GEDUNG Asrama Putri Santo Yoseph di Jalan dr Mohamad Saleh, Kota Probolinggo menjadi bagian dari sejarah.
Sebelum kemerdekaan, bangunan tersebut dikenal dengan nama Zustershuis te Probolinggo. Meski hampir satu abad, bangunannya bertahan hingga sekarang.
Dalam bahasa Belanda Zustershuis berarti rumah suster atau asrama suster atau tempat tinggal para suster (biarawati).
Pegiat sejarah Pojok Literasi Kota Probolinggo, Edi Martono mengatakan bahwa asrama ini dikelola oleh kongregasi para suster dari Amersfoort atau disebut Zuzters van Onze Lieve Vrouw van Amersfoort atau yang dikenal dengan nama kongregasi para suster Santa Perawan Maria (SPM).
“Dahulu hanya ditampung dalam sebuah rumah. Namun karena makin hari makin banyak muridnya, maka dibutuhkan tempat yang lebih besar dengan fasilitas yang layak,” ujarnya.
Pembangunan gedung yang saat ini menjadi asrama putri tersebut dilakukan pada 1 Agustus 1929. Tepatnya pada pemerintahan Wali Kota Ferdinand Edmond Meijer.
Lebar depannya sepanjang 45 meter. Ruang makan, dapur, dan sebagainya ditata di lantai bawah. Sedangkan lantai dua, khusus digunakan sebagai ruang tidur.
Gedung ini dirancang oleh Wagemans dan pelaksana proyeknya adalah Kong Lie Gwan, di bawah arahan ahli Mr. Evers.
“Selain itu, wali kota saat itu juga turut memberi saran teknis bersamaan dengan direktur PU. Sehingga, tidak heran bila gedungnya memiliki kualitas yang baik, kuat, dan kokoh. Kesulitan-kesulitan dalam pembangunannya juga teratasi,” ungkap Edi.
Pada 30 April 1932, gedung tersebut lantas diresmikan oleh Pater Clemens van der Pas, O.Carm.
Ada juga sejumlah pastor yang turut menghadiri acara tersebut, seperti dari Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Jember.
“Dalam prosesi peresmian, doa-doa dipanjatkan dan monsinyur menyampaikan pidato kepada para suster. Begitupun Wali Kota Ferdinand Edmond Meijer, ia mengucapkan selamat dan berjanji akan memberikan bantuan untuk pekerjaan misionaris ini,” kata Edi.
Masa-Masa Sulit pada Pemerintahan Jepang
Saat Jepang mulai menduduki Indonesia sekitar 1942, semua sekolah di Probolinggo dilarang menggunakan Bahasa Belanda atau terpaksa ditutup.
Bahkan, para suster tidak diizinkan untuk mengajar di kelas, meskipun sekolah menggunakan Bahasa Jawa dan Melayu.
“Pada tahun 1943, semua suster Belanda tinggal di camp. Beberapa biara dibiarkan kosong. Kecuali di Probolinggo. Karena di sini ada lima suster beserta empat novis muda dan 29 anak yang menyelamatkan biara,” kisah Pegiat sejarah Pojok Literasi Kota Probolinggo, Edi Martono.
Edi mengatakan, pada masa pendudukan Jepang, para rohaniawan dan budayawan, termasuk sejumlah pemimpin Katolik bumiputra, ditahan.
Layanan para misionaris untuk pendidikan dan kesehatan pun nyaris macet.
“Tapi, masih ada beberapa yang tersisa dan tetap berusaha turun ke daerah-daerah, untuk menenangkan umat dan memberikan pelayanan,” ungkapnya.
Baru setelah masa kemerdekaan dan Jepang menyerah, para suster dapat menjalankan aktivitas seperti sedia kala.
Meski deklarasi Indonesia merdeka terjadi pada tahun 1945, namun situasi baru kembali normal pada 1947. “Semua suster kembali dan sekolah-sekolah dapat dibuka kembali,” sampainya.
Menjadi Asrama Putri Santo Yoseph
Bangunan asrama tak banyak mengalami perubahan. Jendela-jendela lebar nan kokoh tampak dari depan gedung tersebut.
Ditambah sentuhan pepohonan dan taman, membuat gedung ini tampak asri.
Ada tiga ruang tidur yang disediakan bagi para siswa. Kemudian ada ruang makan, ruang belajar, ruang komputer, dan ruang ganti.
“Saat ini, ada 82 orang yang menghuni di sini. Para siswa yang terdiri dari SD hingga SMA. Biasanya kalau untuk kegiatan rutin tiap tahun, ada peringatan ulang tahun asrama, 17 Agustus, natal, dan tahun baru,” ungkap salah satu staff asrama, Martinah, 30. (gus/one)
Editor : Jawanto Arifin