SUMBERANYAR adalah sebuah desa di Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan.
Sumberanyar berasal dari dua kata yakni Sumber dan Anyar. Terbentuknya desa ini, memiliki histori yang panjang.
Dahulu, ada dua desa yang penduduknya kurang memenuhi syarat desa. Yakni Karanganyar dan Sumurwaru.
Karena hal itu, pemerintah pusat menyepakati untuk mengambil kebijaksanaan, agar dua desa tersebut digabung.
Menjadi Desa Sumberanyar. Perubahan itu dilaksanakan pada zaman Hindia Belanda pada tahun 1935 silam.
Kepala Desa Sumberanyar, Safiudin mengatakan, sebelum menjadi Desa Sumberanyar, wilayah setempat sudah terbentuk pemerintahan desa, pada 1902.
Desa setempat dipimpin oleh Sulton dari pedukuhan atau Dusun Wonokaton dan Sekretaris Desa, Gunaron.
Di Desa ini, dulunya ada sembilan dusun. Terdiri dari Sumurwaru, Karangteger, Wonokaton, Bellung, Asem Lawang, Karanganyar, Jurangjero, Gunung Bukor dan Alaskerbau.
Pemerintahan desa ini, berlangsung hingga tahun 1935. Karena kemudian, diadakan Pemilihan Kepala Desa Sumberanyar yang kemudian dimenangkan oleh Tamon sebagai kepala desa terpilih. “Tahun inilah Pemdes Sumberanyar akhirnya ada,” katanya.
Tamon merupakan pejabat desa yang berasal dari Pedukuhan Karanganyar. Sementara sekretaris desanya kala itu, bernama Maisa dari Pedukuhan Jurang Jeroh.
Namun, keduanya mengudurkan diri setelah sempat menjabat selama 8 bulan.
Sehingga pemdes setempat, dalam keadaan kosong, yang akhirnya dilakukan pemilihan kepala desa kembali.
Ada beberapa calon yang berpartisipasi. Yakni Dekemis asal Pedukuhan Alas Kerbau, Sukaimi asal Pedukuhan Karangteger, Arendho asal Pedukuhan Karanganyar, Buston asal Pedukuhan Karangteger dan Uding asal Pedukuhan Sumurwaru.
Pemilihan dilakukan dua kali, karena ada perolehan suara dua orang yang jumlahnya sama, yakni suara milik Arendo dan Dekemis.
Hasilnya, dimenangkan oleh Arendho, yang menjadi kepala desa sejak tahun 1937, dibantu oleh Sekdes Maisa.
Di tahun 1939, sekdes diganti oleh Ngatimin dari Dusun atau Pedukuhan Sumurwaru yang menjabat selama 3 bulan.
Ia kemudian diganti Bunasir dari Pedukuhan Sumurwaru yang hanya menjabat selama 6 bulan. Lalu diganti Sanip dari Pedukuhan Alaskerbau menjabat 2 Bulan.
“Kumudian diganti Pak Dulmuki dari Pedukuhan Karanganyar,” sampainya.
Tahun 1952, Kades Arendho meninggal dunia. Jabatannya kemudian diemban oleh Dulmuki sebagai pelaksana tugas hingga dilaksanakanya, pemilihan kepala desa kembali dengan calon.
Diantaranya Sumo Hasyim asal Pedukuhan Sumurwaru; Sugan asal Pedukuhan Sumurwaru dan Muhgeni asal Pedukuhan Sumurwaru.
“Waktu itu, dimenangkan oleh Sumo Hasyim, tapi hanya menjabat selama setahun. Karena disebut-sebut ia dilengserkan oleh masyarakat,” katanya.
Pada tahun 1954, dilakukan pemilihan kembali dengan calon Kepala desa Sukari asal pedukuhan Sumurwaru; Kamar asal pedukuhan Jurang Jeroh dan Sugan asal pedukuhan Sumurwaru.
Kala itu Kamar terpilih menjadi kepala yang didampingi Sekdes Dulmuki selama satu tahun. Lalu sekdes ini diganti oleh Husen dari Pedukuhan Sumurwaru.
Sementara Kamar menjadi kepala desa hingga tahun 1968 dan diberhentikan berdasarkan desakan warga, lantaran cara kepemimpinannya yang dianggap tidak berpihak kepada kepentingan masyarakat.
Sampai sekarang, pemerintah desa terus berjalan. Di tahun 2025 ini, kursi kepemimpinan desa dipimpin oleh Safiudin.
Penggusuran Lahan membuat Sejumlah Dusun Hilang
Desa Sumberanyar yang dulunya memiliki sembilan dusun, kini hanya menyisakan tujuh dusun.
Kepala Desa Sumberanyar Safiudin mengatakan, yang paling membekas dan dirasakan warga Desa Sumberanyar atas kebijakan Kepala Desa yang otoriter pada saat tahun 1961.
Yakni lepasnya tanah garapan warga. Baik itu ladang maupun sawah yang dikuasi secara paksa dan sewenang-wenang.
Masuknya perusahaan asal Situbondo pada 1978, membuat gerakan penanaman kapas dilakukan di wilayah setempat.
“Sejak itu, mulai dilakukan pemerataan tanah dan pemindahan rumah penduduk secara paksa tanpa adanya ganti rugi,” kisahnya.
Hingga tahun 1980-an masuk perusahaan yang bergerak dibidang holtikultura di yang berkantor di Desa Gejugjati, Kecamatan Lekok.
Perusahaan setempat melakukan bisnis penanaman tebu dan tanaman holtikultura lainnya.
Lalu, melakukan pemindahan- pemindahan penduduk secara paksa yang terjadi di beberapa pedukuhan.
Diantaranya Pedukuhan Belung, Gunung Bukor, Wonokaton, Karangteger dan Alaskerbau.
Dari penggusuran tersebut, menyebabkan tatanan desa berubah. Pedukuhan menjadi berkurang.
Hingga hanya menyisakan Sumurwaru, Curatimo, Wonokaton, Belung, Karanganyar, Gunung Bukor dan Alaskerbau.
Sementara Pedukuhan Karangteger, Pedukuhan Jurangjero, Pedukuhan Asamlawang hilang akibat penggusuran tersebut.
“Yang awalnya sembilan dusun, menjadi hanya tujuh dusun,” sebutnya.
Sekarang Tinggal Delapan Dusun
Meski dua dusun menghilang sejak tahun 1960-an, pemerintah desa setempat tetap berjalan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Kepala Desa Sumberanyar Safiudin mengatakan, hilangnya dua dusun itu, tidak banyak memberi pengaruh. Karena pelayanan kepada masyarakat, tetap jalan.
Mulaid ari pembangunan pembangunan infrastruktur, pemberdayaan perekonomian warga hingga layanan lainnya.
“Memang, masih banyak pekerjaan rumah yang harus kami selesaikan,” tukasnya.
Camat Nguling Mulyohadi mangatakan, untuk saat ini di Desa Sumbernyar terdapat delapan dusun.
Yakni Sumurwaru Barat dan Timur, Belung, Curah Timo, Wonokaton, Karanganyar, Gunung Bukor dan Alaskerbo. “Saat ini, ada delapan dusun di wilayah setempat,” ujarnya. (zen/one)
Editor : Jawanto Arifin