MASJID Agung Al Anwar Kota Pasuruan memiliki sejarah panjang. Dibangun dari tanah hibah pemberian Bupati Pangeran Ario Nitiadiningrat, masjid ini telah mengalami renovasi hingga lima kali. Hingga kini, masjid tersebut masih kokoh berdiri.
Layaknya masjid jami' atau masjid agung di Pulau Jawa, Masjid Agung Al Anwar dibangun di tengah-tengah kota, berdekatan dengan alun-alun.
Melambangkan hablum minallah atau hubungan dengan Allah dan hablum minannas atau hubungan dengan manusia yang saling berhungan erat.
Masjid ini didirikan oleh Mbah Hasan Sanusi atau yang dikenal dengan Mbah Slagah, ulama besar Pasuruan yang makamnya berada di Kelurahan Pekuncen, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan.
Tidak diketahui pasti kapan pembangunan masjid ini. Namun diperkirakan, masjid tersebut berdiri sejak kisaran 1759 Masehi.
Atau 14 tahun setelah Pondok Pesantren Sidogiri didirikan di Sidogiri, Kabupaten Pasuruan.
"Diperkirakan berdiri tidak lama setelah Ponpes Sidogiri. Karena Ponpes Sidogiri yang dibangun oleh menantu Mbah Semendi, yakni Mbah Sulaiman itu lebih tua daripada mbah Hasan Sanusi," kata Ketua Takmir Masjid Agung, KH Abdulloh Shodiq.
Konon pada masa itu, pemerintah Kolonial Belanda ingin menguasai Pasuruan sepenuhnya.
Mereka mencoba mendekati Pangeran Ario Nitiadingrat dengan memberikan hibah tanah agar masyarakat tunduk.
Namun bukannya padam, perlawanan rakyat Pasuruan justru tambah meningkat.
Salah satu pejuang yang paling terkenal pada masa itu, adalah Mbah Hasan Sanusi.
Ia adalah pejuang dan ulama. Putra dari Mbah Saad Sakaruddin bin Sholeh Semendi.
Nah, setelah pertempuran berakhir, bupati memberikan tanah pada Mbah Hasan Sanusi.
Tanah ini digunakan untuk membangun masjid. Kebetulan pada masa itu, belum ada masjid.
"Oleh kanjeng pengeran diminta agar dibangun di dekat alun-alun. Saat itu, Masjid Agung belum seperti sekarang. Saat pertama dibangun, luasannya hanya 1.000 meter," kata Gus Dulloh-sapaan KH Abdulloh Shodiq.
Mbah Hasan Sanusi langsung mengiyakan. Kebetulan, komplek alun-alun dipilih karena adanya filosofis Hablum Minalloh dan Hablum Minannas.
Di mana alun-alun terjadi banyak interaksi manusia. Mulai dari ekonomi, hingga kemasyarakatan.
Mengalami Renovasi Lima Kali
Sejak dibangun pertama kali oleh Mbah Hasan Sanusi, terhitung Masjid Agung telah lima kali mengalami renovasi.
Dari awalnya hanya seluas 1.000 meter persegi. Kini Masjid Agung memiliki luas 3.730 meter persegi.
Ketua Takmir Masjid Agung, KH Abdulloh Shodiq menuturkan sejak awal pertama berdiri, Masjid Agung ini menjadi pusat keagamaan.
Masyarakat dari penjuru Pasuruan datang untuk menunaikan ibadah. Terhitung ada lima fase pengembangan Masjid Agung ini.
Fase pertama adalah masa Mbah Arsyad bin Sofiuddin sekitar tahun 1800.
Ia adalah Pengasuh Pondok Salafiyah dan menantu dari Mbah Hamdani yang mendirikan pondok Salafiyah pada 1800.
Saat itu, struktur bangunan masjid direnovasi. Dengan mengganti bangunan yang sudah tidak layak.
Lalu fase kedua diprakarsai oleh Kyai Nawawi bin Khatam. Saat itu, masjid dilebarkan hingga memiliki luasan 1.500 meter persegi.
Dan posisi mihrab di sebelah selatan dipindah. Sehingga posisinya berada di tengah.
Kemudian fase ketiga diprakarsai oleh Kyai Sahalullah bin Mastar bin Kyai Dhohir bin Alwi, kakek dari Gus Dulloh-sapaan KH Abdulloh Shodiq.
Saat itu, bangunan masjid diperluas ke arah timur. Kemudian dilanjutkan lagi di fase keempat oleh Kyai Ahmas Bin Sahal dan Kyai Imam Bin Tohir. Masjid dilebarkan ke arah utara dan selatan.
Sehingga masjid memiliki luasan 3.700 meter persegi. Terakhir pada 1995. Fase kelima ini diprakarsai oleh Kyai Ahmad Sholeh bin Sahal dan Kyai Muhammad Zaki Ubay.
Pada masa ini, masjid ditinggikan menjadi dua lantai dan membangun menara.
Pada pembangunan menara ini, ada kisah menarik. Saat belum rampung 100 persen, ternyata menara menjadi miring.
Kyai Ahmad Sholeh dan Kyai Zaki Ubay melaporkan kejadian ini pada Kyai Abdul Hamid.
Sebab keterangan dari arsitek bangunan yang miring ini, tidak bisa diperbaiki. Mendapat laporan ini, Kyai Hamid datang dan melihat menara.
"Ia memegang menara sembari berdoa. Keesokan harinya, terjadi lindu. Dan saat dilihat, menara sudah berdiri dalam posisi lurus. Tidak lagi miring seperti sebelumnya," jelas Gus Dulloh.
Jadi Pusat Pendidikan dan Keagamaan
Bangunan Masjid Agung Al Anwar kini tidak lagi asli seperti saat dibangun pertama kali.
Perluasan dan pengembangan masjid, membuat tempat ibadah umat Islam ini mengalami perubahan. Namun lokasinya tidak pernah berubah sejak saat dibangun.
Ketua Takmir Masjid Agung Al Anwar, KH Abdulloh Shodiq menuturkan bangunan masjid sudah tidak asli seperti awal dibangun.
Bahkan, empat tiang yang tersedia di awal masjid berdiri, sudah dihibahkan. Memang saat pertama renovasi sempat ada perdebatan.
Sebab ada kelompok yang tidak setuju, dengan alasan bangunan masjid tidak boleh berubah.
"Namun renovasi dan pengembangan ini kan untuk memberikan kenyamanan pada masyarakat untuk beribadah. Jadi renovasi tetap harus dilakukan," tutur Gus Dulloh-sapaannya.
Bukti lainnya bangunan masjid sudah banyak berubah, adalah areal makam di sisi barat masjid.
Di sini ada makam bupati pasuruan keluarga adiningrat yang dikenal sebagai Mbah Surga-Surgi hingga Kyai Hamid.
Dahulunya, ada jalan antara tembok masjid dengan makam. Namun karena masjid terus mengalami perluasan, maka tembok makam dengan masjid pun berhimpitan.
Bahkan saat awal berdiri, masjid ini hanya dikenal sebagai Masjid Agung.
Barulah pada 2000-an, masjid diberi nama Masjid Agung Al Anwar usai masjid tidak hanya menjadi pusat ibadah, namun juga pendidikan. Di lantai dua masjid tersedia perpustakaan.
"Ada juga TPQ buat anak-anak yang ingin belajar mengaji. Masyarakat juga bisa mengakses buku-buku di lantai dua secara gratis," kata Ketua MUI Kota Pasuruan ini.
Kini, masyarakat bisa beribadah lebih nyaman. Sebab, di areal masjid dibangun Payung Madinah oleh Pemkot Pasuruan.
Saat ibadah salat Idul Fitri atau Idul Adha, Payung Madinah dibuka untuk memberikan kenyamanan beribadah para jemaah. (riz/one)
Editor : Jawanto Arifin