Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Dusun Sumberglatik, Dusun yang Kini Menghilang dan Menjadi PLTU Paiton dengan SDA Melimpah dan Indah

Agus Faiz Musleh • Minggu, 7 Juli 2024 | 22:05 WIB
BERENANG: Kepala Desa Binor, Kecamatan Paiton, Hostifawati (perempuan) saat bermain di area pantai yang di Dusun Sumberglatik besama temannya. Saat ini pantai tersebut telah terbangun PLTU Paiton.
BERENANG: Kepala Desa Binor, Kecamatan Paiton, Hostifawati (perempuan) saat bermain di area pantai yang di Dusun Sumberglatik besama temannya. Saat ini pantai tersebut telah terbangun PLTU Paiton.

KEBERADAAN Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Paiton memang cukup indah.

Apalagi, bila dipandang ketika malam tiba. Rentetan lampu, menghiasai kawasan setempat.

Dengan sejumlah keindahannya, PLTU Paiton, ternyata memiliki cerita menarik dalam pembangunannya. Satu dusun di lokasi pembangunan PLTU, menghilang.

PLTU Paiton berada di Dusun Sumberglatik, Desa Binor, Kecamatan Paiton.

Pembangunan PLTU setempat, direalisasikan tahun 1981 silam. Keberadaannya harus diikuti dengan merelokasi warga dusun.

Ada belasan Kepala Keluarga (KK) yang harus dipindah dari dusun tersebut.

“Banyak dari warga Dusun Sumberglatik yang merupakan pegawai perhutani. Sebagain merupakan buruh pemotong sirlak, pada pohon kesambi,” kata Kepala Desa Binor, Kecamatan Paiton, Hostifawati.

BANGUN: Proses pembangunan PLTU Paiton yang selesai dan diresmikan sekitar tahun 1987 oleh Menteri Dalam Negeri era Presiden Suharto yakni Amir Machmud.
BANGUN: Proses pembangunan PLTU Paiton yang selesai dan diresmikan sekitar tahun 1987 oleh Menteri Dalam Negeri era Presiden Suharto yakni Amir Machmud.

Hostifawati merupakan warga asli Desa Binor. Meski bukan warga dusun Sumberglatik, perempuan kelahiran 1965 tersebut, masih ingat betul keberadaan dusun yang hilang. Maklum, saat relokasi dilakukan, umurnya sudah sekitar 16 tahun.

“Saya asli warga dusun pesisir, sebalah barat dusun yang hilang. Dahulu, dusun tersebut (Sumberglatik, red) tempat bermain semasa kecil,” imbuh kepala desa dua priode tersebut.

Relokasi sekaligus pembangunan diingatnya betul pada tahun 1981. Pengerjaan awal dilakukan dengan memindahkan jalan raya.

Semula, jalan raya tepat berada di bibir pantai, dipindah menuju atas bukit.

Pemindahan sekaligus pembangunan jalan selesai dan diresmikan sekitar tahun 1987 oleh Menteri Dalam Negeri era Presiden Suharto yakni Amir Machmud.

“Setelah berhasil memindahkan jalan utama, baru dimulai pembangunan PLTU-nya. Luasnya, sekitar 450 hektare. Dan PLTU itu seingat saya, beroperasi sekitar tahun 1994 dengan diresmikan oleh Presiden Suharto,” kisahnya kepada Jawa Pos Radar Bromo.

Awal dibangun, nama PLTU Paiton adalah PT Pembangkitan Jawa-Bali (PJB). Lalu bertransformasi menjadi PT Nusantara Power.

Pembangunan pertama kali, dilakukan pada lokasi Unit 1 dan 2. Dilanjut dengan bangunan lain, yang saat ini terlihat megah.

Nama Dusun Sumberglatik sendiri, disematkan dari adanya sumber mata air tawar yang terkenal dan Burung Glatik yang kala itu, banyak ditemukan di lokasi sumber mata air.

“Selain pohon pinus dan kosambi, di lokasi dusun itu, juga ada sumber mata air yang jernih dan terkenal. Biasanya digunakan juga oleh para pelancong, untuk minum dan berhenti melepas lelah,” urainya.

Hostifawati masih sangat mengingat, masa-masa saat dirinya bersama teman sebayanya, sering mandi di lokasi sumber mata air tersebut.

Bahkan, hampir setiap hari ia datang untuk bermain ke sumber mata air setempat.

“Dusun Sumberglatik ini, berada di bibir pantai. Pantainya sangat bagus. Menyerupai Huruf U menjulang ke laut. Jadi tempat bermain hampir setiap hari,”ungkapnya mengenang masa lalu.

MENAWAN: Terlihat kondisi saat ini PLTU Paiton. Gemerlap lampu tampak menawan ketika malam.
MENAWAN: Terlihat kondisi saat ini PLTU Paiton. Gemerlap lampu tampak menawan ketika malam.

Saat PLTU Paiton dibangun, warga setempat pun berpindah ke dusun lainnya. Beberapa diantaranya, juga ada yang pulang kampung.

Karena memang bukan asli warga dusun tersebut. Melainkan, warga luar kota.

“Paling banyak, mereka pindah ke dusun pesisir. Jadi beli tanah, kemudian bangun rumah. Karena kan dapat ganti rugi dari pihak PLTU. Akhirnya, uang itu lah yang dibuat beli tanah dan bangun rumah,” ujarnya.

Kebanyakan dari warga dusun setempat, membangun rumah di tepian jalan raya. Bahkan, berpindahnya warga tersebut, juga menggaet keinginannya untuk berpindah.

“Rumah saya dekat dengan laut. Namun karena banyak yang bangun rumah di dekat jalan raya itu (warga Dusun Sumberglatik), akhirnya saya juga ikut beli tanah dan bangun rumah. Sampai akhirnya saat ini ramai. Kebanyakan pindah ke Dusun Pesisir dan Krajan,” cerita dia.

Dengan hilangnya satu dusun tersebut, praktis Desa Binor mengalami pengurangan dusun.

Yang semula empat dusun, kini menjadi tiga dusun. Yakni Dusun Krajan, Dusun Pesisir, Dusun Klompangan.

 Baca Juga: Pastikan Pasokan Listrik WWF Aman, Kepolisian Lakukan Ini di PLTU Paiton

Jadi Sumber Ekonomi Warga sejak Dahulu

Selain keindahan alam yang menyejukkan mata, Dusun Sumbergelatik merupakan lokasi yang menjadi sumber pendapatan masyarakat sekitar.

Tidak hanya menjadi tempat bagi para polisi hutan, warga di sana juga menjadi buruh pemotong sirlak, pada pohon kesambi.

“Sirlak yang kemudian menjadi bahan pelitur ini mahal harganya. Bahkan dahulu, hasil produksi-nya di ekspor. Untuk pohon kesambinya, dijadikan bahan bakar atau kayu bakar,” urai Hostifawati, kepala Desa Binor, Kecamatan Paiton.

Banyak masyarakat yang menjadikan sumber ekonomi dari sirlak tersebut. Bahkan, bisa dibilang perekonomian di Desa Binor pada saat itu, ditopang dari sirlak.

“Jadi sirlaknya di produksi, kayunya biasanya digunakan sebagai bahan bakar batu bata. Biasanya di kirim ke Gili Ketapang. Banyak masyarakat yang bekerja seperti itu,” tuturnya.

Kondisi saat ini pun, tak jauh berbeda dari masa adanya Dusun Sumberglatik. Bahkan, cukup mengalami perkembangan pesat.

PLTU terbangun, geliat ekonomi masyarakat pun kian berkembang.

Dengan keindahan PLTU Paiton, di tepian jalan raya banyak terbangun warung. Warung-warung itu menjadi salah satu penghasilan masyarakat.

“Masyarakat taunya kan PLTU. Nama PLTU ini, sudah tersebar di mana-mana. Sehingga, banyak orang yang ingin tahu. Dari sana, masyarakat sekitar banyak yang buka warung. Tentu berpengaruh terhadap ekonomi mereka,” ujarnya.

Berdirinya PLTU Paiton ini, memberi perkembangan ekonomi masyarakat cukup bagus. Hal ini pun, dirasakan oleh Pemerintah Desa Binor, dalam pengelolaan BUMDesnya di sektor wisata.

Siapa yang tidak tahu dengan Pantai Bohay. Pantai yang berada tepat di barat PLTU Paiton.

Bagi pengunjung yang datang, tentu akan terkesima dengan pemandangan laut yang mengarah langsung pada bangunan-bangunan PLTU.

“Begitu Pantai Bohay ini ada, banyak yang berdatangan. Salah satunya, dampak dari PLTU. Para karyawan PLTU yang dari luar kota, tentu akan membawa keluarganya ke sini. Sehingga perkembangan wisatanya pesat. Begitupun warga lain, pasti tahunya PLTU. Kemudian setelah itu, mereka mengunjungi wisata Pantai Bohay,” sampainya.

Dengan perkembangan wisata yang kian pesat, Pemerintah Desa berhasil melakukan pemberdayaan kepada puluhan masyarakatnya di sektor wisata tersebut.

“Ada sekitar 60 orang karyawan. Alhamdulillah, hal ini tidak terlepas dari nama besar PLTU yang merupakam penyuplai listrik Jawa-Bali,” ujanya. (mu/one)

Editor : Jawanto Arifin
#pltu paiton #relokasi #Dusun Sumberglatik