Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kisah Keindahan Dataran Tinggi Hyang, Dikenal Bak Surga, Banyak Satwa dan Benda Bersejarah Dijarah

Inneke Agustin • Minggu, 24 November 2024 | 20:35 WIB
SUBUR: Pakar Epigrafi dan Arkeologi Ismail Lutfi di Sabana menuju Sabana Lonceng, Kawasan Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Hyang.
SUBUR: Pakar Epigrafi dan Arkeologi Ismail Lutfi di Sabana menuju Sabana Lonceng, Kawasan Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Hyang.

DAHULU di Jalan Raya Pos antara Probolinggo dan Kraksaan, tepatnya di daerah Pajarakan terdapat sebuah papan penunjuk jalan dengan banyak rambu-rambu.

Yang paling bawah bertuliskan “Ke Bremi, 42 kilometer. Bremi ke Goenoeng Hiang, 26 kilometer dengan menunggang kuda”.

Dataran Tinggi Hyang memiliki ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut. Padang rumput yang luas dengan festuca nubigena atau berbunga di atas awan.

Diselingi kelompok-kelompok kasuarina yang menawan, menghiasi medan bergelombang yang selalu menawarkan pemandangan baru yang menakjubkan.

Dahulu kawanan besar rusa liar berkeliaran di sana. Jumlahnya diperkirakan sekitar 10 ribu ekor. Burung merak yang tak terhitung jumlahnya juga ada.

“Sebelumnya, Pegunungan Hyang hampir tidak pernah terjamah kecuali oleh para pemburu dan pencari hasil hutan. Sampai akhirnya, kebakaran dan perburuan liar menghancurkan hutan dan satwa liar sebagai akibatnya. Kondisi ini, terus berlangsung hingga 1908,” tutur Rakha Rizal Amin, penulis buku Argopuro Understory Sang Penjaga Vol.2.

Rakha mengatakan, tidak adanya nyamuk, malaria, disentri, dan polusi kecuali dinginnya yang menusuk di musim hujan, membuat rencana-rencan besar muncul saat itu.

Seperti sebuah komite yang mengajukan proposal untuk membangun jalur kereta api, bahkan sebuah kota di Dataran Tinggi Hyang dengan menganggarkan jutaan gulden.

“Hingga pada akhirnya, ada izin konsesi diberikan kepada pihak yang berkepentingan. Mereka memperoleh lisensi jangka panjang di sebagian wilayah Pegunungan Hyang untuk membangun sebuah resor kesehatan dan wisata,” kisahnya.

Namun, proyek tersebut tak kunjung terealisasi akibat besarnya dana yang dibutuhkan saat itu.

Sehingga, rencana tersebut akhirnya ditunda. Hingga akhirnya, muncul Ledeboer bersaudara yang mengambil alih tanah konsesi tersebut.

“Dengan tangan besi, mereka mulai melindungi hutan dan satwa liar. Mereka menciptakan perubahan positif yang membanggakan. Dataran Tinggi Hyang perlahan pulih kembali dan mulai bangkit menuju kejayaan,” terangnya.

Penangkaran rusa di Dataran Tinggi Hyang dipraktikkan oleh Ledeboer bersaudara dengan cara yang penuh pertimbangan.

Berdasarkan hasil riset ilmiah dan pengalaman praktis, yaitu para pakar dari Prusia Timur dan Silesia.

Mereka memiliki jam terbang yang tinggi di bidang perburuan selama bertahun-tahun.

Selama musim kawin dan rusa betina melahirkan, jumlah populasi rusa meningkat sekitar 20 persen.

Sehingga tak heran, bila ada ribuan rusa di Dataran Tinggi Hyang. Rusa-rusa tersebut lantas ditembak oleh A. J. M Ledeboer setiap tahunnya untuk mencegah over populasi.

“Ledeboer memang hanya memburu rusa yang sudah tua dan kurang produktif. Berbeda dengan pemburu liar yang memburu rusa tanpa kenal bulu. Mereka bahkan membakar Pegunungan Hyang hanya untuk menggiring rusa masuk ke perangkap buruan. Ini yang berusaha Ledeboer perangi,” jelas Rakha.

KUNO: Landasan Pesawat Terbang di Dataran Tinggi Hyang tampak dari udara tempo dulu.
KUNO: Landasan Pesawat Terbang di Dataran Tinggi Hyang tampak dari udara tempo dulu.
SEKARANG: Landasan Pesawat Terbang di Dataran Tinggi Hyang tampak dari samping saat ini.
SEKARANG: Landasan Pesawat Terbang di Dataran Tinggi Hyang tampak dari samping saat ini.

 

Adanya Bandara Tertinggi di Asia

Pada Dataran Tinggi Hyang ada sebuah landasan pesawat. Bandara ini mulanya direncanakan untuk keperluan pribadi yakni mengangkut daging rusa.

Namun, seiring berkembangya waktu, bandara juga berfungsi sebagai interface (fasilitas perantara).

Antara transportasi udara dan darat yang mengakomodasi layanan antar-jemput para wisatawan.

Dalam bukunya, Rakha Rizal Amin, penulis buku Argopuro Understory Sang Penjaga Vol.2 menjelaskan, bahwa lokasi bandara tersebut berada di dataran Alun-Alun Kasur.

Bandara ini memiliki dimensi panjang 900 meter dan lebar 100 meter dengan bentangan utara selatan berada di koordinat 7o1`LS-6o49` BT (Greenwich).

“Lapangan terbang ini berada 800 meter lebih tinggi dari lapangan terbang di Brastagi. Sehingga, menjadikannya sebagai bandara tertinggi di Asia kala itu,” ujarnya.

Empat bulan berselang, Departemen van Gouvernements Bedrijven di Bandung melalui mededeelingen aan Luchtvaarders (Maklumat Penerbangan) Nomor 11 dan 12 tertanggal 22 Juni dan 1 Juli 1935 memberikan lisensi atas area pendaratan pesawat Dataran Tinggi Hyang tersebut.

“Landasan ini dinyatakan layak untuk digunakan. Saat itu, diumumkan pula bahwa di bandara swasta ini, tersedia 250 liter bahan bakar cadangan untuk pesawat dan minyak pelumas secukupnya,” tambah Rakha.

Penerbangan pertama yang berhasil mendarat di landasan tersebut adalah penerbangan oleh Jonkheer Guido Manfredi de Sturler pada Selasa 21 Mei 1935.

Pria yang merupakan instruktur dari Soerabaiasch sport-vlieger (sekolah olahraga penerbangan di Monokrembangan, Surabaya) mendarat dengan pesawat miliknya yakni De Havilland Moth PK-SAO. Ia menempuh perjalanan sejauh 125 kilometer dari Surabaya.

KEBAKARAN: Dataran Tinggi Hyang yang terbakar akibat ulah para pemburu liar yang hendak memburu rusa di Dataran Tinggi Hyang dulu.
KEBAKARAN: Dataran Tinggi Hyang yang terbakar akibat ulah para pemburu liar yang hendak memburu rusa di Dataran Tinggi Hyang dulu.

 

Terbengkalai usai Ditinggal Ledeboer Bersaudara

Dilansir dari Argopuro Understory Sang Penjaga Vol.2, sebelum ditinggalkan, A.J.M. Ledeboer mengangkat petugas-petugas ahli untuk membantu usahanya. Salah seorang di antaranya adalah Pak Harimin.

Ia merupakan seorang warga Bermi yang tinggal di sekitar perkebunan kopi. Bahkan, ia bertugas dalam tiga zaman kala itu. Yakni, zaman Belanda, Jepang, dan pasca kemerdekaan.

Pada saat Harimin menjadi petugas konservasi alam Dataran Tinggi Hyang semasa Ledeboer, ia mengungkapkan betapa Ledeboer memperlakukan satwa-satwa liar seperti anak-anaknya sendiri. Ia selalu membawakan makanan untuk rusa, kijang, dan burung-burung merak.

Meskipun dalam menjalankan tugasnya, Ledeboer selalu menenteng senapan berburu, ia tidak pernah menggunakannnya untuk menyakiti satwa-satwa asuhannya tanpa alasan yang jelas.

Tidak hanya itu, Ledeboer bersaudara juga dikenal sebagai sosok yang baik terlepas dari sisi kontroversionalnya.

Menurut laporan warga sekitar Dataran Tinggi Hyang, tempat A.J.M Ledeboer berkiprah, mereka mendapat penghasilan tambahan dari penangkaran rusa di sana.

Tuan Ledeboer membayar 7 sen per kilogram untuk tanduk rusa yang tertanggal. Tanduk tersebut lantas dikumpulkan dan diserahkan untuk menjadi komoditas.

“A.J.M. Ledeboer juga menyumbangkan tanduk-tanduk tersebut kepada Java Insitute untuk diproses menjadi kerajinan tangan melalui kerja sama dengan Nijverheidsvoorlichtings-dients (Dinas Layanan Informasi Industri),” kata Rakha Rizal Amin, penulis buku Argopuro Understory Sang Penjaga Vol.2.

Namun kini, semua karya yang telah Ledeboer perjuangkan di Dataran Tinggi Hyang menjadi terbengkalai.

Populasi rusa yang dahulu bebas berkeliaran merumput, kini kembali terancam.

Tidak ada lagi sosok penjaga, tidak ada lagi aturan, orang bebas keluar masuk kawasan tersebut.

Bahkan, pada 1949 diberitakan, bahwa kawanan rusa yang dahulu sangat terkenal di sana, telah diburu secara masal oleh para pemburu liar.

“Bukan hanya itu, pada tahun 1960-an, ada arca perempuan dari kawasan tersebut juga dicuri. Arca dan artefak di Pegunungan Hyang marak dijarah. Hingga saat ini, hanya puing-puing sisa kejayaan masa lalu yang dapat dijumpai ketika mengunjungi puncak Gunung Argopuro. Sudah tidak ada lagi arca atau patung yang tersisa,” tutup Rakha. (gus/one)

Editor : Jawanto Arifin
#arkeologi #tempo dulu #Dataran Tinggi Hyang