SIAPA sangka, bangunan tua yang kini hanya menyisakan puing-puing di Kelurahan/Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, dahulu pernah berdiri megah sebagai pusat pemerintahan sekaligus benteng pertahanan.
Bangunan bersejarah itu dikenal dengan nama Benteng Mayangan, yang letaknya berada di Jalan Ikan Lumba-Lumba, tak jauh dari pelabuhan.
Berdasarkan penelitian Lukman Hadi Dharma Arief Wiyatno dari Universitas Brawijaya, Kota Probolinggo memang berkembang pesat pada masa penjajahan Belanda.
Pada tahap awal, sebelum tahun 1743, kawasan pesisir Jawa umumnya memiliki pos dagang yang difungsikan sebagai benteng.
Pos ini biasanya dibangun dekat muara sungai atau pelabuhan agar mudah dijangkau kapal-kapal dagang.
Benteng tersebut bukan sekadar pusat perdagangan. Melainkan juga dikelilingi permukiman, gudang, serta fasilitas kota lain. Di selatan benteng terdapat alun-alun, rumah bupati, masjid, dan penjara.
Permukiman warga pribumi hidup berdampingan dengan imigran dari Madura di sebelah barat dan komunitas Tionghoa di sebelah timur alun-alun.
Menariknya, komunitas Tionghoa kala itu, memegang peranan penting dalam pasar domestik.
Sekaligus menjalin kerjasama erat dengan pedagang Eropa, termasuk Belanda.
Pegiat sejarah Kota Probolinggo dari komunitas Pojok Literasi, Edi Martono, menuturkan bahwa sekitar tahun 1743 bangunan ini, masih berupa gudang logistik milik VOC.
“Di dalamnya tersimpan berbagai kebutuhan pokok seperti rempah-rempah, beras, dan gula,” jelasnya.
Pada masa Bupati pertama Probolinggo, Kiai Joyo Lelono gudang ini tetap berfungsi sebagai tempat penyimpanan logistik. Sementara kantor pemerintahan kala itu, berada di Jalan Siaman.
Namun, perubahan besar terjadi pada masa Bupati Djojonegoro. Pusat pemerintahan dipindahkan ke gudang tersebut, yang lokasinya dekat pelabuhan Belanda.
Alasannya sederhana, mempermudah pengawasan dan penarikan pajak. Logistik pun dialihkan ke gudang lain di sekitar lokasi.
“Bangunan utama dipakai untuk kantor pemerintahan. Sementara gudang-gudang di sekitarnya, tetap digunakan sebagai tempat penyimpanan,” kata Edi.
Tahun 1770, pembangunan fasilitas kota semakin berkembang. Masjid Agung, alun-alun, dan pendopo pemerintahan, mulai berdiri di selatan kantor pemerintahan.
Sejak itu, pusat pemerintahan pun berpindah ke pendopo. Sementara bangunan lama, diubah menjadi pusat perdagangan.
Perjalanan panjang bangunan ini berlanjut ketika VOC bubar pada 1799. Aset-asetnya, termasuk gudang ini, diambil alih oleh pemerintahan Hindia Belanda.
Pada periode 1811–1816, ketika Indonesia sempat jatuh ke tangan Inggris, fungsi bangunan pun kembali berubah. Dari pusat perdagangan menjadi benteng pertahanan tentara Inggris.
“Sejak saat itu, orang mulai menyebutnya benteng. Bahkan ada yang menyebutnya gudang amunisi, karena di dalamnya banyak tersimpan senjata milik tentara Inggris,” ungkap Edi.
Benteng Mayangan juga menjadi saksi sebuah peristiwa berdarah yang dikenal dengan Keproek Tjina atau Kepruk Cino pada tahun 1813.
Dalam kerusuhan itu, tokoh Tionghoa Han Tik Ko tewas bersama sejumlah pejabat Inggris.
Menurut catatan The Indian Newspaper edisi 12 Agustus 1925, dua perwira Inggris turut menjadi korban. Mereka adalah Letkol James Freser dan Kapten James Mpherson dari His Majesty’s Highland Regiment.
Hingga kini, makam keduanya masih ada di area benteng dengan batu nisan bertuliskan kata “Sacred”.
Berubah-ubah Fungsi
Pada tahun 1942 hingga 1945, ketika Jepang mulai menjajah Indonesia, Benteng Mayangan kembali mengalami perubahan fungsi.
Dari sebelumnya menjadi benteng pertahanan Inggris dan Belanda, bangunan ini kemudian dialihgunakan sebagai pos logistik militer Jepang.
“Benteng ini menjadi pusat penyimpanan kebutuhan perang, seperti bahan makanan, perlengkapan militer, dan logistik lainnya,” ungkap Ketua RT 05/RW 02 Kelurahan Mayangan, Feri Susanta.
Keberadaannya yang dekat dengan pelabuhan, membuat benteng ini strategis sebagai basis pendukung operasi militer Jepang di wilayah Probolinggo dan sekitarnya.
Seiring dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, benteng ini sempat dikuasai oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Fungsinya pun berubah menjadi salah satu pos pertahanan untuk menjaga kedaulatan negara yang baru berdiri.
Namun masa itu tak berlangsung lama. Pada periode Agresi Militer Belanda (1947–1948), pasukan Belanda berhasil merebut kembali benteng ini.
Selama hampir dua tahun, bangunan tersebut kembali digunakan sebagai markas pasukan kolonial.
“Baru setelah 1948, benteng ini sepenuhnya kembali dikuasai oleh TNI hingga sekarang,” tutur pegiat sejarah dari komunitas Pojok Literasi Kota Probolinggo, Edi Martono.
Jadi Jujukan Wisatawan
Pada masa kini, Benteng Mayangan hanya tersisa puingnya saja. Tak ada atap yang menaungi bagian dalam benteng.
Temboknya pun tak berkulit, menampakkan susunan bata yang ada di dalamnya. Meski demikian, Benteng Mayangan tetap menjadi destinasi wisata sejarah yang menarik untuk dikunjungi.
Tak jarang, tempat ini menjadi jujukan pada turis dalam maupun luar negeri untuk melihat jejak sejarah yang ada di Kota Probolinggo.
Sesekali tempat ini juga menjadi tempat pilihan hunting foto para remaja hingga foto prewed.
Bahkan pada 13 September 2025 lalu, pihak Pemerintah Kota (Pemkot) Probolinggo menggelar pasar VOC untuk menghidupkan kembali suasana tempo dulu di dalam benteng tersebut.
Sejumlah jajanan khas jaman biyen disuguhkan disana, lengkap dengan pertunjukan ala kolonial.
Di panggung utama, musik keroncong, akustik, fashion show dan tari tradisional turut mengiringi kemeriahan dengan latar bangunan benteng kolonial.
Seluruh dekorasi ini semakin menguatkan atmosfer seolah membawa pengunjung kembali ke masa kekuasaan VOC.
Dalam sambutannya, Wali Kota Probolinggo, dr. Aminuddin mengaku bahagia atas terselenggaranya Pasar VOC ini.
Wali kota berharap, festival ini dapat menjadi destinasi wisata baru sekaligus masuk dalam kalender rutin wisata budaya Kota Probolinggo.
“Mudah-mudahan acara pada malam hari ini, bisa betul-betul berkesan. Sehingga masyarakat juga ingin untuk meneruskan kegiatan-kegiatan ini menjadi salah satu kalender wisata di Kota Probolinggo,” harapnya. (gus/one)
Editor : Jawanto Arifin