SEKITAR tahun 1800-an, Pasuruan dikenal sebagai kota perdagangan terbesar keempat di Pulau Jawa.
Kopi ditanam secara luas di masa itu. Meski, tebu mendapat tempat yang penting, di samping lada, kakao, kina, karet dan beberapa tanaman lainnya.
Kondisi ini membuat Pasuruan menjadi pusat perdagangan penting saat itu.
Pasuruan menjadi ibu kota karesidenan yang meliputi wilayah Malang, Pasuruan dan Lumajang.
Namun, adanya endapan pasir dan lumpur di mulut sungai, membuat kapal tidak bisa bersandar. Mereka hanya bisa bongkar muat di lepas pantai.
Malang yang berada di wilayah yang lebih selatan, bergantung pada Pasuruan.
Ketika Malang menerima koneksi kereta api (KA) ke Surabaya 1875, yang jauh lebih siap untuk pelabuhan ekspor hasil pertanian, maka dimulailah kemunduran dan kemerosotan yang cepat bagi Pasuruan.
Jika pada 1882, jumlah penduduk masih sekitar 40 ribu jiwa. Namun pada 1905 sudah tersisa 30 ribu jiwa dan termasuk 670 penduduk Eropa.
Pemerhati Sejarah Pasuruan, Ahmad Budiman Suharjono menyebut, secara relatif kejayaan Pasuruan dan kemundurannya tercermin dalam surat kabar.
Antara tahun 1856 hingga 1884, ada tiga koran yang terbit.
Yakni Pasoeroeansch Nieuws en Advertentieblad (I), Pasoeroeansch Nieuws en Advertentieblad (II) kemudian berganti nama menjadi De Oostpost dan Handels en Advertentieblad yang kemudian berganti nama menjadi Handelsblad Voor Pasoeroean en Omstreken.
"Koran-koran ini yang menggambarkan kemajuan Pasuruan. Termasuk kemerosotannya usai adanya koneksi KA ke Surabaya," kata Budiman.
Setelah itu, sempat terjadi periode tanpa surat kabar selama 10 tahun. Antara 1884 hingga 1894.
Sebelum akhirnya, terbit satu surat kabar lagi pada 1894, De Pasoeroeanbode yang terbit pada selama 13 tahun. Hingga tahun 1897.
Terbit Selama Setengah Tahun
Di antara surat kabar komersial tertua di Hindia Belanda adalah Pasoeroeansch Nieuws en Advertentieblad.
Koran ini terbit sejak juli 1856. Awalnya, surat kabar ini dicetak oleh A Ledeboer Fzn dan sejak Oktober 1856 dicetak oleh Gebr Koeken. Koran ini hanya bertahan selama setengah tahun.
Selain bagian resmi yang rutin tayang berupa berita, ada pula bagian tidak resmi berisi rubrik-rubrik yang biasa tersedia di surat kabar yang tayang di masa itu.
Selain ada berita di Pasuruan dan sekitarnya, ada pula laporan yang diambil dari daerah di sekitarnya.
Seperti Surabaya, Semarang dan Batavia (Jakarta). Juga ada rubrik kiriman dari pembaca dan korespondensi.
"Namun surat kabar ini tidak bertahan lama. Terbitan terakhir, tanggal 27 Desember 1856. Dan sempat tidak ada surat kabar selama tujuh bulan," jelas Pemerhati Sejarah Pasuruan, Ahmad Budiman Suharjono.
Di edisi terakhir terbit, dalam kata-kata perpisahannya, penerbit Koeken menyebut di masa mendatang, pembaca bisa tetap memasang iklan mereka di Harian Soerabaiasch Nieuws en Advertentiebladen.
Rekomendasi ini wajar, karena surat kabar itu dimiliki oleh Chs Koeken yang juga merupakan saudaranya sendiri.
Tujuh bulan kemudian, Pasuruan kembali mendapat surat kabar lain. Meskipun terbit dengan judul yang sama dengan sebelumnya, namun tentu ini koran yang berbeda.
Agar masyarakat tidak kebingungan, untuk membedakannya, surat kabar tertua ditulis dengan akhiran (I). Sedangkan yang kedua diberi akhiran (II).
Surat kabar yang kedua ini, terbit selama 20 tahun. Mulai 1857 hingga 1877. Pertama kali diterbitkan pada 1 Agustus.
Penerbitnya adalah P. Weyermans, seorang pemilik toko dan juru lelang. Selama 20 tahun, koran ini tidak mengubah karakternya. Tetap terbit dengan berita sekitar Pasuruan.
Berbeda dengan surat kabar di Surabaya dan Semarang yang berubah menjadi majalah opini sejak 1857.
Yang lebih banyak terlibat dalam masalah politik, ekonomi dan sosial. Sementara Pasoeroeasch Nieuws en Advertentie Blad (II) tetap menjadi surat kabar komersial.
Mereka konsisten menahan diri dari semua diskusi tentang masa kini dan dengan koloni.
Meski ada beberapa tulisan dan artikel opini antara 1865-1867, tentang perkebunan kopi di Jawa, pandangan politik kolonial P Mijer, yang menjadi Gubernur Hindia Belanda pada 1866, namun jumlahnya tidak banyak.
Sesekali, adanya tulisan opini dalam koran ini, karena adanya surat kabar pesaing lokal, Handels en Advertentiebald Voor Pasoeroean en Omstreken yang didirikan pada 1865.
"Surat kabar ini mengeluarkan isu-isu terkini soal kolonial. Nah, Weyermans juga tidak ingin ketinggalan. Namun artikel seperti ini hanya sesekali," beber Budiman.
Namun setelah Mei 1867, artikel seperti ini tidak lagi muncul. Pasoeroeansch Nieuws en Advertentiebald kembali seperti semula.
Yakni surat kabar iklan yang diedit oleh penerbit dan stafnya, sebagian besar berisi informasi lokal, dan berita dari surat kabar yang lebih besar.
Untuk hiburan bagi pembaca, di koran ini juga terdapat prosa seperti varia dan mengelwerk.
Dan di tahun 1867, Prosa Tuan dan Nyonya Hindia Timur karya Jan Ten Brink dicetak secara berkala. Dan pada tahun tahun berikutnya, sesekali ada ruang untuk bercerita.
Namun oplah koran ini tidak banyak. Hanya beberapa ratus eksemplar. Meski di tahun 1875, ada sekitar 1.275 orang Eropa yang tinggal di Pasuruan.
Di awal penerbitannya, jumlah pelanggan tidak cukup menutupi biaya penerbitan. Meski secara lambat laun, jumlah oplah mereka terus meningkat.
"Kemunculan surat kabar lain, membuat surat kabar ini tidak mudah untuk bisa bertahan hidup. Sehingga perkembangannya cukup terhambat," tutur Budiman.
Kalah Bersaing dengan Surat Kabar di Kota Besar
Semakin lama perkembangan surat kabar Pasoeroeansch Nieuws en Advertentiebald semakin sulit.
Mereka kalah bersaing dengan surat kabar dari tiga kota pendatangan utama, Surabaya, Semarang dan Batavia (Jakarta).
Banyak orang Eropa yang memilih berlangganan surat kabar di kota besar tersebut.
Pemerhati sejarah Pasuruan, Ahmad Budiman Suharjono menuturkan, surat kabar di Pasuruan tidak terbit setiap hari.
Awalnya, hanya terbit dua kali dalam sepekan. Lalu tiga kali dalam sepekan. Namun meskipun tidak rutin, bukannya tanpa masalah.
Seringkali masalah muncul, karena jarang ada kiriman dan adanya persaingan dengan surat kabar lain.
"Oplahnya hanya ratusan tapi harganya murah. Dan terjangkau oleh orang Indo-Eropa yang memiliki keuangan terbatas," jelas Budiman.
Namun bagi orang Eropa yang memiliki uang lebih, memilih surat kabar dari kota-kota besar.
Karena bisa mengetahui isu di dalam dan luar koloni. Meski begitu, surat kabar Pasoeroeansch Nieuws en Advertentiebald ini, menerbitkan secara teratur.
Akhirnya, surat kabar ini sempat tayang tiap hari, karena tertekan oleh pesaing lokal sejak 1874.
Katanya, edisi 36 terbit setalah enam hari dari edisi 35. Kondisi ini juga memperparah kondisi surat kabar ini.
Bisa jadi, masyarakat menjadi kecewa karena lamanya menunggu edisi terbaru, meski akhirnya lebih rutin tayang.
Kondisi berubah saat pemilik, Weyermens meninggal dunia dan berpindah pada G.H. Klunder.
Untuk menyelamatkan bisnis koran ini, pemilik baru mengubah ukurannya menjadi lebih besar. Dan berganti nama menjadi De Oostpost (II).
Namun pelanggannya tetap hanya beberapa ratus orang. Apalagi dengan dibangunnya jalur KA Surabaya-Malang, kepentingan atas Pasuruan semakin kecil.
Jumlah masyarakat Eropa yang tinggal di Pasuruan semakin sedikit. Mereka memilih pindah ke Malang.
"Sedikit banyak kondisi ini memukul kondisi surat kabar di Pasuruan yang terus merosot. Sehingga 1884 pun tutup," tutur Budiman. (riz/one)
Editor : Jawanto Arifin