DI Dusun Klojen RT 09 RW 19, Desa Martopuro, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan, terdapat bangunan rumah kuno, yang jumlahnya tidak hanya satu.
Melainkan delapan unit. Menariknya lagi, rumah-rumah tersebut berjejer menjadi satu area.
Rumah-rumah kuno tersebut, dibangun pada zaman penjajahan Belanda, jauh sebelum Indonesia merdeka.
"Kapan pastinya dibangun, kami tidak mengetahui secara detail. Namun, diperkirakan sekitar tahun 1.900-an," kata Heru Handoko, tokoh masyarakat Dusun Klojen.
Heru menuturkan, bentuk satu bangunan dengan bangunan yang lain, sama persis. Baik model atap, daun pintu, jendela dan bagian-bagian lainnya.
Di setiap rumah, terdiri dari tiga kamar, ruang tamu, dapur dan teras. Kamar mandinya berada tersendiri di luar rumah.
Sementara untuk atap, pintu hingga jendela terbuat dari kayu jati kuno.
Tak mengherankan, meski usianya sudah berpuluh-puluh tahun, namun kondisinya masih utuh dan kokoh.
"Warga di kampung menyebutnya perumahan demang. Dulunya, masing-masing rumah tersebut dihuni para pejabat. Seperti demang, wedana, mantri, mandor, dan lain-lain," tuturnya.
Dari delapan rumah kuno itu, kini lima masih orisinal. Karena satu rumah diantaranya, terbakar.
Sementara dua rumah lainnya, sudah direnovasi dengan beberapa tambahan bangunan.
Ada yang ditempati. Ada pula yang dimanfaatkan untuk gudang. "Enam rumah kuno tersebut, difungsikan sebagai rumah tinggal.
Sedangkan dua lainnya sebagai gudang. Salah satunya punya keluarga saya, yang merupakan tepat tinggal dari mbah-mbah terdahulu," ungkap Heru.
Ukuran banguan setiap rumah, juga identik. Panjangnya, rata-rata sekitar 15 meter. Sementara lebarnya, enam meter.
Masing-masing bangunan, memiliki ketinggian dikisaran 4 meter hingga 5 meter.
“Lantainya terbuat dari ubin, bukan plester ataupun keramik. Saat berada di dalam, terasa asri dan cukup dingin," imbuhnya.
Kasun Klojen M. Khozin menuturkan, meski sudah ada sejak rumah-rumah lain berdiri, bangunan kuno itu tampak kokoh hingga saat ini.
“Berdasarkan cerita para orang tua, rumah-rumah tersebut dibangun pada zaman penjajahan Belanda. Tidak menutup kemungkinan, para mandor dan mantri yang bekerja di pabrik gula, tinggalnya ya dirumah-rumah kuno tersebut. Sebab, pada masa itu, kawasan sini dekat dengan pabrik gula yang ada di wilayah Dusun Puntir,” jelasnya.
Pelataran Luas Jadi Ciri Khas
Meskipun berada dalam satu deretan, bangunan rumah kuno di Dusun Klojen, Desa Martopuro, Kecamatan Purwosari ini tidaklah berdempetan.
Masing-masing memiliki jarak yang agak berjauhan. Karena terpisahkan oleh pelataran yang luas di setiap rumahnya.
"Bagian samping dan depan rumah, ada halaman yang cukup luas di setiap rumah. Meskipun dalam satu areal, tidak berimpitan," kata Heru Handoko, tokoh masyarakat di Dusun Klojen.
Sebagai pemisah antara satu rumah dengan rumah yang lain, adanya pagar yang terbuat dari tanaman dan juga bambu.
Menurut Heru, seandainya ada pagar tembok, itu bangunan baru dan merupakan tambahan.
Tak hanya itu, akses jalan menuju perumahan demang ini, cukup luas. Bisa dilalui motor, mobil pribadi hingga truk sekalipun.
“Akses jalannya cukup lebar. Kalau dahulu berupa tanah, sekarang sudah berpaving,” sambung dia.
Jembatan Bok Demang Jadi Akses Keluar-Masuk
Tak jauh dari lokasi perumahan demang berada, juga terdapat sebuah jembatan. Namanya Jembatan Bok Demang. Penamaan itu, bukan tanpa alasan.
"Dinamankan Bok Demang, karena ada kaitannya dengan keberadaan perumahan demang,” kata Heru Handoko, toko masyarakat Dusun Klojen.
Jembatan tersebut, juga berusia tua. Karena dibangun, pada era penjajahan Belanda. Dahulu, jembatan itu masih berupa tanah. Sekarang, sudah beraspal.
Bagian bawahnya, terdapat saluran irigasi yang berasal dari Talang Kali Juri, di wilayah Dusun Klojen.
“Baik dahulu maupun sekarang, kendaraan yang hendak masuk ataupun keluar dari perumahan demang, lewatnya ya via Jembatan Bok Demang ini,” timpal dia. (zal/one)
Editor : Jawanto Arifin