Di Kota Pasuruan, pernah ada gedung yang digunakan oleh salah satu organisasi guru di era Kolonial Belanda, Perserikatan Guru Bantu (PGB) untuk berbagai kegiatan. Bangunan tersebut, memiliki sejarah yang panjang. Sebab, tak hanya menjadi gedung pertemuan anggota PGB. Karena, pernah pula dijadikan sebagai sekolah, asrama TNI hingga akhirnya berubah menjadi warung kopi.
Lokasinya tertutup gedung pertokoan. Membuat gedung ini, seakan menghilang. Padahal, letaknya strategis.
Berada di antara Jalan Panglima Sudirman dan Jalan Hayam Wuruk, Kota Pasuruan. Persis di belakang Koramil Purworejo.
Tidak diketahui kapan didirikan. Namun, bangunannya sudah tertera dalam peta tahun 1912.
Gedung ini, dulunya sering disewakan sebagai gedung pertemuan. Khususnya pribumi dari kalangan menengah ke bawah.
Pemerhati sejarah Pasuruan, Achmad Budiman Suharjono menyebut, masyarakat sekitar menyebut gedung ini dengan nama gedung Perserikatan Guru Bantu (PGB). Dalam koran lama terbitan Belanda, disebutkan tentang kegiatan di gedung ini.
“Diperkirakan didirikan oleh pihak swasta, dengan tujuan untuk disewakan sebagai gedung pertemuan,” kata dia.
Gedung tersebut pernah tercatat, mendapatkan dana keuntungan penyelenggaraan pasar malam di Pasuruan, pada 1925 dan 1929.
Sebagai sekolah dasar khusus pribumi yang disubsidi pemerintah.
Sekolah dasar dengan perantara Bahasa Belanda ini, dikelolah oleh PGB.
Yaitu wadah bagi asisten guru, yang pernah berafiliasi dengan Perstauan Guru Hindia Belanda (PGHB). Yang menjadi cikal bakal PGRI saat ini.
Pada 1930, bangunan ini dipakai sebagai lokasi sekolah kejuruan yang pertama di Kota Pasuruan (De Gemeentelijke Ambachtsschool).
Sebelum pindah di gedung baru di wilayah Bangilan.
Pada Agustus 1933, ada pertemuan perdana anggota Indonesia Muda (IM) di gedung tersebut, yang dihadiri oleh banyak pemuda.
IM ini sama seperti asosiasi pemuda lainnya seperti Jong Java, dan Jong Sumatra yang didirikan oleh mahasiswa Stovia di Batavia (Jakarta).
“Pada 1934, bangunan ini pernah dikosongkan. Karena murid-muridnya, dipindahkan ke sekolah PGB lain di Probolinggo dan Surabaya. Hal itu disebut-sebut, imbas ada kasus penggelapan dana oleh pengurus sekolah,” kisahnya.
Budiman menyebut pada Juli 1938, bangunan ini dipergunakan untuk pertemuan Asosiasi Isteri Indonesia yang dihadiri oleh 200 ribu ibu-ibu.
Dr Soedarsono tercatat juga hadir dan berbicara tentang Palang Merah.
“Pernah juga menjadi sekolah swasta yang disubsidi, sebelum akhirnya menjadi sekolah negeri pada 1940. Sekolah tersebut, diberi nama Tegaldjagoeng. Saat itu, sekolah tersebut, akhirnya menjadi SDN Kandangsapi I,” sebut Budiman. (riz/one)
Baca Juga: Sejarah Yayasan Sang Timur Kota Pasuruan, Sekolah Katolik Pertama di Pasuruan
Dijadikan Warung Kopi
Setelah kemerdekaan Indonesia, bangunan ini berganti ganti keperuntukan.
Sempat menjadi asrama TNI, kini sebagian bangunan tersebut malah digunakan untuk tempat nongkrong, menjadi warung kopi.
Pemerhati Sejarah Pasuruan, Achmad Budiman Suharjono menjelaskan, pada masa kemerdekaan, gedung itu digunakan oleh TNI sebagai asrama dan markas perhubungan (P.H.B).
Yaitu satuan dari TNI, yang menyelenggarakan fungsi perhubungan dengan radio (morse).
Kini, dikenal dengan Pusat Perhubungan Angkatan Darat atau disingkat Pushubad.
Setelah dari gedung ini, satuan P.H.B dipindah ke Kodim di jalan Veteran, Kota Pasuruan.
Sekitar tahun 1980, halaman luas gedung eks PGB yang biasa dipakai masyarakat berolahraga, mulai dibangun menjadi pertokoan.
Baik di bagian depan dan bagian sampingnya. Sehingga, bangunan ini seakan menghilang.
“Yang masih bisa terlihat itu, bagian belakang gedung. Karena lokasinya tepat di belakang Koramil Purworejo. Teras belakang gedung ini, digunakan untuk warung kopi,” tutur Budiman.
Camat Purworejo, Alfian Afandi menyebut, bangunan tersebut merupakan aset milik Kodim 0819 Pasuruan.
Dan masih menjadi satu kesatuan, dengan bangunan milik Koramil Purworejo.
“Memang saat ini, sebagian terasnya di bagian belakang, telah menjadi warung kopi. Tapi, itu asetnya tercatat milik Kodim 0819 Pasuruan,” urai mantan Lurah Purutrejo ini. (riz/one)
Menilik nilai sejarahnya, bangunan ini bisa diusulkan menjadi obyek diduga cagar budaya.
Sebab di sinilah dahulu, tempat gedung pertemuan khusus pribumi dan pemuda diselenggarakan.
Pemerhati sejarah Pasuruan, Achmad Budiman Suharjono menyebut, gedung eks PGB itu, memiliki nilai sejarah yang panjang. dimana, dulu dr. Soedarsono pernah memberikan penyuluhan kesehatan.
Dan tempat pertemuan organisasi IM.
Pihaknya berharap, agar bangunan ini bisa menjadi cagar budaya.
Jika memang bisa, bangunan ini dapat dimanfaatkan sebagai gedung pusat kegiatan pemuda di Kota Pasuruan. Atau kegiatan semacam forum dialog.
“Saya pernah mengusulkan pada Pemkot, agar bisa menjadi gedung tersebut sebagai cagar budaya. Bangunannya masih utuh dan asli. Kecuali atapnya mulai dimakan usia,” beber Budiman.
Kabid Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Pasuruan, Agus Budi menyebut pihaknya mempersilahkan, siapapun mengusulkan suatu bangunan menjadi obyek diduga cagar budaya.
Nantinya, Pemkot akan menyampaikan pada Balai Cagar Budaya.
“Kalau dilihat usianya, memang bangunan tersebut masuk kategori cagar budaya. Namun, masih butuh pengesahan dari Balai Cagar Budaya Trowulan,” ucap mantan Lurah Bugullor ini. (riz/one)
Editor : Ronald Fernando