PENJAJAHAN Belanda selama beberapa abad di Indonesia meninggalkan beberapa warisan.
Salah satunya adalah pabrik gula. Di Probolinggo, salah satu pabrik gula yang terkenal adalah Pabrik Gula (PG) Wonolangan yang didirikan oleh Charles Etty pada 1832.
Berdirinya pabrik gula ini berkaitan dengan sistem tanam paksa (culture stelsel) yang diterapkan oleh Kolonial Belanda.
Di mana, setelah perang Diponegoro berakhir pada 1830, Gubernur Jenderal Van Den Bosch memberlakukan sistem tanam paksa untuk memperbaiki keuangan yang menipis akibat perang.
Program ini memaksimalkan industri perkebunan, melalui tenaga petani. Para petani diwajibkan menanam komoditas seperti kopi, teh, tebu, dan nila.
Nantinya, hasil komoditi tersebut, dipasarkan ke Eropa dengan harga yang telah ditentukan.
“Salah satu komoditi yang memang diwajibkan dalam culture stelsel adalah tebu. Alhasil, angka perkebunan tebu dan pabrik gula di Jawa meningkat,” kata Pegiat Sejarah Pojok Literasi Kota Probolinggo, Edi Martono.
Pada tahun 1914, tercatat ada 191 pabrik gula. Lalu pada 1925, terjadi peningkatan menjadi 200 pabrik gula di Jawa.
Bahkan, Jawa terkenal dengan penghasil tebu kedua terbesar di dunia, setelah Cuba.
“Pemerintah Belanda menerima keuntungan besar saat itu. Namun, rakyat dipaksa memeras tenaganya untuk menanam. Sehingga, kemiskinan dan kelaparan melanda Indonesia. Akhirnya berpengaruh juga, pada keuntungan Pemerintah Belanda yang lambat laun merosot,” tutur Edi.
Tak hilang akal, Pemerintah Belanda lantas mengeluarkan Undang-Undang Gula atau Suiker Wet.
Undang-undang ini menghapus kewajiban tanaman tebu untuk diekspor ke luar negeri. Kecuali yang telah berbentuk gula.
“Sehingga, memberikan kesempatan luas bagi pengusaha, untuk mendirikan pabrik gula. Masa itu, disebut masa ekonomi liberal. Di mana investor asing masuk ke Indonesia untuk menyuntikkan dana di industri tebu dan penggilingan gula. Pemerintah mengambil pajak dari kolonial, namun tidak mengubah nasib rakyat pribumi,” kisahnya.
Sejarah Pendirian PG Wonolangan
Pabrik Gula Wonolangan didirikan oleh Charles Etty. Ia merupakan pria kelahiran 1793. Ia lantas menikah dengan Elizabeth Grant di Calcutta pada 31 Mei 1814.
Dari pernikahannya tersebut, ia dikaruniai anak bernama Matthew Walter Etty yang lahir pada 1815.
Charles mulanya memiliki sebuah kapal pribadi, yang ia gunakan untuk berdagang ke Jawa dan Inggris.
Ia sering berlayar ke Surabaya. Lalu naik kereta ke Pasuruan, Probolinggo, Besuki, hingga Panarukan. Charles bahkan kenal baik dengan Bupati Besuki pada masa itu.
Dalam perjalanannya tersebut, Charles kerap membeli sejumlah barang dari berbagai daerah.
Lalu mengangkutnya ke kapal. Namun suatu ketika pada tahun 1832, perjalananya tertunda, karena kereta yang dinaikinya mengalami kerusakan.
“Saat itu ia berada di daerah Dringu. Charles melihat seorang keturunan Tionghoa yang tengah sibuk mengukur lahan. Akhirnya mereka berbincang dan diketahui, bahwa Cina tersebut memiliki konsesi mendirikan pabrik gula. Hanya saja, tidak memiliki uang tunai untuk melaksanakannya,” jelas Pegiat Sejarah Pojok Literasi Kota Probolinggo, Edi Martono.
Edi menjelaskan, Charles lantas mengambil keputusan berani dengan membeli konsesi tersebut, seharga sepuluh ribu Gulden.
Ia kembali ke kapalnya dan menjual kapal beserta stok barang di dalamnya. Charles hanya membawa sebuah boneka kayu yang ia sebut jimat, untuk dibawa pergi.
“Setelah itu, Charles mulai membangun pabrik tersebut. Tak hanya satu, pada 1834 ia juga membangun Pabrik Gula Oemboel. Dua pabrik tersebut seolah mengapit Probolinggo dan disebut sebagai Zuster Suiker Fabriek,” cerita Edi.
Pada 1836, Charles membeli ketel uap, demi memenuhi perintah pemerintah untuk membuat kualitas gula yang lebih baik lagi.
Ia rela meminjam dua puluh ribu Gulden, sebagai uang muka tanpa bunga, untuk membeli ketel uap dan panci masak.
Setelah kualitas gulanya menjadi lebih baik, Charles Etty buru-buru melunasi hutangnya.
Sepeninggalan Charles pada 1856, pabrik-pabrik tersebut dijalankan oleh putranya Matthew yang kemudian menetap di Oemboel.
Sejumlah keturunan Matthew dan saudara-saudara Charles, juga kemudian menjadi petinggi di pabrik-pabrik gula ini.
Perkembangan Pabrik Gula hingga Masa Kini
Pabrik yang berdiri di Jalan Raya Dringu KM 1 Desa Kedungdalem, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo, kini masih aktif menggiling tebu untuk diolah menjadi gula.
Pada tahun 1957, Pabrik Gula Wonolangan mulai dinasionalisasikan dari Pemerintah Belanda menjadi Pemerintah Indonesia dengan nama Perusahaan Perkebunan Negara.
Kemudian, berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1968 tentang penyederhanaan bentuk perusahaan negara, maka terdapat tiga bentuk usaha negara.
Yakni Perjan (Perusahaan Jawatan), Perum (Perusahaan Umum), dan Persero (Perusahaan Perorangan). Pada 30 Juni 1968, PG Wonolangan di bawah PPN XXIV (Perusahaan Perkebunan Negara XXIV) dipimpin oleh seorang direktur utama membawahi pabrik gula PG Kedawung Pasuruan, PG Wonolangan, PG Gending, PG Padjarakan, PG Jatiroto, dan PG Semboro.
Pada 13 Desember 1974 dengan keputusan Presiden yang dituangkan ke dalam PP RI Nomor 14/1974, PNP XXIV Surabaya digabung dengan PNP XXV yang berkedudukan di Surabaya.
Penggabungan tersebut di akhiri menjadi PT. Perkebunan XXIV-XXV
Setelah ada penggabungan, maka PTP XXIV-XXV (Persero) membawahi 12 pabrik gula, pabrik alkohol, dan rumah sakit dengan dipimpin oleh direktur utama yang berkedudukan di Surabaya.
Salah satu pabrik gula gula tersebut adalah PG. Wonolangan.
Pada 11 April 1996 PTP XXIV-XXV (Persero) diubah menjadi PT Perkebunan Nusantara XI (Persero) yang membawahi 12 pabrik gula ditambah 5 pabrik gula, 1 pabrik alkohol, dan 4 rumah sakit. (gus/one)
Editor : Jawanto Arifin