BERDIRINYA pabrik gula (atau biasa disingkat PG) berkaitan dengan sistem tanam paksa (culture stelsel) yang diterapkan oleh Kolonial Belanda.
Di mana setelah perang Diponegoro berakhir pada 1830, Gubernur Jenderal Van Den Bosch memberlakukan sistem tanam paksa untuk memperbaiki keuangan yang menipis akibat perang. Di Probolinggo, salah satu pabrik gula yang tersohor, adalah PG Oemboel.
Pegiat Sejarah Pojok Literasi Kota Probolinggo, Edi Martono mengatakan, PG Oemboel didirikan oleh Charles Etty pada 1834 bersamaan dengan PG Wonolangan. Meski secara teknologi, PG Wonolangan lebih unggul.
“Dua pabrik tersebut sering disebut sebagai Zuster Suiker Fabriek. Sepeninggalan Charles Etty pada 1856, pabrik-pabrik ini dijalankan oleh putranya, yaitu Matthew Etty yang kemudian menetap di Oemboel,” katanya.
Edi mengatakan, lokasi PG Oemboel berada di Jalan Raya Pos, tepatnya yang kini menjadi PT Eratex Djaja.
Proses produksi gula seperti pencucian tebu, ekstraksi sari tebu dan pengolahannya menjadi gula kristal, membutuhkan air dalam jumlah besar.
“Sehingga memang butuh dekat dengan sumber mata air. Khusus PG Oemboel ini, mengambil air dari sumber yang berada di MAN 2 Kota Probolinggo,” terangnya.
Karena beberapa faktor, PG Oemboel lantas diakusisi oleh Alexander MacNeill dari Skotlandia pada 1890.
Sebelumnya, Alexander mengikuti jejak ayahnya, John MacNeill untuk pergi ke Hindia Belanda pada 1869. John MacNeill sendiri memang terkenal sebagai pengusaha sukses di bisnis kebun kopi.
Alexander juga mulai bekerja di sebuah PG di Oosthoek bersama sang paman, John Couperus.
Karirnya pun cukup cemerlang. Terakhir, ia bekerja sebagai tuinemployee atau sejenis pengawas perkebunan di sana atau mandor.
“Posisi ini bertanggung jawab mengawasi tim mandor hingga sejumlah besar pekerja Indonesia dari segala jenis kelamin. Mereka dipekerjakan dengan upah harian,” kata Edi.
Setelah itu, ia pun bertemu istrinya, Johanna Bezoet de Bie yang merupakan putri seorang pengusaha kaya di Den Haag.
Johanna merupakan kreol Belanda yang lahir dan tumbuh dari keluarga asli Belanda di Jawa (diperkirakan Surabaya).
Ayahnya, Hermann Bezoet de Bie merupakan keturunan keluarga pegadang yang berakar di pusat perdagangan dan pelayaran besar Belanda di Rotterdam.
“Di Surabaya, ayahnya membuka usaha dalam perdagangan impor-ekspor grosir. Kemudian menikah dengan Sara Sitjhoff yang merupakan putri seorang pejabat pemerintah Hindia,” tutur Edi.
Setelah mengakuisisi PG Oemboel, keduanya lantas membawa sentuhan modern ke dalamnya.
Alexander MacNeill menjabat administrateur atau general manager di perusahan tersebut.
Ia mengadopsi teknologi canggih dari Jerman. Sehingga meningkatkan efisiensi produksi dan kualitas gula dari pabrik tersebut.
Ia merekrut tenaga kerja profesional. Termasuk para ahli dari Eropa untuk memajukan operasional pabrik.
Tak ayal, PG Oemboel bertransformasi menjagi PG yang mashur di bawah kepemimpinannya.
Sepasang suami istri ini kerap disapa dengan julukan toean dan njonja besar oleh masyarakat setempat.
Namun hal ini tak menjadikan keduanya menutup diri. Mereka bersosial luas dengan pribumi.
Bahkan mempekerjakan banyak pribumi di rumahnya sebagai baboe (pengasuh anak), djongos (pelayan rumah tangga), hingga kusir kereta kuda.
“Alexander MacNeill wafat pada Maret 1937. Sementara Johanna mengarungi sisa hidupnya bersama anak-anaknya di Semarang. Ia mengembangkan usaha stroberi yang dijual ke hotel dan resort di daerah Ambarawa,” papar Edi.
Beralih Fungsi Menjadi Pabrik Pakaian
Sejak Jepang menjajah Indonesia, PG Oemboel mulai tak beroperasi. Bangunannya mangkrak bahkan hingga agresi militer kedua, saat Belanda kembali menduduki Kota Probolinggo.
Bangunan ini baru dipugar saat hendak dialihfungsikan menjadi sebuah pabrik baru bernama PT Eratex Djaja pada 12 Oktober 1972.
Dilansir dari eratexco.com, perusahaan ini didirikan dalam rangka Undang-Undang Penanaman Modal Asing No 1 tahun 1967 berdasarkan akta notaris yang dibuat oleh Koerniatini Karim, di Jakarta. Kemudian mulai beroperasi secara komersial pada 1974.
Mulanya hanya dengan dua divisi, yaitu pemintalan dan penenunan dengan produk jadi berupa benang dan kain katun.
Kemudian pada 1980, divisi garmen dimulai dan secara komersial beroperasi setahun kemudian.
Perseroan lantas mencatatkan sebagian dari sahamnya di bursa efek Indonesia pada tanggal 21 Agustus 1990 dengan surat persetujuan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor SI-125/SHM/MK.10/1990 tertanggal 14 Juli 1990.
Sehingga sejak tahun 2000, seluruh sahamnya telah dicatatkan di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya (sekarang Bursa Efek Indonesia).
Pada 2008, Perseroan memutuskan untuk menghentikan produksi benang dan kain.
Perseroan memfokuskan produksinya pada pakaian jadi dengan orientasi penuh pada penjualan ekspor.
Kini produk utama PT Eratex Djaja, Tbk adalah celana. Baik celana jins standar lima saku sampai pada celana kain kasual. (gus/one)
Editor : Jawanto Arifin