Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Sejarah Gudang Amunisi Peninggalan Belanda, yang Kini Menjadi Gedung Produksi Kasur dan Bantal Setelah Sempat Terbengkalai

Rizal Syatori • Senin, 2 Desember 2024 | 01:47 WIB
BERSEJARAH: Bangunan tua peningalan Belanda yang ada di Suwayuwo, Kecamatan Sukorejo. Bangunan tersebut sempat difungsikan sebagai gudang amunisi saat era Kolonial Belanda.
BERSEJARAH: Bangunan tua peningalan Belanda yang ada di Suwayuwo, Kecamatan Sukorejo. Bangunan tersebut sempat difungsikan sebagai gudang amunisi saat era Kolonial Belanda.

BANYAK bangunan bersejarah yang ada di Kabupaten Pasuruan. Sebagian bangunan tersebut bahkan berdiri kokoh hingga sekarang.

Salah satunya bangunan eks gudang amunisi peninggalan Belanda yang dijadikan gedung produksi kasur di Desa Suwayuwo, Kecamatan Sukorejo.

Saat melintas di ruas jalan nasional jurusan Malang – Surabaya, Dusun Kulon Embong, Desa Suwayuwo, Kecamatan Sukorejo, bangunan tua itu terlihat dengan jelas.

Posisinya berada di sebelah barat jalan. Tepat di sebrang RS Sahabat Sukorejo.

JADI TEMPAT PRODUKSI: Sejak Indonesia merdeka, bangunan tersebut sempat difungsikan untuk berbagai hal. Seperti gudang pupuk. Sekarang, bangunan itu dijadikan tempat produksi kasur dan bantal.
JADI TEMPAT PRODUKSI: Sejak Indonesia merdeka, bangunan tersebut sempat difungsikan untuk berbagai hal. Seperti gudang pupuk. Sekarang, bangunan itu dijadikan tempat produksi kasur dan bantal.

Bangunan itulah, yang menjadi salah satu peninggalan sejarah. Gedung yang kini dijadikan gudang tersebut, dibangun sekitar tahun 1918 silam. Saat kolonial Belanda menjajah Indonesia.

Tinggi bangunan mencapai kisaran enam meter. Sementara panjangnya, sekitar 50 meter. Sedangkan lebarnya, sekitar 22 meter.

Terdapat pintu-pintu berukuran besar yang mengitarinya. Total, ada enam pintu. Tiga pintu berada di sisi barat. Sementara tiga lainnya di sisi timur. Namun, tak semuanya difungsikan.

Karena hanya dua pintu di sisi timur yang digunakan. Karena satu diantaranya, dibongkar untuk dijadikan keluar masuk kendaraan bongkar muat. Sementara yang lainnya, ditutup dengan tembok.

Meski sudah tua, bangunan tersebut masih berdiri kokoh. Seolah menolak jika dikatakan akan mau roboh.

“Ini gudang tua yang ada di desa kami. Dibangun pada zaman penjajahan Belanda, sekitar tahun 1918 lalu,” ucap Kepala Desa Suwayuwo, Kecamatan Sukorejo, Abdul Mujib.

Menurut Mujib-sapaannya, gudang tua ini, merupakan satu-satunya bangunan peninggalan zaman Belanda yang ada di Desa Suwayuwo, Kecamatan Sukorejo.

Lokasinya sangat strategis. Karena berada di tepi jalan raya. Tidak ada pagar yang mengitarinya.

Di era Kolonial Belanda, bangunan tersebut dimanfaatkan untuk menyimpan barang. Seperti spare part kendaraan, amunisi dan lain yang lain.

Namun, setelah Indonesia merdeka, bangunan tersebut sempat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.

Seperti untuk gudang pupuk pada kisaran tahun 1986 silam. Hingga pabrik rotan, pada 1990-an. Bahkan, sempat kosong, lantaran tak difungsikan.

Baru sekitar 2016, gedung tersebut dijadikan tempat produksi aneka kasur dan bantal.

“Sampai sekarang, bangunan tua ini, dimanfaatkan salah satu pengusaha di desa kami untuk dijadikan tempat produksi kasur dan bantal,” sampainya.

KUNO: Bangunan kuno yang dijaga keasliannya. Meski sempat mengalami kebakaran, namun ciri khas bangunan Belanda, tak diubah.
KUNO: Bangunan kuno yang dijaga keasliannya. Meski sempat mengalami kebakaran, namun ciri khas bangunan Belanda, tak diubah.

 

Dihuni Kelelawar Hingga Jujukan Tempat Bermain Anak

Setelah sempat bertahun-tahun kosong, gedung tua di Desa Suwayuwo, Kecamatan Sukorejo tersebut, terkesan mangkrak. Bahkan, menjadi tempat hunian kelelawar untuk membangun sarang.

Bau menyengat senantiasa tercium. Tatkala berkunjung ke gedung. “Sebelum dijadikan tempat produksi kasur dan bantal tahun 2016, bangunan ini memang sempat kosong. Sehingga, banyak dihuni kelelewar,” jelas Kepala Desa Suwayuwo, Kecamatan Sukorejo, Abdul Mujib.

Meski begitu, bangunan peninggalan Belanda tersebut, menjadi jujukan anak-anak. Untuk menghabiskan waktu, bermain bersama.

Biasanya, mereka menghabiskan waktu dari siang usai pulang sekolah hingga sore harinya.

Baik dengan bermain sepakbola, badminton ataupun permainan lainnya. Maklum, kawasan setempat memang memiliki lahan luas. Apalagi, lantainya masih berupa tanah.

“Dahulu, bangunan ini memang menjadi tempat favorit anak-anak untuk bermain. Baik siang ataupun sore. Kalau malam, bangunan tersebut begitu gelap. Karena minim penerangan,” timpalnya.

Kondisi itu, tak lagi ditemukan. Sejak dijadikan tempat usaha, anak-anak tidak lagi bermain di gedung tua itu.

KOKOH: Salah satu pintu yang masih kokoh berdiri. Ada enam pintu pada gedung tersebut. Sebagian akhirnya ditembok.
KOKOH: Salah satu pintu yang masih kokoh berdiri. Ada enam pintu pada gedung tersebut. Sebagian akhirnya ditembok.

 

Jaga Keaslian Bangunan

Kebakaran pada 31 Desember 2019 sempat melanda bangunan tua tersebut. Saat itu, gedung tersebut sudah dimanfaatkan, untuk dijadikan tempat produksi bantal dan kasur. Akibatnya, sebagian bangunan rusak.

Sehingga membutuhkan perbaikan agar kondisinya layak untuk difungsikan. “Pasca kebakaran, sebagian bangunannya kami rehab. Seperti bagian atapnya yang rusak dan ambruk imbas kebakaran,” terang H. Mustain, 50, warga Desa Suwayuwo, Kecamatan Sukorejo yang kini menjadi pemilik gedung tersebut.

Meski begitu, pihaknya masih mempertahankan keaslian bangunan. Terutama bagian temboknya. Tidak dirubah, khas bangunan Belanda.

Hanya saja, beberapa penambahan fasilitas dilakukan. Seperti penambahan musala dan juga kamar mandi.

Juga, ada toko atau outlet untuk memasarkan produk. Dengan luas lahan sekitar 2.600 meter persegi, bagian teras digunakan transit dan parkir kendaraan.

Tak hanya mobil. Tetapi juga pikap hingga kontainer yang hendak mengangkut barang pesanan.

“Pelanggan kami, tidak hanya dari sekitaran pulau Jawa. Tetapi juga merambah Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara hingga ke Papua,” bebernya. (zal/one)

Editor : Jawanto Arifin
#belanda #gudang #bangunan kuno #bersejarah