SEBUAH talang peninggalan Belanda, terbangun di Dusun Klojen, Desa Martopuro, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan.
Meski sudah ada bertahun-tahun lamanya, bangunan itu masih kokoh. Bahkan, keberadaannya masih difungsikan hingga sekarang.
Warga menyebutnya Talang Kali Juri. Penamaan itu bukan tanpa alasan. Karena di bawah talang, ada sungai berupa Kali Juri.
Panjang talang itu, sekitar 30 meter. Sementara tingginya mencapai 15 meter. Lebar dari talang itu sendiri, dua meter.
"Kami menyebutnya Talang Kali Juri. Talang ini dibangun oleh Belanda, sekitar tahun 1900-an," kata Kasun Klojen, M. Khozin.
Bangunan tersebut sengaja dibangun Belanda, untuk difungsikan irigasi ke area persawahan.
Airnya mengalir di talang yang letaknya berada di atas Kali Juri. Air tersebut mengalir dari wilayah Purwodadi, tidak hanya untuk disalurkan ke beberapa wilayah yang ada di Desa Martopuro, Kecamatan Purwosari.
Tetapi juga, hingga ke wilayah Kecamatan Wonorejo dan kecamatan yang lain.
Tak heran, lahan pertanian di sekitar bangunan talang ini, sangatlah subur.
Hingga sekitar tahun 1987-an, pasca Indonesia merdeka, bagian atas bangunan talang ini dicor. Sehingga, berfungsi sebagai jalan dan jembatan untuk transportasi warga.
Jalan tersebut menghubungkan Desa Martopuro, Kecamatan Purwosari dengan Desa Semut, Kecamatan Purwodadi.
"Dahulu sebelum dicor seperti sekarang, samping kanan dan kiri saluran, ada tepian yang difungsikan untuk pejalan kaki. Namun setelah dicor, bangunan itu tampak seperti jalan dan jembatan. Sehingga, bangunan talangnya, tampak terlihat meski sebenarnya masih ada,” jelasnya.
Kini, Talang Kali Juri tak sekedar berfungsi sebagai saluran air. Tetapi juga, dimanfaatkan untuk jalan dan jembatan.
Bahkan setiap harinya, banyak kendaraan yang memanfaatkannya. Tak hanya sepeda kayuh ataupun motor. Tetapi juga, kendaraan roda empat.
Bangunan talang itupun, menjadi jalan alternatif. Baik dari Martopuro, Kecamatan Purwosari ke Desa Semut, Kecamatan Purwodadi, ataupun sebaliknya.
"Bisa dikatakan, keberadaan bangunan ini sangat bermanfaat sekali. Ya, untuk saluran irigasi ataupun untuk jalan,” sampainya.
Memiliki Potensi Wisata
Talang Kali Juri, merupakan salah satu bangunan peninggalan Belanda sekaligus bersejarah di Desa Martopuro, Kecamatan Purwosari.
Keberadaannya pun memiliki potensi untuk dikembangkan di sektor wisata.
Hanya saja, saat ini masih berupa wacana. Belum sampai terlaksana. "Sekitar lima tahun lalu, oleh para pemuda di Dusun Klojen hendak dikembangkan menjadi wisata. Namun belum terealisasi hingga sekarang," ucap Heru Handoko, 50, tokoh masyarakat Dusun Klojen.
Kala itu, para pemuda di kawasan Talang Kali Juri, sempat melakukan pembersihan semak belukar.
Bahkan, bangunan talangnya juga sempat dicat, secara swadaya. Namun, rencana untuk pengembangan di sektor wisata, mengambang. Sampai akhirnya, cat yang dipasang, memudar.
"Buat destinasi wisata sejarah dan alam, sebenarnya cocok. Ada bangunan peninggalan Belanda, saluran air, serta sungai yang di sekelilingnya terdapat sawah yang subur. Hanya saja, terkendala dana. Karena Butuh anggaran tidak sedikit, sehingga belum bisa terlaksana," tuturnya.
Jujukan Anak-anak Mandi dan Bermain
Aliran air di saluran Talang Kali Juri ini, terbilang lancar. Bahkan, saat musim kemaraupun, debitnya tetap normal.
Airpnya pun cukup jernih. Karena hulunya, bersumber dari pegunungan yang berada di Kecamatan Purwodadi.
Tak mengherankan, jika setiap harinya, kawasan setempat menjadi jujukan anak-anak. Mereka datang untuk mandi dan bermain.
Terutama saat sepulang sekolah, ataupun waktu liburan sekolah seperti sekarang.
"Kalau siang atau sore, banyak anak-anak mandi sekaligus bermain di situ. Saat saya masih kecil, juga sering bermain di situ,” ungkap Heru Handoko, 50, tokoh masyarakat Dusun Klojen.
Tak hanya anak-anak. Talang Kali Juri juga menjadi magnet kaula muda untuk berdatangan.
Mereka memanfaatkan kawasan asri itu, untuk nongkrong. Terutama saat sore hari.
Mereka yang datang, bukan hanya setempat. Tetapi juga, dari desa lain di wilayah Kecamatan Purwosari dan Purwodadi.
"Kalau untuk muda-mudi, selain nongkrong biasanya juga cuci motor. Karena lokasinya memang mendukung," jelasnya. (zal/one)
Editor : Jawanto Arifin