Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kisah Perjalanan Irsyad Yusuf, dari Parlemen, Bupati, Hingga Fokus Peternakan dan Kebun Kopi

Muhamad Busthomi • Senin, 25 Agustus 2025 | 17:45 WIB
PANTAU: Gus Irsyad saat memantau sapi jenis Limousin yang ada di peternakannya.
PANTAU: Gus Irsyad saat memantau sapi jenis Limousin yang ada di peternakannya.

SETELAH dua periode menjabat Bupati Pasuruan, Irsyad Yusuf kini menemukan dunianya yang baru.

Bukan lagi rapat dinas atau sidang paripurna yang ia jalani setiap hari, melainkan rutinitas sederhana di kandang kambing dan kebun kopi.

Peralihan itu bukan sekadar pelarian, tapi sebuah pilihan yang dilandasi kecintaan lama pada dunia peternakan dan agro.

Di lahan kebunnya di Dusun Canggi, Desa Sekarmojo, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan, Irsyad Yusuf membangun Naviella Farm.

Awalnya, kandang itu hanya tempat untuk kuda milik anaknya, Noval, yang juga atlet berkuda.

Namun, seiring waktu, kandang tersebut berkembang menjadi pusat usaha peternakan kambing perah, breeding dan penggemukan sapi. Kini ada sekitar 150 ekor kambing yang ia budi daya.

Photo
Photo
TEKUNI USAHA: Irsyad Yusuf dan kolega di Naviella Farm. Saat ini, mantan Bupati Pasuruan tersebut fokus untuk menekuni usahanya di sektor peternakan kambing dan perkebunan kopi.
TEKUNI USAHA: Irsyad Yusuf dan kolega di Naviella Farm. Saat ini, mantan Bupati Pasuruan tersebut fokus untuk menekuni usahanya di sektor peternakan kambing dan perkebunan kopi.

“Tantangannya sekarang kalau ada kambing kembung karena cuaca, saya harus segera tahu obatnya,” katanya sambil terkekeh.

Merawat kambing, kata dia, bukan hal baru. Itu bahkan sudah dilakukan sejak dirinya masih kecil.

Namun usaha yang dijalani kai ini tak sekadar hobi. Gus Irsyad-sapaannya-serius menekuni bisnis susu kambing, dengan target produksi 30 liter per hari. Produk itu dipasarkan hingga Kalimantan melalui jaringan reseller.

Hasilnya cukup untuk menutup biaya operasional: pakan, gaji pegawai, listrik, dan air.

“Keuntungan sebenarnya ada di anak kambing. Kombinasi breeding dan penggemukan ini jadi kunci,” jelasnya.

Ia merasakan kepuasan luar biasa kalau ada kambing yang beranak. Rasanya sulit digantikan. Bahkan dibanding pencapaian politik.

Momentum Idul Adha dua bulan lalu, menjadi berkah bagi usahanya. Pada tahun pertama, ia berhasil melepas 350 kambing dan 30 sapi ke berbagai daerah.

Dengan empat bulan penggemukan saja, sudah balik modal. “Itu yang bikin saya makin yakin usaha ini bisa jalan,” jelasnya.

Ia juga tak segan membeberkan sekelumit “rumus” usaha peternakan yang dijalani.

Misalnya ketika membeli sapi dengan bobot 300 kg. Ia harus memproyeksi naik 1,5 kg per hari. Sehingga bisa dijual dalam empat bulan mendatang.

“Untungnya terasa, apalagi kalau stok pakan dan nutrisi terjamin,” tandasnya.

Setali tiga uang. Irsyad juga mengelola kopi. Sebagian ia hasilkan dari kebun sendiri.

Sebagian lagi dibeli dari petani lokal. Biji kopi itu ia olah lalu dipasarkan di DRK Coffee & Roastery Kota Pasuruan, yang sekaligus menjadi showroom.

“Dari sini saya belajar lagi tentang green house, cara jemur, dan inovasi produk,” tambahnya.

Tak hanya dipasok ke kafenya sendiri, susu segar dan kopi yang diproduksi CV SGI Multi Solution itu, juga dikirim hingga luar Jawa.

Gus Irsyad tak memungkiri, eksistensinya sejak menjadi aktivis hingga politisi, turut berperan dalam perkembangan usahanya. “Yang jelas ada faktor besar dari jaringan perkoncoan,” candanya.

Tidak jarang, sahabat lama atau kolega politik datang berkunjung. Duduk santai sambil mencicipi kopi atau susu kambing. Yang menarik, latar belakang pendidikannya ikut menopang usaha ini.

Ia S1 Ekonomi, S2 Agribisnis, dan S3 Lingkungan dengan disertasi tentang kopi.

“Jadi ini bukan asal coba-coba. Saya manfaatkan ilmu, pengalaman, plus jejaring untuk membangun usaha,” tegasnya.

Kini, sepuluh karyawan ia pekerjakan. Sebagian khusus merawat kambing, sebagian lagi mengelola kopi.

Meski sudah bergeser jauh dari dunia birokrasi, Gus Irsyad mengaku tidak pernah merasa kehilangan.

“Saya tidak pernah alami post power syndrome. Justru saya menikmati. Setiap pagi, ketemu kambing dan kopi, itu sudah cukup,” sampainya.

 

Dua Dekade Mengabdi

Ingatan Irsyad Yusuf kembali pada masa ketika ia masih duduk di ruang paripurna sebagai anggota DPRD Kabupaten Pasuruan tahun 2004 silam.

Usianya kala itu baru 34 tahun. Sembilan tahun kemudian, ia dilantik sebagai bupati, setelah mengakhiri periode keduanya di parlemen sebagai ketua dewan.

Ia menjadi orang nomor satu di Pemkab Pasuruan dan mampu bertahan dua periode. Hingga akhirnya, pada 2024, ia menanggalkan jabatannya dengan mulus.

“Itu bagian dari sekolah kehidupan saya. Banyak suka, duka, dan tentu saja keputusan sulit,” kenangnya.

MENJABAT: Irsyad Yusuf saat menjabat Bupati Pasuruan.
MENJABAT: Irsyad Yusuf saat menjabat Bupati Pasuruan.

Salah satu capaian yang ia anggap monumental adalah penetapan Bangil sebagai ibu kota Kabupaten Pasuruan.

Prosesnya panjang, dimulai sejak ia masih Ketua DPRD hingga akhirnya ditetapkan saat menjabat bupati.

“Keputusan DPRD soal ibu kota Bangil itu lahir, saat saya masih di DPRD,” katanya.

Dan ternyata, keputusan politik itu mengandung konsekuensi besar. Ketika sudah jadi bupati, ia harus memindahkan pusat pemerintahan secara de facto.

Bertahap dalam lima tahun, kantor pemerintahan pun dipindah ke Raci.

Ia menyebut, gedung-gedung baru di Raci adalah salah satu warisan yang paling nyata.

Dari kantor OPD hingga mal pelayanan publik menjelang akhir masa jabatannya. “Saya bersyukur bisa menyelesaikan itu meskipun banyak keterbatasan,” ujarnya.

Ia juga mengingat bagaimana lahirnya RTRW (Rencana Tata Ruang dan Wilayah) Kabupaten Pasuruan pada 2017 untuk mendorong industrialisasi di wilayah timur.

Sekaligus menjaga keseimbangan barat dan selatan. “Kalau tidak, disparitas makin lebar,” imbuh adik Menteri Sosial Saifullah Yusuf itu.

Bagi Gus Irsyad-sapaannya, wilayah timur punya potensi besar untuk dijadikan kawasan industri.

Hanya, perlu banyak sentuhan sarana dan prasarana. “Makanya RTRW jadi fondasi,” ujarnya serius.

Namun, diakui, jalan kepemimpinannya tak mulus. Ia tidak menutup mata bahwa masih ada program yang belum sempat tuntas.

Salah satunya, revitalisasi ibu kota Bangil. Penataan alun-alun, hingga proyek kolosal jalan lingkar utara dan selatan yang perlu dukungan pemerintah pusat.

“Tentu semua itu juga masih kita harapkan dan saya yakin bupati punya visi ke arah sana. Karena manfaatnya pasti besar untuk masyarakat,” tandas dia.

HOBI LAMA: Gus Irsyad kecil dan kambingnya. Sejak kecil, ia memang sudah belajar merawat kambing.
HOBI LAMA: Gus Irsyad kecil dan kambingnya. Sejak kecil, ia memang sudah belajar merawat kambing.

Baginya, masa 10 tahun menjabat adalah perjalanan penuh warna. Ia belajar membagi waktu antara tugas berat sebagai kepala daerah dan keluarga. “Saya percaya, jabatan adalah amanah,” ulasnya.

Selama di pemerintahan, ia berusaha menjalani itu dengan sebaik mungkin. Kendati ia mengakui masih banyak kekurangan.

“Doa saya, apa yang sudah saya lakukan meski tak sempurna, mudah-mudahan ada manfaatnya untuk masyarakat,” ungkapnya.

 

Kepemimpinan, Politik, dan Harapan

Kini, setiap pagi Irsyad Yusuf berjalan di antara kandang, memperhatikan silase, mencatat kelahiran kambing, dan memantau produksi susu.

Namun ada kesamaan yang ia rasakan. Baik memimpin satu juta penduduk maupun 150 kambing, keduanya butuh manajemen dan rasa tanggung jawab.

“Kuncinya inovasi. Kalau di politik inovasi kebijakan, kalau di usaha inovasi produk. Sama-sama harus kreatif, sama-sama harus bisa baca risiko,” katanya.

Menurutnya, risiko bisnis bisa ditekan dengan strategi. Baginya, banyak teman dan kolega, merupakan modal.

Ditambah dengan sistem digital market yang diterapkan. Pihaknya, bisa memasarkan produk kemana saja.

Di tengah rutinitas barunya, Gus Irsyad-sapaannya, merasa justru mendapat pelajaran berharga untuk keluarganya.

Dua anaknya kini ikut terlibat. Noval menekuni kopi, Virryan belajar manajemen peternakan.

Yang terpenting, ia juga mengajarkan anak-anaknya untuk srawungan.

“Bagaimana menempatkan diri, bagaimana meladeni orang lain. Sekaligus mampu menghadapi dan memecahkan persoalan,” katanya.

Baginya, ilmu tersebut yang hanya didapat dari kehidupan. Ilmu seperti ini tidak ada di sekolah, tapi sangat berguna. Mereka belajar langsung dari lapangan.

Meski sudah lebih banyak mengurus ternak, Gus Irsyad tak sepenuhnya menutup pintu politik.

Namanya melambung di PKB, partai yang lahir dari semangat reformasi. Tapi partai itu juga yang memecatnya, setelah dua bulan sempat dilantik anggota DPR RI.

“Sekalipun untuk saat ini tidak berpartai, politik itu bagian dari hidup saya,” ungkapnya.

Gus Irsyad mengakui, ada beberapa partai politik mendekatinya. Tapi, bagi Irsyad, politik bukan soal jabatan, tapi kebermanfaatan.

“Wasiyat ayah saya, di manapun berada, jadilah orang yang bermanfaat. Itu yang saya pegang sampai sekarang,” tuturnya.

Ia memang bukan lagi anggota PKB. Bukan juga anggota partai politik lain. Tapi Gus Irsyad enggan menutup diri. Suatu saat, kata dia, bisa saja ia akan berlabuh ke partai politik tertentu.

“Tentu saya punya hitung-hitungannya, kalau bisa bermanfaat untuk masyarakat, kenapa tidak?,” ujarnya.

Dan lagi, berpolitik itu juga merupakan hak setiap orang. Namun untuk saat ini, ia lebih memilih fokus pada usaha dan keluarga.

“Kalaupun suatu saat nanti harus bergabung ke mana, tentu harus ada restu ibu dan kakak saya, Mas Saiful, sebagai pengganti ayah saya,” paparnya. (tom/one)

Editor : Jawanto Arifin
#bupati pasuruan #ternak #politisi #kopi #gus irsyad #irsyad yusuf