TERLETAK di sudut perbatasan Desa Bermi dan Desa Tambelang, Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo berdiri rumah megah ala Jerman yang disebut Huis Oesede atau Vila Osede.
Rumah ini selalu memikat mata siapapun yang melintas di daerah tersebut.
Bagaimana tidak, gaya arsitektur Gotik yang diusungnya, cukup berbeda bila dibandingkan dengan gaya bangunan lain di sekitarnya.
Salah satu pegiat pegiat sejarah sekaligus penulis buku Argopuro Understory Sang Penjaga Vol.2, Rakha Rizal Amin mengatakan bahwa bangunan bergaya Eropa tersebut, dibangun mulai tahun 1934 dan selesai setahun kemudian.
Meski telah berusia hampir seabad, rumah ini berdiri kokoh.
“Bahkan pemiliknya telah berganti-ganti. Terakhir kali saya bertanya, mereka mengatakan rumah tersebut hampir tak pernah mengalami kerusakan. Kalaupun ada, hanya kerusakan minor,” ujarnya.
Rakha menjelaskan, rumah tersebut sejatinya merupakan hunian seorang naturalis keturunan Jerman dan juga pensiunan Pabrik Gula Oemboel yang bernama Grotrian-Fritsch.
Setelah pensiun, ia menghabiskan tabungannya untuk membangun rumah tersebut, sebagai tempat tinggal di masa senjanya bersama keluarga.
Rumah tersebut dibangun dengan ukuran yang cukup luas, sekitar 12 meter kali 18 meter.
Hampir seluruh struktur dan bagian bangunan terbuat dari kayu jati berkualitas tinggi. Tak heran, bila rumah tersebut mampu bertahan hingga saat ini.
“Hanya fondasi dan dinding bagian bawah terbuat dari batu. Kemungkinan hanya 50 sentimeter. Selanjutnya kayu semua. Baik kolom, balok, lantai dua, balkon, hingga genting pun dari kayu. Namun sekarang, gentingnya diganti jadi seng,” terang Rakha.
Rumah ini memiliki dua lantai. Pada lantai dasar, terdapat ruang keluarga dengan sebuah perapian besar, rak-rak buku dan lukisan, sebuah kamar, dapur, dan kamar mandi.
Lantainya pun masih menggunakan tegel. Sedangkan untuk lantai 2 menggunakan papan kayu.
“Bahkan kamar mandinya, sudah dilengkapi dengan bathup. Instalasi listrinya terorganisir dengan rapi. Ini merupakan produksi N.V. Ruhaak Soerabaja,” katanya.
Sedangkan lantai dua, dapat diakses melalui tangga. Di mana, di dekatnya ada lift khusus untuk mengantar makanan ke atas. Lift tersebut menggunakan tenaga manual yang ditarik dengan katrol.
Di lantai dua tak kalah menarik. Rumah ini, memiliki empat jendela besar yang mengarah ke empat penjuru mata angin dengan dua balkon.
“Pemandangan dari balkon tersebut, langsung mengarah ke pegunungan Argopuro. Selain itu, ada 3 kamar tidur dengan connecting door pada masing-masing kamar, sehingga tampak luas. Ada kamar mandi dan terdapat lukisan Danau Taman Hidup,” sampainya.
Sejarah Tuan Rumah Huis Oesede
Huis Oesede atau Vila Osede pertama kali didirikan oleh seorang ekspatriat yang bernama Grotrian-Fritsch.
Ia diperkirakan sebelumnya tinggal di Situbondo. Sementara dua anaknya, lahir di Darmo Ziekenhuis Surabaya.
“Terakhir bekerja di Pabrik Gula Oemboel,” kata salah satu pegiat pegiat sejarah sekaligus penulis buku Argopuro Understory Sang Penjaga Vol.2, Rakha Rizal Amin.
Pada masa pendudukan Jepang 1945 hingga 1947, saat masa agresi militer Belanda, rumah tersebut sempat dijadikan camp perawatan bagi anak-anak dan perempuan.
Baru setelah masa agresi militer rampung, rumah ini kembali ditempati secara pribadi oleh seorang dokter dari Yogyakarta bernama Karimun. Ia memiliki istri seorang wanita Belanda.
“Lalu beralih kepemilikan kepada keluarga Tuwaidan dari Manado. Kemudian kini telah dibeli oleh seorang keturunan Chinese asal Surabaya. Sementara keluarga Tuwaidan tinggal di sekitar Bermi,” ujarnya.
Rumah ini selalu menjadi focal point bagi para pengunjung yang melintasi lokasi tersebut.
Terlebih setelah dibangunnya jalan pendakian, yang dapat dilewati kendaraan menuju Pegunungan Argopuro. (gus/one)
Editor : Jawanto Arifin