Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Jejak Sekolah Pertukangan Pertama di Probolinggo, Sekolah Peninggalan Belanda yang Menjadi Cikal Bakal SMP Negeri 9 Probolinggo

Inneke Agustin • Minggu, 5 Januari 2025 | 17:10 WIB
TEMPO DULU: Sejumlah murid yang sedang melakukan praktek teknik di Inlandsch Ambachtsschool te Probolinggo
TEMPO DULU: Sejumlah murid yang sedang melakukan praktek teknik di Inlandsch Ambachtsschool te Probolinggo

Pendidikan di masa kolonial terstruktur dan terorganisir. Belanda mendirikan berbagai jenis sekolah dengan sistem dan kurikulum yang berbeda, sesuai dengan kelas sosial dan keturunan.

Selain untuk mengajarkan ideologi dan budaya Belanda, pendidikan di Hindia Belanda tidak lepas dari kebutuhan akan sumber daya manusia yang mumpuni atau sesuai dengan bidangnya.

----------------

Tumbuhnya sektor industri, menjadikan pemerintah Belanda banyak membutuhkan tenaga kerja.

Mendesaknya kebutuhan tenaga kerja, dijelaskan dalam surat-surat menteri jajahan, kepada Gubernur Jenderal tentang kebutuhan akan tenaga ahli, yang berpendidikan. Atau memiliki keterampilan di bidang industri dan kerajinan.

Demi menyediakan kebutuhan pekerja ahli, berpendidikan dan memiliki keterampilan, pemerintah Belanda mendirikan beberapa sekolah bagi golongan Indo-Eropa.

Golongan yang terlahir dari perkawinan campuran antara orang Indonesia asli dengan orang Eropa.

Salah satu sekolah tersebut adalah Ambachtsschool atau sekolah kejuruan pertama atau sekolah tukang pertama.

Di Indonesia, Ambachtsschool pertama kali didirikan di Kalikosok-Surabaya pada 1853.

Namun, dalam perkembangannya sekolah ini mengalami pasang surut. Ambachtschool beberapa kali mengalami buka tutup.

Meski demikian, keberadaan Ambachtsschool membawa dampak bagi kondisi pendidikan, ekonomi maupun sosial masyarakat.

Terutama dalam mencetak tenaga terdidik, yang siap menjadi pekerja dalam sektor industri.

“Banyak dari lulusan sekolah ini menjadi pengawas atau mandor dan sebagian menjadi guru, di sekolah pertukangan lainnya,” terang Pegiat sejarah Pojok Literasi Kota Probolinggo, Edi Martono.

Dilansir dari De Indische Courant tanggal 31 Mei 1930, sistem pendidikan di Ambachtsschool masih menggunakan pengantar Bahasa Belanda.

Sementara bidang mata pelajaran yang diajarkan, meliputi pertukangan, ahli mesin, tukang tempa logam, hingga teori kerja dan menggambar.

“Durasi pendidikannya antara 3 sampai 4 tahun. Khusus ahli mesin harus menempuh pendidikan selama 4 tahun. Sementara yang lainnya cukup 3 tahun. Dengan bersekolah 4 tahun, biasanya lebih dipercaya untuk menjadi pengawas kepala. Sedangkan untuk yang di bawah itu, bisa menjadi pengawas komersial,” kata Edi. 

 

KORAN BELANDA: Kliping koran Belanda yang berisi tentang permbukaan Inlandsch Ambachtsschool te Probolinggo
KORAN BELANDA: Kliping koran Belanda yang berisi tentang permbukaan Inlandsch Ambachtsschool te Probolinggo

Sekolah Khusus Warga Pribumi

Sebelumnya, Ambachtsschool memang hanya diperuntukkan bagi golongan Indo-Eropa.

Namun setelah adanya politik etis pada 1901, memberikan peluang bagi golongan pribumi untuk bisa mendapatkan haknya sebagai rakyat, termasuk dalam hal pendidikan.

Pendidikan yang dilakukan di tanah jajahan, harus berdasar prinsip keadilan, kedamaian dan memberikan pencerahan.

Sehingga melalui surat keputusan pemerintah kolonial nomor 27 tertanggal 1 Oktober 1909 serta atas pertimbangan moral, pemerintah kolonial pun meningkatkan kesejahteraan golongan pribumi.

Dengan mendirikan sekolah pertukangan atau kerajinan khusus bagi golongan pribumi, yang disebuat Inlandsch Ambachtsschool.

“Sekolah ini menerima lulusan dari Hollandsch-Inlandsche School (HIS), Hollandsch-Chineesche School (HCS) dan Schakelshool (Sekolah Rakyat),” tutur Edi.

Edi mengatakan, bahwa Inlandsch Ambachtsschool di Kota Probolinggo didirikan di Jalan Wonoasehweg (sekarang Jalan HOS Cokroaminto).

Saat ini, bangunan tersebut telah beralih fungsi menjadi SMP Negeri 9 Probolinggo. Bangunan tersebut diduga mulai didirikan pada 1925.

“Sesuai plakat yang dahulu pernah saya temukan di salah satu dinding depan sekolah, bertuliskan 1925. Namun plakat tersebut saat ini sudah hilang. Kemungkinan terdampak renovasi gedung,” ujarnya

 

KINI: Tampak depan SMP Negeri 9 Probolinggo yang dahulu pernah menjadi Inlandsch Ambachtsschool te Probolinggo
KINI: Tampak depan SMP Negeri 9 Probolinggo yang dahulu pernah menjadi Inlandsch Ambachtsschool te Probolinggo

Berdirinya SMP Negeri 9 Probolinggo

Sejarah SMP Negeri 9 Probolinggo baru tercatat sejak masa peresmiannya, yakni Senin 17 Desember 1928 oleh Residen Probolinggo. Hal ini tercatat dalam De Indische Courant.

“Sebetulnya mau dibuka mulai 1 Juni 1928. Namun ternyata mundur hingga akhir tahun. Sebelum menempati gedung baru, kegiatan belajar mengajar masih menempati ruang yang ada di komplek bekas benteng di Mayangan,” jelas Kepala SMP Negeri 9 Probolinggo, Qamaruddin.

Acara peresmian gedung Inlandsch Ambachtsschool ini, dihadiri Residen Pasuruan, otoritas setempat dan seluruh siswa dari berbagai sekolah.

Pada masa itu, kompleks bangunan yang ditata dengan rapi, dihias dengan tanaman hijau, bendera dan karangan bunga, membuat kesan segar dan meriah.

Qamar-sapaannya mengatakan bahwa setelah Indonesia merdeka, nama Inlandsch Ambachtsschool berubah menjadi Sekolah Teknik Negeri (STN) 1.

Namun meski namanya berubah, kurikulumnya masih sama. STN tetap menjadi sekolah kejuruan yang mempunyai jurusan pertukangan dan permesinan.

“Lulusannya bekerja ke industri yang ada di sekitar Probolinggo. Seperti pabrik-pabrik gula,” ujarnya.

Baru pada 1991, nama STN beralih fungsi menjadi sekolah umum. Yakni SMP Negeri 9 Probolinggo hingga sekarang.

Tiga tahun setelahnya, sekolah tersebut sempat kembali menjadi sekolah kejuruan dengan nama SMP Keterampilan Plus. Namun pada 1995, Kementerian mengembalikan lagi menjadi SMP Umum hingga sekarang.

Walau status dan namanya beberapa kali berubah, tampilan gedung dari sekolah ini masih tak jauh berbeda.

Sudut-sudut ruangannya masih menampakkan gaya kolonial. Ada beberapa ruangan yang dahulu digunakan sebagai ruang praktek, kini menjadi ruang kelas.

Dahulu, di sana banyak alat-alat praktek seperti meja gambar, ragum dan mesin bubut.

“Rangka kayu pada bangunannya pun masih asli dari zaman Belanda, pakai Kayu Jati. Kemudian ada anyaman besi untuk ventilasi ruangan. Selain itu, ada ruang kelas yang sekarang dimanfaatkan sebagai ruang guru. Sementara rumah dinas kepala sekolah, sekarang menjadi UKS,” tutur Staff TU SMP Negeri 9 Probolinggo, Misrun Sahroni.

Misrun menambahkan, pembangunan SMP 9 Kota Probolinggo bergerak dari arah timur ke barat atau dari depan ke belakang.

Kini, telah banyak ruang kelas yang berdiri di atas lahan kurang lebih sehektar tersebut.

“Dahulu juga tidak ada pagarnya. Sekarang sudah dipagar. Kegiatan murid pun beragam. Mulai dari pelajaran umum hingga ekstra kulikuler. Seperti pramuka, PMR, panjat tebing dan yang lain,” terangnya.

Seiring perkembangannya, Kepala SMP Negeri 9 Probolinggo juga beberapa kali telah berganti. Mulai dari Arijono (ST-1984), Arbanun (1984-1991), Wasito Djinarwi (1992-2000), Budi Wahyu Rianto (2000-2001), Suhariyanto (2001-2005), Supadil (2005-2008), Eko Cahyono (2008-2009), Maryanto (2009-2014), Subaidah (2014-2017), Aris Tantomas (2017-2020) dan Qamaruddin (2020-sekarang). (gus/one)

BELAJAR: Sejumlah murid yang sedang belajar di ruang kelas Inlandsch Ambachtsschool te Probolinggo
BELAJAR: Sejumlah murid yang sedang belajar di ruang kelas Inlandsch Ambachtsschool te Probolinggo
Editor : Moch Vikry Romadhoni
#belanda #peninggalan #smpn 9 probolinggo #pertukangan #sekolah