KEBERADAAN kecap di Indonesia, memiliki cerita yang panjang. Kecap merupakan hasil akulturasi budaya antara Jawa dan Tiongkok.
Berawal pada masa Dinasti Zhou (1046-256 SM), di mana masyarakatnya telah mengenal saus fermentasi yang terbuat dari kedelai dan disebut sebagai jiang.
Selain disebut jiang, ada juga yang menyebutnya ke-tsiap. Kata tersebut berasal dari bahasa Amoy, Tiongkok.
Dari situlah, cikal bakal akhirnya penamaan kecap di Indonesia.
Pegiat Sejarah Pojok Literasi Kota Probolinggo, Edi Martono mengatakan, ke-tsiap masuk ke Indonesia beriringan dengan ekspansinya ke wilayah Asia Tenggara.
Demi menghidupi diri mereka, bangsa Tionghoa pun mulai memutar otak dengan berjualan ke-tsiap.
“Namun sesampainya di sini, ke-tsiap mengalami adaptasi dan modifikasi rasa. Menyesuaikan selera lokal dengan menambahkan gula aren untuk menghasilkan rasa manis yang khas,” tuturnya.
Berbeda dengan kecap asin, kecap manis memang merupakan produk berbentuk cair, yang dibuat dari cairan hasil fermentasi kedelai atau bungkil kedelai.
Ditambahkan gula dengan atau tanpa penambahan bahan pangan lain dan bahan tambahan pangan yang diizinkan.
Setelah mulai dikenal oleh masyarakat, sebutan ke-tsiap pun ikut berubah. Ini lantaran pengucapan kata ke-tsiap dinilai terlalu sulit dilafalkan oleh orang Indonesia.
“Sehingga diubah menjadi kecap agar mudah diucapkan,” jelas Edi.
Selain itu, Edi juga menjelaskan bahwa pada masa penjajahan Belanda, Kota Probolinggo dikenal sebagai salah satu daerah agraris yang subur.
Tanahnya cocok untuk pertanian berbagai komoditas. Termasuk kedelai. Hal ini menjelaskan, mengapa Probolinggo kemudian memiliki pabrik kecap tertua kedua di Indonesia.
Pabrik kecap ini beroperasi sejak zaman kolonial. Dan terus berkembang hingga menjadi salah satu produk kuliner lokal yang ikonik.
“Pabrik kecap ini mendapatkan suplai kedelai dari kebun-kebun lokal. Selain itu, wilayah Probolinggo juga memiliki akses yang baik ke jalur distribusi. Baik melalui jalur darat maupun laut, yang memudahkan pengangkutan bahan baku kedelai dari daerah-daerah lain,” jelasnya.
Pabrik Kecap Tertua Kedua di Indonesia
Pabrik kecap pertama kali dibangun di Indonesia pada 1882. Yakni pabrik kecap Teng Giok Seng yang berada di daerah Pasar Lama, Tangerang.
Disusul pabrik kecap yang didirikan oleh Ong Tjin Boen di Kota Probolinggo pada 1888. Pabrik ini merupakan cikal bakal Kecap Cap Orang Jual Sate.
Pegiat Sejarah Pojok Literasi Kota Probolinggo, Edi Martono mengatakan, konon sebelumnya kecap milik Ong Tjin Boen ini, diproduksi di rumahnya yang terletak di belakang pabrik kecap Cap Orang Jual Sate, di Jalan Soekarno-Hatta.
Bahkan, seiring dengan perkembangan waktu, pabrik ini mampu mempekerjakan 100 orang karyawan.
“Dulu merek awalnya adalah cap Bintang Bidadari. Baru setelah mulai berkembang sekitar tahun 1920-an, pabriknya pindah di Jalan Siaman. Hingga saking terkenalnya, sampai sekarang wilayah itu dikenal dengan nama Kecapan,” kisahnya.
Pabrik kecap baru tersebut, lantas mengenalkan produk barunya, yaitu Kecap Cap Telor. Di samping kecap cap Bintang Bidadari yang sebenarnya masih terus diproduksi.
Lima tahun kemudian, anak-anak Ong Tjin Boen yakni Kwie Han dan Ong Kwie Tjhwan melanjutkan bisnis kecap. Mereka menciptakan satu merek baru lagi, yaitu Cap Macan.
Pada periode tahun 1948-1963, kepemimpinan perusahaan berpindah kepada Nyoo Tjing Hien dan Kwee Hok Lan.
“Saat inilah, mereka membentuk usaha kecap itu menjadi usaha berbadan hukum atau Naamioze Vennotschap (NV). Di mana pemegang sahamnya, adalah cucu-cucu Ong Tjin Boen. Baru di saat inilah, mereka membuat kecap merek Cap Orang Jual Sate,” jelas Edi.
Edi mengatakan, kecap tersebut dikenal memiliki tekstur tidak sekental kecap-kecap pada umumnya.
Teksturnya justru cenderung encer. Rasa manis yang unik, menjadi daya tarik yang membedakannya dari kecap lain di pasaran.
Keunikan rasa dan tekstur kecap ini, menjadi karakteristik khas yang membuatnya jadi favorit pecinta kuliner.
“Kecap ini menjadi produk yang populer di kalangan masyarakat. Karena perannya sebagai pelengkap hidangan tradisional, seperti sate dan nasi goreng. Ukurannya pun beragam mulai dari 610 ml, 525 ml, 135 ml hingga 60 ml,” jelasnya.
Sempat Dijual Hingga Akhirnya Gulung Tikar
Pada tahun 1968, perusahaan kecap ini berganti nama menjadi PT Pusaka Sumber Jaya. Saat itu, Kecap Orang Jual Sate makin terkenal dan banyak diminati di Jawa Timur.
Walaupun Kecap Cap Orang Jual Sate saat itu masih menjadi andalan, namun pada awal Januari 1990, perusahaan keluarga ini harus dijual.
Perusahaan ini lantas dibeli oleh PT Perkasa Sasra Dedaya milik Soegiarto Adikoesoemo.
“Nama perusahaan itu kemudian berganti menjadi PT Aneka Food Tatarasa Industri (AFTI). Namun perusahaan ini kemudian diakuisisi PT Sinarmas Surya Sejahtera (Sinarmas Group) pada 2016,” cerita Pegiat Sejarah Pojok Literasi Kota Probolinggo, Edi Martono
Sayangnya, akibat kenaikan harga yang amat drastis pada bahan baku, khususnya kedelai dan gula aren, mengakibatkan turunnya omset selama dua tahun berturut-turut. Akhirnya, perusahaan ini memutuskan berhenti beroperasional sejak 20 Juni 2023 lalu. (gus/one)
Editor : Jawanto Arifin