ENERGI listrik di Kota Pasuruan memiliki sejarah panjang. Pertama kali ada sejak masa penjajahan Belanda.
Sebelum dikelola oleh pemerintah Indonesia, energi listrik dipasok oleh perusahaan swasta milik Belanda.
Listrik di Kota Pasuruan, dipasok oleh Algemeene Nederlandsch Indische Electriciteit Maatschappij (ANIEM) sejak tahun 1911. Perusahaan ini didirikan tahun 1909 silam.
"ANIEM merupakan perusahaan listrik swasta terbesar di Indonesia pada waktu itu. Perusahaan ini menyuplai 40 persen dari konsumsi listrik di Indonesia," kata Pemerhati Sejarah Pasuruan, Ahmad Budiman Suharjono.
Pembangkit listrik di Kota Pasuruan ini, berada di dekat Sungai Gembong, di daerah Slagah, Jalan Dr Wahidin, Kecamatan Panggungrejo. Sedangkan kantornya berada di Jalan Diponegoro, Kecamatan Panggungrejo.
Gedung kantor ANIEM ini resmi digunakan pada Senin, 3 Juni 1929. Awalnya, direncanakan dengan peresmian yang meriah.
Namun, hal itu batal. Sebab, Meneer C. Dekker, selaku direktur berbagai perusahaan, termasuk ANIEM waktu itu, sedang sakit.
"Bangunan dirancang oleh arsitek Vistarini dari Surabaya. Arsitek inilah yang merancang tipe standar gedung perkantoran untuk ANIEM di kota-kota kecil," jelasnya.
Gedung kantor ANIEM, juga dibangun di Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo.
Namun, dengan tipe yang lebih kecil. Kantor ANIEM dibangun di persimpangan pasebanstraat di Bangilan. Waktu itu, disebut sebagai bangunan yang megah dan kokoh.
Gedung ini menambah wajah modern Pasuruan pada masa itu.
Sudut sudutnya dibuat bulat dengan fasad susunan batu kali. Dilengkapi dengan etalase besar yang dipesan khusus dari Eropa. Karena dipakai sebagai toko yang menjual berbagai peralatan listrik.
"Gedung eks kantor ANIEM ini, sekarang dipakai sebagai kantor PLN Rayon Pasuruan Kota, beralamat sekarang di Jalan Diponegoro nomor 1, Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Panggungrejo," tutur Budiman.
Selamat dari Agresi Militer Belanda I
Gedung pembangkit listrik milik ANIEM ini pernah dibumi hanguskan oleh Belanda pada agresi militer I tahun 1947.
Sempat menjadi back up untuk PLTA di Malang, namun akhirnya difungsikan lagi oleh Belanda usai suplai dari Malang diputus oleh pejuang.
Pemerhati Sejarah Pasuruan, Ahmad Budiman Suharjono menyebut, gedung pembangkit listrik milik ANIEM ini, berada di lingkungan pabrik karton (kini gudang pabrik rokok, red) di Jalan Wahidin, Kota Pasuruan.
Anak anak setempat menyebutnya kerajaan, melihat gedungnya yang besar dan tinggi.
Generator listriknya digerakkan dengan tenaga diesel, berbahan bakar minyak atau solar.
Kemungkinan besar hanya beroperasi di malam hari saja, pada 1928. Namun, pembangkit listrik ini sempat berfungsi sebagai back up saja sejak 1928.
Itu setelah selesainya proyek pembangunan PLTA Mendalan, Kecamatan Kasembon, Malang yang dapat menyuplai listrik selama 24 jam penuh.
Hanya digunakan saat ada gangguan pasokan listrik dari Malang.
Namun peristiwa agresi militer Belanda I, memaksa Hindia Belanda mengoperasionalkan gedung ANIEM kembali selama 24 jam.
Pembangkit ini terus difungsikan, hingga penyerahan kedaulatan pada Republik Indonesia.
"Bangunan ini selamat dari aksi bumi hangus tentara Belanda saat agresi militer pada 1947. Dan difungsikan lagi secara penuh, karena akses listrik di Mendalan diputus," cerita Budiman.
Tiang Listrik ANIEM Sempat Hilang
Beberapa peninggalan ANIEM masih utuh di Kota Pasuruan. Ada yang terawat dan adapula yang kurang terurus.
Kondisi ini bisa jadi, karena aset tersebut tidak termasuk dalam lahan aset milik pemerintah.
Pemerhati Sejarah Pasuruan, Ahmad Budiman Suharjono menyebut, beberapa peninggalan ANIEM yang tersisa di antaranya, cagak ANIEM dan rumah trafo/babon ANIEM di jalan Wahidin, rumah trafo/babon ANIEM di jalan Sulawesi, dan babon ANIEM di pabrik kulit Kraton.
"Bahkan gedung kantornya masih terawat. Dipakai sampai sekarang, sebagai kantor PLN di Jalan Diponegoro, Kota Pasuruan," jelas Budiman.
Ada kejadian kurang menyenangkan terkait ANIEM. Tiang listrik atau cagaknya di Jalan Wahidin, sempat hilang pada 15 Mei 202.
Hal itu terjadi, dikarenakan pembongkaran yang dilakukan oleh oknum tak bertanggung jawab.
Ternyata, cagak ini hendak diperjualbelikan. Atas inisiatif Paguyuban Satrio Suropati, tiang ini berhasil ditemukan di Yogyakarta.
"Hampir saja kehilangan bangunan bersejarah. Untungnya ditemukan dan sudah dikembalikan lagi ke Pasuruan pada 29 Mei 2021," tutur Budiman.
Kata Budiman, ada jalan masuk khusus menuju ke lokasi gedung ANIEM. Namun pintu masuknya saat ini, sudah tertutup oleh warung pecel.
Pihaknya menduga, lahan dan bagunan ANIEM ini tidak bertuan. Sebab, kondisinya tidak terurus.
"Seharusnya masuk dalam aset pemkot atau PLN. Namun nampaknya tidak masuk dalam aset yang ada. Semoga ada perhatian," harap Budiman. (riz/one)
Editor : Jawanto Arifin