MASJID Agung Kota Probolinggo atau Masjid Raudlatul Jannah berdiri megah di Jalan Agus Salim, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo.
Siapa sangka, masjid ini telah terbangun sejak tahun 1770 atau sudah sekitar 255 tahun lamanya. Dahulu masjid ini pernah berjuluk Masjid Jamik.
“Masjid ini dibangun pada masa pemerintahan bupati kedua Probolinggo, yakni Raden Tumenggung Djojonegoro alias Kanjeng Djimat. Ia memerintah Probolinggo sejak 1768 hingga 1805,” kata Pegiat sejarah Pojok Literasi Kota Probolinggo, Edi Martono.
Edi mengatakan, pada masa VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie), Belanda memang tak berfokus pada penyebaran agama Kristen.
Sehingga masyarakat masih dengan bebas menganut agama yang dikehendakinya.
“Pada masa VOC masih lebih menekankan prinsip gold and glory saja. Tidak dengan gospel. Sebab prioritas utama mereka, adalah berdagang untuk keuntungan ekonomi dan kekuasaan politik,” imbuhnya.
Edi melanjutkan, pada pemerintahan Raden Tumenggung Djojonegoro, pusat pemerintahan diletakkan di area Benteng, Kecamatan Mayangan.
Sehingga masjid tersebut diletakkan di dekat pusat pemerintahan.
Semula, bentuknya kecil. Namun lambat laun menjadi besar, seiring renovasi yang dilakukan dengan mengikuti perkembangan jemaah.
Berdasarkan foto yang dihimpun Jawa Pos Radar Bromo, pada masa awal pendirian masjid masih tampak kecil.
Kemudian setelah renovasi, masjid sudah tampak lebih besar. Masjid tersebut menggunakan atap genting dengan kubah kecil di tengahnya.
Sementara ada satu menara di sisi utara. Bangunannya pun bernuansa khas Eropa.
Mengalami Empat Kali Pemugaran
Nama Masjid Raudlatul Jannah diambil dari dua kata Bahasa Arab. Yakni Raudlatul yang artinya Taman dan Jannah yang artinya Surga.
“Kami berharap, masjid ini layaknya taman surga bagi seluruh jemaah dan masyarakat sekitar terutama di Kota Probolinggo,” kata Ketua Badan Pengelola Masjid Agung, H. Abd Aziz.
Aziz mengatakan, Masjid Raudlatul Jannah telah mengalami empat kali pemugaran.
Terakhir pada 2022 lalu. Kini Masjid Agung Raudlatul Jannah memiliki dua lantai dengan total luas, mencapai 4.720 meter persegi dan mampu menampung 3.500 jemaah.
Bentuk arsitekturnya pun berubah dari yang dahulunya bernuansa Eropa, kini telah bernuansa modern.
Kubahnya kini lebih besar. Begitupun menaranya. Tak lagi hanya satu di sisi utara, melainkan juga ada di sisi selatan.
“Sisa peninggalan sejarah dari masjid ini, salah satunya adalah Bedug yang sudah ada sejak masjid ini berdiri. Saat ini, bedug tersebut kami letakkan di teras masjid dan ditabuh ketika masuk waktu azan,” imbuhnya.
Tak hanya bedug, pada 2022 ada juga Al Quran Akbar di dalam masjid. Quran ini memiliki tebal 25 sentimeter, panjang sekitar 1,5 meter, lebar 1 meter dan terdiri dari 310 lembar.
Kertasnya terbuat dari art paper 140 gram, dengan tulisan tangan yang tahan air. Kemudian dijilid dengan bahan kayu hardplex dilapisi oscar.
“Harapannya, Quran ini bisa menjadi bentuk syiar agama Islam. Kemudian sebagai bahan motivasi dan inspirasi bagi masyarakat Kota Probolinggo untuk meneruskan karya serupa. Serta dapat menjadi daya tarik wisata religi di Kota Probolinggo,” ujar Aziz.
Sementara untuk ruangan masjid, juga telah mengalami renovasi. Beberapa ruangan dibangun.
Tak hanya berfungsi sebagai tempat salat. Ada juga ruang sekretariat, perpustakaan, bendahara, imaroh, ruang CCTV, satpam, ruang imam, toilet dan ruang TPQ anak.
“Nantinya, akan kami kembangkan juga ruangan khusus musafir. Sebab selain menjadi salah satu destinasi wisata religi, lokasi masjid ini berdekatan dengan stasiun kereta api. Barangkali nantinya, ada musafir dari luar kota yang hendak istirahat sejenak di sini,” sampainya.
Sementara terkait kegiatan yang biasanya digelar di Masjid Raudlatul Jannah, meliputi salat wajib 5 waktu berjamaah setiap hari, salat Jumat, kajian kitab fiqih, pengajian rutin, kuliah subuh, peringatan hari besar Islam, TPQ, pelaksanaan salat Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha tiap tahunnya. (gus/one)
Editor : Jawanto Arifin