SEBUAH masjid berdiri megah di tepi jalan Surabaya-Malang, Desa Glagahsari, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan.
Masjid tersebut dibangun pada era kolonial Belanda, tahun 1890 silam. Siapa yang menyangka, kalau dahulu masjid tersebut hanya berukuran kecil dan terbuat dari kayu.
Masjid tersebut bernama Masjid Besar Al-Mukhlashin Sukorejo. Bangunan masjid itu tampak mencolok, ketika melintas dari arah Surabaya-Malang.
Selain berada tepat di tepi jalan, juga karena ketinggiannya yang cukup menjulang.
Terutama pada kubah masjid dan menaranya. Masing-masing memiliki ketinggian hingga kisaran 22 meter dan 45 meter.
Uniknya, saat malam tiba, hiasan lampu menyala indah dan menawan.
Di balik kemegahannya itu, Masjid Besar Al-Mukhlashin Sukorejo memiliki sejarah yang panjang.
Menurut Wakil Nadzir Masjid Besar Al-Mukhlashin Sukorejo, KH Yazid Manan masjid ini dibangun pada zaman penjajahan Belanda, tahun 1890 lalu.
Pendirinya adalah Sayyid Ali Alaydrus, orang keturunan Arab dari Aceh.
Saat awal dibangun, bentuknya tidak semegah seperti sekarang. “Dahulu, bentuknya kecil. Serta terbuat dari kayu,” ungkapnya.
Ia menambahkan, Sayyid Ali Alaydrus merupakan perantau yang kemudian menetap di Desa Glagahsari, Kecamatan Sukorejo.
Kisahnya sampai ke tanah Jawa, cukup memilukan. Ketika itu, ia merupakan tahanan Belanda.
Pihak Belanda membawanya dari Aceh menuju tanah Jawa. Namun, saat melintas di Kali Brantas, ia memilih untuk melompat.
Sehingga, ia berhasil kabur. Serta selamat setelah berenang mengikuti arus sungai. Hingga akhirnya, ia menepi di daerah Kali Porong.
“Sayyid Ali Alaydrus sempat tinggal di Porong, Kabupaten Sidoarjo. Bahkan, ia menikah dengan Mutmainah. Keduanya kemudian merantau dan memilih untuk menetap di Sukorejo. Lalu, membangun masjid ini dan waktu itu belum dinamai seperti sekarang,” ungkap tokoh agama Kecamatan Sukorejo tersebut.
Saat itu, bangunan masjid didirikan sangat sederhana. Sempat mengalami rehab. Kayu-kayu penopang digantikan dengan besi.
Konon, setelah rehab tersebut, bangunan masjid sempat menghilang. Hingga beberapa saat kemudian, muncul kembali.
“Karena itu dalam sejarahnya, masjid ini juga disebut masjid tiban. Tidak banyak orang yang tahu. Hanya beberapa saja yang mengetahui sejarah tersebut,” sampainya.
Di depan masjid, ada makam. Makam itu, milik pendiri masjid ini. Di lokasi yang sama, juga ada makam Sekjen Kedua PBNU, KH Abdul Aziz Diar.
“Beliau merupakan cucu dari Sayyid Ali Alaydrus,” bebernya.
Kini, Masjid Besar Al-Mukhlashin Sukorejo tampak megah dan luas. Bangunannya berlantai dua.
Ada dua kubah dan menara yang menyertainya. Bangunan masjid tersebut, sudah mengalami empat kali rehab.
“Menara masjid dibangun tahun 2003. Sebelumnya, direhab dan dibangun lebih dahulu bangunan kubahnya,” tuturnya.
Jadi Jujukan Peziarah dari Berbagai Daerah
Selain megah, Masjid Besar Al-Mukhlashin Sukorejo juga memiliki sarana dan prasarana yang lengkap.
Salah satunya, lahan parkir yang disediakan, cukup luas. Mampu menampung motor, mobil pribadi bahkan bus. Selain itu, ada toilet sebanyak 30 titik.
Di samping itu, ada pula empat kamar penginapan, rest area atau pusat kuliner berjumlah 17 kios. Serta perpustakaan, gedung aula hingga pertokoan.
“Semua sarpras tersebut adalah aset milik masjid. Dibangun untuk pengembangan usaha dam mendukung kegiatan masjid,” jelas Ketua Takmir Masjid Besar Al-Mukhlashin Sukorejo, HM Anjumil Azhari Ubaidillah.
Selama Ramadan, banyak kegiatan yang diselenggarakan di masjid setempat.
Seperti pengajian rutin menjelang berbuka puasa dan penyediaan takjil sebanyak 300 nasi kotak setiap harinya. Serta salat lima waktu berjamaah, tarawih dan tadarus.
“Kuliah subuh juga digelar setiap hari, dengan pemateri dari sekitaran Pasuruan dan juga dari luar daerah,” bebernya.
Di luar Ramadan, beragam kegiatan juga ada di masjid ini. Diantaranya majelis taklim dan kuliah subuh.
Juga ada tahlilan dan istighosah sepekan sekali, serta beberapa kegiatan lainnya.
“Setiap Senin pagi, ada pengajian untuk kaum hawa, yang datang dari sekitaran Pasuruan,” paparnya.
Masjid Besar Al-Mukhlashin Sukorejo beroperasi selama 24 jam non stop. Ada petugas kebersihan dan security yang bersiaga.
Untuk memastikan keamanan dan kenyamanan bagi jemaah, masjid setempat juga dilengkapi kamera CCTV yang terpasang di sejumlah titik.
Tidak hanya dikenal oleh warga di Kecamatan Sukorejo dan sekitaran Pasuruan saja.
Masjid Besar Al-Mukhlashin Sukorejo juga dikenal masyarakat dari berbagai daerah di Jatim. Bahkan Jateng, Jabar hingga Kalimantan.
Masjid ini, juga menjadi jujukan para musafir. Terutama rombongan peziarah dari berbagai daerah dari Malang, Madura, Banyuwangi, Jateng dan Jabar.
“Saat ziarah ke makam-makam wali, rombongan peziarah dari berbagai daerah tersebut, seringkali singgah dan transit ke masjid ini. Memang sudah dikenal. Tentunya untuk salat, sekaligus menikmati kuliner di rest area,” tutur pria yang juga Ketua Tanfidz MWC NU Sukorejo tersebut. (zal/one)
Editor : Jawanto Arifin