Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Sejarah Pasar Tradisional di Kota Probolinggo yang Sebagian Dibangun Era Kolonial

Inneke Agustin • Minggu, 3 Agustus 2025 | 20:20 WIB
TEMPO DULU: Tampak depan Pasar Gotong Rojong Probolinggo 1966.
TEMPO DULU: Tampak depan Pasar Gotong Rojong Probolinggo 1966.

PASAR adalah tempat atau proses interaksi antara pembeli dan penjual untuk melakukan transaksi jual beli barang atau jasa.

Di Kota Probolinggo, pasar tradisional telah ada sejak era penjajahan. Beberapa di antaranya adalah Pasar Lama dan Pasar Gotong Royong.

Pegiat sejarah dari komunitas Pojok Literasi Kota Probolinggo, Edi Martono mengatakan bahwa semula, Pasar Lama berlokasi di simpang tiga Jalan Panglima Soedirman dan Jalan dr. Soetomo. Saat ini, lokasi tersebut digunakan sebagai Plaza Probolinggo.

“Pada peta tahun 1914, lokasi tersebut sudah menunjukkan pasar. Jadi kemungkinan pasar ini sudah didirikan sebelum tahun 1914. Bentuk bangunannya bernuansa kolonial Belanda,” tuturnya.

Seperti pasar pada umumnya, masyarakat banyak berbelanja kebutuhan sehari-hari seperti lauk pauk ke sana.

PETA: Tampak peta pemakaman khusus untuk warga Eropa di dekat permukiman penduduk pribumi Probolinggo yang kini diperkirakan menjadi Pasar Gotong Royong.
PETA: Tampak peta pemakaman khusus untuk warga Eropa di dekat permukiman penduduk pribumi Probolinggo yang kini diperkirakan menjadi Pasar Gotong Royong.
MELINTAS: Sejumlah kendaraan melintas di Pasar Lama Probolinggo pada zaman kolonial.
MELINTAS: Sejumlah kendaraan melintas di Pasar Lama Probolinggo pada zaman kolonial.
USANG: Foto tampak depan pintu masuk Pasar Baroe Probolinggo.
USANG: Foto tampak depan pintu masuk Pasar Baroe Probolinggo.
LAMPAU: Tampak Pasar Lama Probolinggo yang saat ini telah menjadi Plaza Probolinggo.
LAMPAU: Tampak Pasar Lama Probolinggo yang saat ini telah menjadi Plaza Probolinggo.

Pasar ini menjadi primadona bagi masyarakat di Probolinggo saat itu.

Pada tahun 1933 Pasar Baroe (Baru, Red) Probolinggo dibangun di Jalan Panglima Soedirman, sekitar 50 meter ke arah timur Pasar Lama.

Hal ini diperkuat dengan gambar pada peta Probolinggo tahun 1946 yang menunjukkan lokasi tersebut sebagai market atau pasar.

Diketahui pada 1986, bangunan Pasar Lama mengalami kebakaran hebat bahkan hampir rata dengan tanah.

Setahun setelahnya, lokasi tersebut dibangun kembali dan menjadi Plaza Probolinggo.

Kepala UPT Pasar Probolinggo, Edi Sekar mengatakan bahwa Pasar Baru pernah mengalami revitalisasi pada tahun 2021 dan telah diresmikan pada 2023 lalu.

Pasar dengan luas kurang lebih 5.135 meter persegi ini, memiliki 92 bedak pedagang dan los sejumlah kurang lebih 650 pedagang.

“Jenis barang yang diperdagangkan di dalamnya, meliputi kebutuhan pokok, alat-alat rumah tangga, buah, sayur, ikan, daging, dan sebagainya,” tutur Edi.

Pembeli yang hendak masuk pasar, bisa mengaksesnya dari berbagai arah pintu masuk.

Di sisi timur, dapat diakses dari Jalan Praja Siaman. Lalu dari selatan bisa diakses dari Jalan Pahlawan.

Sementara dari arah barat dari Jalan Cut Nyak Dien dan arah utara dari Jalan Panglima Soedirman.

SEKARANG: Tampak depan Pasar Gotong Royong Kota Probolinggo 2025.
SEKARANG: Tampak depan Pasar Gotong Royong Kota Probolinggo 2025.
SEPI: Bagian dalam lantai dasar Pasar Gotong Royong saat ini.
SEPI: Bagian dalam lantai dasar Pasar Gotong Royong saat ini.
SAAT INI: Foto pintu masuk utama Pasar Baru Probolinggo dari arah Jalan Panglima Soedirman.
SAAT INI: Foto pintu masuk utama Pasar Baru Probolinggo dari arah Jalan Panglima Soedirman.

 

Bertahan di Tengah Gempuran Online Shop

Selain Pasar Baru, ada juga pasar yang tak kalah tuanya. Yakni Pasar Gotong Royong. Pasar ini terletak di simpang Jalan Panglima Soedirman dan Jalan WR. Supratman.

“Di dalamnya ada bedak sebanyak 123 pedagang, ruko sebanyak 37 unit, dan los yang kurang lebih jumlahnya 65 pedagang,” ujar Kepala UPT Pasar Probolinggo, Edi Sekar.

Pasar Gotong Rojong atau Gotong Royong ini didirikan pada 1966. Sebelumnya, lahan tersebut merupakan lokasi pemakaman orang Eropa.

Namun sebelum pendirian pasar dilakukan, makam-makam tersebut pun lantas dipindahkan.

Hal ini dikuatkan dengan penampakan peta Probolinggo yang bertuliskan “Een soeciale begraafplaats voor europese hurger in de huurt van inhemse woningen Probolinggo”.

Lokasinya diperkirakan yang saat ini menjadi Pasar Gotong Royong.

“Sebuah pemakaman khusus untuk warga Eropa di dekat permukiman penduduk pribumi Probolinggo,” tutur pegiat sejarah dari komunitas Pojok Literasi Kota Probolinggo, Edi Martono

Era 1980 – 1990 merupakan masa kejayaan Pasar Gotong Royong, di Kota Probolinggo, Jawa Timur.

Kala itu, kawasan Simpang Tiga King dan Pasar Gotong Royong menjadi urat nadi perekonomian.

Namun semakin berkembangnya zaman dengan teknologi toko online, para penjual di Pasar Gotong Royong mengaku kesulitan menjual barang dagangannya.

Hal ini dikarenakan persaingan yang terjadi dengan toko online.

Seperti yang disampaikan salah satu pedagang pakaian, Udin Prasetyo, 33.

Ia mengaku bahwa biasanya menjelang Lebaran, omzetnya meningkat dua kali lipat, meski tidak sebanyak tahun lalu.

"Sehari bisa dapat Rp 2-3 juta kalau hari biasa. Tapi kalau momen Lebaran bisa sampai Rp 6 juta," ujarnya.

Namun, angka tersebut tetap lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Menurutnya, maraknya toko online, terutama TikTok Shop yang mulai booming sejak 2021 menjadi salah satu penyebab utama penurunan omzet.

Konsumen lebih memilih belanja online karena dianggap lebih murah dan praktis.

"Padahal ada risikonya juga, misalnya bahan tidak sesuai ekspektasi. Tapi tetap saja, orang-orang lebih memilih beli online," ungkap Udin.

Meski menyadari potensi toko online, Udin belum tertarik mencobanya karena membutuhkan tenaga tambahan untuk mengelola, termasuk admin dan talent untuk live shopping.

Ia lebih memilih strategi pemasaran langsung dengan bantuan sales yang menawarkan produk melalui pesan singkat. (gus/one)

Editor : Jawanto Arifin
#pasar baru #pasar gotong royong #Kota Probolinggo #pasar tradisional #pasar #pasar lama