Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Menelisik Jembatan Syphon, Jembatan Unik yang Berfungsi untuk Saluran Air

Rizal Syatori • Minggu, 20 Oktober 2024 | 19:15 WIB
UNIK: Jembatan Syphon memang tampak unik. Bentuknya, mirip gapura. Karena seolah-olah terpisah oleh rel kereta api.
UNIK: Jembatan Syphon memang tampak unik. Bentuknya, mirip gapura. Karena seolah-olah terpisah oleh rel kereta api.

SEBUAH jembatan peninggalan Belanda berdiri kokoh di Dusun Bakalan, Desa Gajahrejo, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan.

Uniknya, jembatan tersebut bukan untuk penyeberangan. Melainkan difungsikan sebagai saluran air.

Namanya adalah Jembatan Syphon. Keunikannya terletak pada konstruksi bangunannya. Di mana, jika dilihat sepintas, mirip dengan gapura.

Karena tidak tersambung utuh, layaknya jembatan pada umumnya.

Sisi barat dan timur jembatan, seolah terpisah oleh rel kereta api yang berada di tengah-tengah.

Petugas Kontruksi Jembatan dari PT KAI Daops 8 Surabaya wilayah QC D Resot 8.4 Malang, Herdian Purnomo mengatakan, Jembatan Syphon bukanlah untuk penyeberangan.

Melainkan, untuk saluran air. Jembatan tersebut dibangun era kolonial Belanda. Sekitar tahun 1903 silam.

DIBATASI REL: Dengan keberadaan rel yang berada di tengah, Jembatan Syphon seolah-olah terputus. Padahal, ada pipa dari baja yang menjadi penghubung antara sisi barat dan timur di bawah rel setempat.
DIBATASI REL: Dengan keberadaan rel yang berada di tengah, Jembatan Syphon seolah-olah terputus. Padahal, ada pipa dari baja yang menjadi penghubung antara sisi barat dan timur di bawah rel setempat.

Jembatan dengan tinggi sekitar empat meter ini, memang memiliki bentuk yang unik.

“Bentuknya memang mirip gapura. Seolah tidak saling terhubung antara sisi barat dengan sisi timur. Karena di bagian tengahnya, ada lintasan rel kereta api,” jelasnya.

Namun, sebenarnya jembatan tersebut, terhubung. Bila dicermati, maka akan ditemukan saluran air yang mengalirkan air dari Desa Gajahrejo untuk irigasi persawahan di Desa Capang, Kecamatan Purwodadi.

Karena di bagian bawah rel kereta api, sebenarnya ada pipa baja yang menghubungkan bangunan barat dengan bangunan timur.

“Pipa tersebut, tertanam di bawah rel kereta api. Diameternya, sekitar 50 hingga 75 centimeter,” bebernya.

Purnomo-sapaannya menegaskan, Jembatan Syphon di Desa Gajahrejo, Kecamatan Purwodadi, merupakan satu-satunya yang ada di jalur rel kereta api dari Bangil hingga Purwodadi. Pada bagian dindingnya, tertulis angka 124.

Hal itu menandakan, jika bangunan tersebut, merupakan bangunan kontruksi nomor 124 dari nol kilometer dari Bangil.

“Sebenarnya, jembatan serupa cukup banyak. Kalau dari Lawang ke Wlingi, Blitar, Jembatan Syphon seperti ini jumlahnya ada belasan. Bentuknya sama dengan di Gajahrejo ini dan masih sama kokohnya,” ulasnya.

Khusus untuk konstruksi Jembatan Syphon di Purwodadi tersebut, ada tambahan bangunan baru.

Bangunan baru itu bisa dilihat di jembatan sisi sebelah barat, seperti tembok. Pembangunannya, direalisasikan beberapa tahun yang lalu.

“Tujuanya agar airnya tidak meluber dan menggenangi rel,” jelasnya.

Sejak dibangun, belum pernah dilakukan pergantian pipa di Jembatan Syphon Gajahrejo, Kecamatan Purwodadi tersebut. Kondisinya berfungsi normal hingga sekarang.

SALURAN AIR: Jembatan Syphon yang berada di Desa Gajahrejo, Kecamatan Purwodadi berfungsi untuk menyalurkan air bagi pertanian warga Desa Capang, Kecamatan Purwodadi.
SALURAN AIR: Jembatan Syphon yang berada di Desa Gajahrejo, Kecamatan Purwodadi berfungsi untuk menyalurkan air bagi pertanian warga Desa Capang, Kecamatan Purwodadi.

 

Jujukan Mandi Anak-anak dan Mencuci

Air yang mengalir di Jembatan Syphon ini, cukup jernih. Karena langsung dari sumber air di Desa Gajahrejo dan sekitarnya.

Selain itu, debitnya terbilang normal. Selalu mengalir besar dari barat ke timur. Meskipun saat kemarau seperti sekarang.

Tak heran, selain digunakan untuk irigasi sawah, juga dimanfaatkan anak-anak di desa setempat untuk mandi.

“Termasuk juga digunakan warga untuk mencuci motor ataupun mobil,” ucap Kades Gajahrejo, Kecamatan Purwodadi, Kasiyono.

Biasanya, anak-anak desa mandi saat siang ataupun sore hari. Mereka memanfaatkan jembatan yang berada di sisi timur.

“Sementara untuk sisi barat, tidak digunakan untuk mandi dan cuci. Karena memang akses tidak ada. Juga tidak diperbolehkan karena berbahaya. Jadi yang aman, ya sisi sebelah timur,” tuturnya.

 

Jadi Tempat Jalan-jalan dan Spot Selfie

Jembatan Syphon di Desa Gajahrejo, Kecamatan Purwodadi, tak hanya bermanfaat untuk penyaluran air ke persawahan. Karena juga, menjadi jujukan untuk wisata murah di desa setempat.

Karena tak jarang, banyak yang memanfaatkan kawasan setempat, sebagai tempat tongkrongan.

Terutama ketika bulan Ramadan. Biasanya, dimanfaatkan untuk tempat ngabuburit bagi warga.

PENINGGALAN BELANDA: Jembatan Syphon merupakan peninggalan kolonial Belanda. Di jalur Bangil hingga Purwodadi, jembatan setempat menjadi satu-satunya. Namun, di tempat lain, banyak jembatan serupa.
PENINGGALAN BELANDA: Jembatan Syphon merupakan peninggalan kolonial Belanda. Di jalur Bangil hingga Purwodadi, jembatan setempat menjadi satu-satunya. Namun, di tempat lain, banyak jembatan serupa.

Sambil menyaksikan kereta api yang lewat, pengunjung bisa menikmati area setempat. Mereka juga memanfaatkan kawasan setempat, untuk dijadikan spot selfie.

“Jembatan Syphon ini memang menjadi destinasi wisata lokal. Banyak yang menjadikannya jujukan, untuk sekadar jalan-jalan, nongkrong hingga spot foto selfie. Khususnya, ketika kereta melintas,” tandas Kades Gajahrejo, Kecamatan Purwodadi, Kasiyono.

Mereka yang datang, tidak hanya warga sekitar desa. Tetapi juga, datang dari luar daerah. Seperti Malang, Sidoarjo hingga Surabaya.

“Aksesnya mudah. Bisa dijangkau dengan menggunakan motor ataupun mobil. Dan lagi, viewnya bagus. Saat weekend tiba, kawasan setempat menjadi ramai,” papar dia. (zal/one)

Editor : Jawanto Arifin
#saluran air #gajahrejo #Purwodadi #peninggalan belanda #jembatan syphon