Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Mengenang Kejayaan PT Kertas Leces, Salah Satu Pabrik Kertas Terbesar di Asia yang Berakhir Memprihatinkan

radar bromo • Minggu, 8 Desember 2024 | 17:39 WIB
1.	DIKENAL: Kunjungan Presiden Soeharto ke pabrik kertas Leces pada 28 Desember 1985. Pabrik setempat menjadi salah satu pabrik kertas yang terbesar di Asia.
1. DIKENAL: Kunjungan Presiden Soeharto ke pabrik kertas Leces pada 28 Desember 1985. Pabrik setempat menjadi salah satu pabrik kertas yang terbesar di Asia.

Papierfabriek Letjes atau dikenal dengan nama pabrik kertas Leces memiliki kisah yang panjang.

Pabrik kertas yang berada di Leces, Kabupaten Probolinggo ini, bahkan disebut-sebut menjadi salah satu pabrik terbesar di Asia.

Sayangnya, kejayaannya telah sirna hingga akhirnya pabrik tersebut dinyatakan pailit.

-----------------

Pabrik kertas Leces berdiri pada zaman penjajahan kolonial Belanda, sekitar tahun 1939 silam.

Pendiriannya merupakan ekspansi dari perusahaan kertas yang ada di Padalarang, Jawa Barat.

Pegiat Sejarah Kota Probolinggo, Ino Imam Safiono berkisah, sebelum berdirinya pabrik kertas di Leces, ada pabrik kertas lain yang berdiri.

Yakni Naamloze Venootschap (NV) Papierfabriek Padalarang yang berada di Jawa Barat. Kala itu, perusahaan tersebut merupakan pabrik kertas terbesar di Indonesia. Bahkan disebut-sebut menjadi yang terbesar se-Asia. 

Pabrik Kertas Padalarang sudah beroperasi sejak tahun 1923. Pabrik setempat, melayani permintaan kertas se-Indonesia.

TERABAIKAN: Kondisi pabrik PT Kertas Leces yang kini memprihatinkan. Kondisnya ditumbuhi tanaman liar.
TERABAIKAN: Kondisi pabrik PT Kertas Leces yang kini memprihatinkan. Kondisnya ditumbuhi tanaman liar.

Semakin tingginya permintaan kertas, membuat pemerintah Kolonial Belanda kala itu, menggagas untuk pembangunan kertas ke-dua.

Ekspansi pun akhirnya diwujudkan. Sekitar tahun 1937, Pemerintah Belanda bernegosiasi dengan Pemerintah Probolinggo kala itu, untuk membangun pabrik kertas baru di Leces, Kabupaten Probolinggo.

Pemilihan Probolinggo sebagai tempat untuk membangun pabrik kertas yang baru, bukan tanpa alasan.

Banyaknya pabrik gula yang ada di Probolinggo kala itu, dianggap sebagai peluang. Karena, ampas tebu dari hasil penggilingan tebu, bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku.

“Pabrik Kertas Leces didirikan oleh Pemerintah Belanda, dengan konsep pemanfaatan ampas tebu dari pabrik-pabrik gula yang bertebaran di Probolinggo,” terang Ino-sapaannya.

Pembangunannya pun direalisasikan sekitar tahun 1939. Pabrik tersebut, menjadi salah satu yang terbesar. Tak hanya di Indonesia, tetapi juga di Asia, setelah Pabrik Kertas Padalarang.

2.	PERUSAHAAN BESAR: Menjadi salah satu perusahaan besar, membuat banyak pejabat yang sempat datang. Termasuk Sri Sultan Hamengkubowono IX.
2. PERUSAHAAN BESAR: Menjadi salah satu perusahaan besar, membuat banyak pejabat yang sempat datang. Termasuk Sri Sultan Hamengkubowono IX.

Pada 17 Februari 1940, Pabrik Kertas Leces diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur, Mr H.J Van Mook. Pabrik ini langsung memproduksi berton-ton kertas, seusai diresmikan.

Acara pembukaan pabrik kertas ini, dilangsungkan secara meriah. Sejumlah kiai, tokoh agama hingga tokoh masyarakat, diundang untuk mengikuti selamatan.

“Beberapa ritual dilakukan. Seperti prosesi mengelilingi pabrik, mengubur kepala kerbau dengan upacara adat hingga penanaman pohon beringin sebagai peringatan,” imbuhnya.

Permintaan kertas yang terus mengalir, membuat Pabrik Kertas Leces semakin dikenal.

Tak heran, jika waktu itu, pabrik setempat, dikenal sebagai salah satu perusahaan besar di Asia.  (mg/one)

----------------

 

2.	RAPAT: Tidak ada aktivitas karyawan. Karena pabrik setempat telah dinyatakan pailit. Terlihat, pagar rapat menutupi pabrik.
2. RAPAT: Tidak ada aktivitas karyawan. Karena pabrik setempat telah dinyatakan pailit. Terlihat, pagar rapat menutupi pabrik.

Meredup Sejak Krisis Moneter

Setelah Indonesia merdeka, pabrik setempat bertransformasi menjadi Perusahaan Negara (PN) Kertas Letjes. Pabrik kertas Leces kian berjaya. Bahkan, menjadi tumpuan perekonomian di Indonesia.

Pabrik kertas ini, mampu membangun perumahan dan sekolah yang maju. Sehingga, keberadaannya sangat berdampak pada peningkatan taraf hidup masyarakat di sekitarnya.

Sejak 50 tahun pertama setelah beroperasi, pabrik kertas ini mencapai puncak kejayaannya.

Namun, pepatah roda berputar, benar-benar dialami oleh pabrik bersejarah ini. Setelah 50 tahun berada di atas puncak kejayaan, perlahan pabrik ini mulai ditimpa kesulitan.

Salah satu eks karyawan PT Kertas Leces, Alri Eko, menjelaskan bahwa awal mula keruntuhannya terjadi saat Indonesia harus menghadapi krisis moneter (krismon) pada tahun 1997.

Segala sektor perkonomian negara ini, terguncang. Tak terkecuali Pabrik Kertas Leces. Meski begitu, pabrik ini masih bisa bertahan.

“Kalau keuangannya terguncang, ya mulai terjadi krismon di Indonesia. Tapi, saat itu masih sempat survive,” jelasnya.

Semakin tahun, rupanya manajemen PT Kertas Leces tak mampu memulihkan keadaan.

Bahkan, masalah keuangan terus menggrogoti internal perusahaan ini. Hingga akhirnya, perusahaan terlilit utang.

Hal itu diperparah, dengan jumlah permintaan kertas, yang berangsur menurun. Bahkan, pihak perusahaan sempat tak berproduksi seperti biasanya. Lantaran sepinya permintaan.

3.	TERBENGKALAI:  Jalan di area pabrik kertas Leces, Kabupaten Probolinggo yang rusak. Menambah kesan terbengkalainya kawasan setempat.
3. TERBENGKALAI: Jalan di area pabrik kertas Leces, Kabupaten Probolinggo yang rusak. Menambah kesan terbengkalainya kawasan setempat.

“Mungkin ada kesalahan kebijakan yang dilakukan manajemen perusahaan. Sehingga, berdampak pada keuangan. Dahulu kan sempat lama tidak produksi, tapi masih diusahakan agar karyawan tetap digaji,” ceritanya. 

Kebijakan Menteri BUMN, Dahlan Iskan pada 2011 silam, tak lantas membuat kondisi pabrik lebih baik.

Ia melarang adanya Penyertaan Modal Negara (PMN) terhadap perusahaan, PT Kertas Leces. Karena ia berpandangan, pabrik tersebut tetap bisa berjalan, meski tanpa injeksi modal dari negara.

“Saat itu, Menteri Dahlan Iskan tidak mau memberikan PMN. Karena optimis kami bisa bangkit. Padahal memang keadaanya suda sulit. Terbukti kondisi perusahaan semakin melemah,” sampainya.  

Keadaan tak semakin baik. Banyak karyawan yang dipotong gajinya. Sebab, perusahaan tidak lagi mampu menggaji karyawan secara utuh.

Berbagai upaya dilakukan. Namun tak mampu mengembalikan keadaan seperti semula.

Pada 25 September 2018, pabrik ini resmi diputus pailit oleh Pengadilan Niaga Surabaya, setelah dilaporkan oleh salah satu kreditur. Saat diputus pailit, maka pabrik dibubarkan. (mg/one)

 

--------------

 

Mesin Dilelang, Gedung Terbengkalai

Sejak dinyatakan pailit, kini tak lagi ada aktivitas produksi. Yang tersisa, hanya sebagian bangunan yang sudah dipenuhi oleh tumbuhan.

Sedangkan seluruh mesin-mesin mahal yang didatangkan langsung dari Belanda, sudah di lelang.

“Sudah dilelang, karena untuk membayar gaji karyawan,” tandas salah satu eks karyawan PT Kertas Leces, Alri Eko

Jika dahulu yang terlihat adalah kesibukan mesin-mesin pencetak kertas, dengan ciri khas kepulan asap yang berasal dari corong-corong mesin itu, kini kawasan itu tampak sepi tak berpenghuni.

Terlihat dari luar, banyak bangunan yang sudah keropos. Bahkan mulai roboh. Pohon-pohon besar pun menjulang tumbuh liar.

Perumahan karyawan pun tampak mulai tak terawat, sejak ditinggal penghuninya. Beberapa memang disewakan.

Masa kejayaan pabrik kertas itu, kini tinggal cerita yang diwariskan ke anak cucu. (mg/one)

Editor : Fahreza Nuraga
#pabrik kertas leces #belanda #asia #Berjaya