. Maka lahirlah PsSM, perusahaan lokal yang dibentuk khusus untuk melayani pabrik-pabrik gula,” ujarnya.
Rel Uap dan Jalur Manis PsSM
PsSM memperoleh konsesi resmi lewat Keputusan Gubernur Hindia Belanda (Gouverneur Besluit) 25 September 1896 No.18.
Tak lama setelah izin keluar, pembangunan dimulai dari jalur Pasuruan–Warungdowo–Winongan sepanjang 16 kilometer.
Jalur ini rampung antara 1896–1898, lengkap dengan cabang menuju Pelabuhan Pasuruan, yang digunakan untuk memudahkan ekspor gula ke Surabaya dan Batavia.
Pembangunan terus berlanjut. Pada 1899, segmen Warungdowo–Wonorejo sepanjang 11 kilometer mulai beroperasi.
Disusul Wonorejo–Bakalan sejauh 12 kilometer pada tahun yang sama. Jalur kemudian diperpanjang hingga PG Alkmaar (Purwosari) dan rampung pada 1900.
“Peresmian segmen Bakalan–Passer Alkmaar berlangsung pada 8 Mei 1901, bersamaan dengan pembukaan Stasiun Alkmaar. Dari sinilah, hasil gula dari berbagai pabrik di sekitar Purwosari dikirim menuju pelabuhan,” jelas Navy Eka, pemerhati sejarah perkeretaapian.
Namun cita-cita PsSM sejatinya lebih besar. Berdasarkan konsesi awal tahun 1896, jalur trem direncanakan membentang hingga Sengon, melalui lintasan Warungdowo–Alkmaar–Sengon.
Tetapi rencana itu kandas, setelah Keputusan Gubernur 5 Oktober 1914 No.35, mencabut izin pembangunan segmen Purwosari–Sengon tanpa alasan jelas.
Meski begitu, PsSM tetap mencari cara. Mereka membangun rel lori Decauville bersepur 700 mm untuk menghubungkan PG Alkmaar dengan Stasiun Sengon.
Rel ini digunakan khusus untuk mengangkut gula mentah dan tetes dari pabrik ke jalur utama sebelum dikirim ke pelabuhan.
Dalam catatan operasi, PsSM membuka Wonorejo–Bakalan pada 7 Juni 1897, Warungdowo–Wonorejo pada 17 Maret 1899, dan Bakalan–Alkmaar pada 8 Mei 1900.
Selama lebih dari tiga dekade, lintasan itu menjadi urat nadi distribusi hasil tebu dari pedalaman Pasuruan menuju dunia luar.
Namun, kejayaan PsSM perlahan meredup ketika Depresi Besar 1930-an mengguncang dunia.
Banyak pabrik gula gulung tikar, produksi menurun, dan PsSM ikut terhantam. Layanan penumpang Warungdowo–Alkmaar resmi dihentikan pada 1932.
“Ia adalah simbol transformasi ekonomi kolonial di Pasuruan. Lewat jalur-jalur trem itulah gula dari pedalaman pernah menjadi komoditas dunia,” imbuh Navy Eka.
Ketika pendudukan Jepang dimulai tahun 1942, sebagian besar rel PsSM dibongkar.
Besinya dilebur untuk keperluan perang. Setelah kemerdekaan, Djawatan Kereta Api (DKA) berupaya membangun ulang sebagian jalur.
Termasuk segmen Warungdowo–Wonorejo, yang sempat aktif hingga 1976, sebelum akhirnya benar-benar berhenti beroperasi.
Berganti Bangunan Modern
Kini, di tengah lalu lintas padat dan deretan ruko modern di Purwosari, nyaris tak ada lagi yang menunjukkan bahwa wilayah ini pernah menjadi simpul penting perkeretaapian gula di masa kolonial.
Sekretaris Kelurahan Purwosari, Khoiron Hadi, menuturkan, bangunan Stasiun Alkmaar/Purwosari kini tak lagi tersisa.
“Bangunan stasiun sudah hilang, berganti bangunan modern dan beralih fungsi. Seiring dengan penghentian jalur ini pada tahun 1976, jejak fisiknya perlahan hilang berganti jadi ruko-ruko,” ujarnya.
Yang tersisa hanyalah fragmen sejarah berupa peta tua, foto arsip, dan ingatan yang samar.
Sementara, bangunan pabrik gula diperkirakan berada di luar wilayah Kelurahan Purwosari.
“Kalau melihat dari peta Belanda yang dikeluarkan 1920-an, lokasinya di sekitar Puntir yang sekarang menjadi pabrik susu,” tambah Khoiron.
Di beberapa titik, bekas jalur rel memang masih bisa dilacak, lewat kontur tanah yang sedikit menurun atau jalan lurus yang tak lazim mengikuti pola kampung.
Namun tanpa penanda dan dokumentasi resmi, sejarah itu mudah terlupakan.
Meski demikian, upaya mengenang masa lalu tetap dilakukan. Khoiron mengatakan, di Kelurahan Purwosari kini ada Taman Budaya, yang di antaranya menampilkan peta-peta wilayah Alkmaar di masa kolonial.
“Tujuannya tentu untuk edukasi. Agar generasi muda tahu, bahwa Purwosari—atau Alkmaar tempo dulu—pernah memainkan peran penting dalam jaringan ekonomi Jawa Timur,” paparnya. (tom/one)
Editor : Jawanto Arifin