ETNIS Tionghoa di Indonesia yang semula hanya berniat singgah, kemudian beralih menetap dan membentuk sebuah perkumpulan tersendiri bernama Tionghoa peranakan.
Ini dikarenakan beberapa di antara lelaki etnis tersebut, menikah dengan wanita pribumi. Sehingga keturunannya disebut Tionghoa peranakan.
Sementara, Belanda masuk ke Nusantara untuk melakukan kegiatan ekonomi. Karena Indonesia dikenal kaya, akan hasil rempah-rempahnya.
Belanda mulanya bermitra dagang dengan warga Tionghoa. Namun, hubungan keduanya berubah setelah terjadinya pembunuhan warga Tionghoa tahun 1740 silam.
Setelah kejadian itu, pihak Belanda mulai mengatur warga Tionghoa di Indonesia. Mulai dengan kebijakan Wijakenstelsel dan Passenstelsel.
Pihak Belanda lantas membuat kampung-kampung tersendiri untuk orang Tionghoa. Hal ini dikarenakan, adanya kekhawatiran bila orang Tionghoa dan masyarakat Bumiputera bersatu, dapat menentang pemerintah Belanda.
Alhasil perilaku Etnis Tionghoa pun menjadi terbatas akibat adanya diskriminasi. Termasuk dalam bidang pendidikan.
Orang-orang Tionghoa mendapat perlakuan tak adil, dalam mengenyam pendidikan yang layak.
Pemerintah Belanda hanya mendirikan sekolah untuk Bangsa Belanda dan Bumiputera dari kalangan elit.
Sehingga, tanggal 17 Maret 1900 berdirilah perkumpulan Tionghoa yang disebut Tiong Hoa Hwe Koan (THHK) di sebuah rumah di Jalan Patekoan, Batavia.
“Saat itu, kegiatan tersebut dihadiri oleh 20 orang peserta. Organisasi ini dipimpin oleh seorang presiden bernama Phoa Keng Hek,” kata Pegiat sejarah Pojok Literasi Kota Probolinggo, Edi Martono.
THHK menyebarluaskan kebiasaan dan moral Cina. Menggalang persatuan orang Tionghoa, perantauan tanpa membedakan asal kampung dan provinsi mereka di Tiongkok.
Serta antara Tionghoa peranakan dengan Tionghoa totok. Selain itu, juga untuk memberikan pendidikan yang layak bagi orang Cina.
“Setahun setelah didirikan, THHK mendirikan yang disebut Patekoan Tiong Hoa Hwee Koan (PAHOA), dengan kepala sekolah bernama Low Koei Hong. Dinamakan demikian, karena lokasinya ada di Jalan Patekoan,” ujar Edi.
Sistem pengajaran yang digunakan sebelum adanya sekolah PAHOA adalah metode kuno.
Di mana, hanya mempelajari kitab-kitab kuno tanpa mengerti artinya terlebih dahulu. Anak-anak belajar menulis dan menghafal huruf-huruf Cina yang banyak jumlahnya.
Sementara bahasa pengantarnya, menggunakan pengantar Tsia Djie (Tjeng-im).
Sistem pertama pada tahun 1901 sampai 1908 yang diterapkan pada PAHOA, adalah sekolah dasar (SD) wajib selama enam tahun.
Karena sekolah Tionghoa ini baru berdiri, maka belum ada sekolah menengah pertama (SMP) sampai tahun 1925. Lulusannya jika ingin melanjutkan sekolah, maka harus ke Tiongkok.
“Baru pada tahun 1925 ini, PAHOA menganut trilingual pertama yang mengajarkan 3 bahasa. Yaitu Bahasa Tionghoa, Inggris dan Belanda kepada muridnya,” ungkap Edi.
Berdirinya Hollandsch Chineesche School (HCS)
Pertumbuhan sekolah-sekolah swasta Cina yang mengembangkan sistem pendidikan sendiri, mengejutkan pemerintah Kolonial Belanda. Karena hal tersebut, luput dari kontrol mereka.
Pada tahun 1906 saja, sudah ada 76 sekolah dasar dengan jumlah 6.393 murid. Bahkan pada 1915, sekolah-sekolah berbahasa Mandarin, mempunyai 16.499 siswa.
Sementara sekolah-sekolah berbahasa Belanda, hanya mempunyai 8.060 orang siswa.
Pemerintah Belanda saat itu, memutuskan untuk membuat Hollandsch Chineesche School (HCS) pada tahun 1908.
Sekolah ini, membuka peluang untuk anak-anak keturunan Tionghoa dapat bersekolah.
HCS sendiri menggunakan Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantarnya. Sama dengan sekolah lainnya, yang dibuat oleh Belanda.
“HCS mempunyai dasar kurikulum yang sama dengan Europeesche Lagere School (ELS). Di Kota Probolinggo sendiri, gedung HCS ini terletak di Jalan dr Mohammad Saleh yang sekarang menjadi SMP Negeri 1 Kota Probolinggo,” beber Pegiat sejarah Pojok Literasi Kota Probolinggo, Edi Martono.
Kini Menjadi SMP Negeri 1 Kota Probolinggo
SMP Negeri 1 Kota Probolinggo diketahui mulai berdiri sejak 11 Januari 1949. Saat ini, ada sekitar 722 siswa yang mengenyam pendidikan di sana.
Sementara ruangan yang dinilai memiliki nilai cagar budaya, terletak di depan sisi timur.
Ada 4 ruangan yang memiliki struktur bangunan dengan dinding yang tebal, jendela krepyak kayu yang lebar. Serta plafon yang tinggi terbuat dari kayu.
“Bentuknya tidak pernah kami ubah. Hanya kami rawat dengan cara pengecatan ulang saja. Ruangan tersebut, kini kami manfaatkan sebagai ruang kelas untuk kelas 9.4, 9.5, 9.6 dan 9.7,” kata Wakasek Bidang Kesiswaan SMP Negeri 1 Kota Probolinggo, Aldila Santy Aprilia.
SMP Negeri 1 Kota Probolinggo juga pernah menjadi Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) sejak 2007.
Sayangnya, ketentuan RSBI lantas dihapuskan pada 2013. Kegiatan siswa selain belajar, ada juga beberapa ekstrakulikuler di SMP Negeri 1 Kota Probolinggo.
“Mulai dari Pramuka, PMR, jurnalistik, lalu olahraga semacam sepak bola, voli, basket dan sebagainya. Dari kegiatan siswa tersebut, Alhamdulillah selama setahun kemarin, kami berhasil mendulang 104 prestasi pada ajang-ajang kejuaraan tingkat kota hingga internasional,” imbuhnya.
Sejak masa berdirinya hingga saat ini, ada juga beberapa bagian sekolah yang direnovasi.
Rumah penjaga sekolah di sisi belakang sekolah yang dahulu juga berjualan bakso, kini dijadikan pujasera alias kantin sekolah. Kemudian ruang kelas di sebelah barat.
“Dahulu ruang kelas hanya satu lantai. Kini direnovasi menjadi dua lantai, menerus hingga ke sisi selatan dan ke timur. Lalu musala juga dimanfaatkan sebagai ruang kelas. Sementara masjid, dibangun di depan sebelah barat,” ujar Aldila. (gus/one)
Editor : Jawanto Arifin