Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Menelisik Keberadaan Sluis Krangkong, Dibangun Zaman Kolonial Belanda, Terawat Meski Lebih Satu Abad

Rizal Syatori • Minggu, 30 Juni 2024 | 17:05 WIB

 

 

UTUH: Bangunan Sluis Krangkong di Dusun Krangkong, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Sukorejo yang bertahan hingga sekarang.
UTUH: Bangunan Sluis Krangkong di Dusun Krangkong, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Sukorejo yang bertahan hingga sekarang.

BANGUNAN Sluis Krangkong di Desa Ngadimulyo, Kecamatan Sukorejo, merupakan salah satu peninggalan sejarah.

Saluran air yang dikontrol oleh pintu air itu, tetap bertahan meski dibangun pada era penjajahan kolonial Belanda, 1914 silam.

Bahkah, masih memiliki fungsi sama, seperti saat awal pembangunannya.

Loksi bangunan tersebut, tepatnya berada di Dusun Krangkong, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan.

Sluis Krangkong merupakan salah satu peninggalan kolonial Belanda, yang hingga kini masih banyak dimanfaatkan warga.

PLAKAT: Keberadaan plakat Sluis Krangkong yang mencatat tahun pembangunannya, sekitar 1914 silam.
PLAKAT: Keberadaan plakat Sluis Krangkong yang mencatat tahun pembangunannya, sekitar 1914 silam.

Sluis sendiri adalah saluran air yang dikontrol oleh pintu air di kedua sisinya.

Pintu sluis diletakkan disaluran air, untuk mengatur aliran air dan ketinggian air di saluan tersebut.

“Sluis Krangkong ini dibangun pada era kolonial Belanda, sekitar tahun 1914 lalu. Hal ini berdasarkan tulisan yang tertera pada plakat bangunan tersebut,” kata Kepala Desa Ngadimulyo, Kecamatan Sukorejo, Nurhadi.

Meski usianya sudah lebih dari satu abad, kondisi bangunannya masih utuh terjaga. Bahkan, terawat dengan baik hingga saat ini.

Tidak banyak perubahan. Selain hanya bagian atapnya, yang dibangun sekitar 1990-an silam.

Agar bisa melindungi petugas pengatur air, dari hujan saat mengatur air.

Nurhadi menjelaskan, bangunan Sluis Krangkong direalisasikan untuk mengatur air dari hulu, yakni pegunungan Arjuno.

Air dari pegunungan Arjuno, mengalir dari Desa Gunting melewati Desa Ngadimulyo, Kecamatan Sukorejo.

Air sungai itu, kemudian dialirkan ke sarana irigasi persawahan warga, memanfaatkan Sluis Krangkong.

Pada sisi utara, aliran air mengalir ke Desa Ngadimulyo, Suwayuwo dan Mojotengah, Kecamatan Sukorejo. Serta ke Desa Bulukandang, Kecamatan Prigen.

Sementara di sisi timur, mengalir ke Desa Ngadimulyo, Lemahbang, hingga Lecari, Kecamatan Sukorejo.

“Bangunan Sluis Krangkong ini, memberi manfaat besar bagi masyarakat. Terutama, untuk irigasi pertanian berupa sawah. Karenanya tak heran, desa-desa yang dilalui saluran air dari pengaturan sluis ini, ladangnya subur. Setahun, bisa panen hingga tiga kali,” terangnya.

LEBIH SATU ABAD: Meski terbangun lebih dari satu abad, bangunan Sluis Krangkong masih berfungsi seperti sebelumnya. Yakni mengatur air untuk irigasi warga.
LEBIH SATU ABAD: Meski terbangun lebih dari satu abad, bangunan Sluis Krangkong masih berfungsi seperti sebelumnya. Yakni mengatur air untuk irigasi warga.

Menurut Nurhadi, bangunan tersebut memang berada di Desa Ngadimulyo, Kecamatan Sukorejo.

Namun, pengaturan airnya, bukanlah kewenangan Pemdes setempat. Melainkan, milik petugas pengairan dari UPT Pengairan Purwosari.

“Meski begitu, kami memiliki tanggung jawab, untuk turut serta dalam merawat dan menjaga Sluis Krangkong ini,” ucapnya.

 

Sempat Ada Jembatan Kecil di Lokasi Sluis Krangkong

Tak semua bangunan di area Sluis Krangkong, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Sukorejo utuh.

Karena infrastruktur penunjang, berupa jembatan kecil yang ada di area setempat, dibongkar.

Pembongkaran tersebut, bukan tanpa alasan. Selain untuk mengantisipasi adanya orang yang jatuh, juga dikarenakan ada bangunan jembatan baru yang lebih aman untuk dilalui.

Kepala Desa Ngadimulyo, Kecamatan Sukorejo, Nurhadi mengatakan, jembatan kecil tersebut, melintang dari utara ke selatan.

Jembatan kecil dimaksud, berlantaikan besi tebal. Dengan lapisan kayu dan bambu sebagai pijakan.

“Jadi, orang Ngadimulyo kalau ke Desa Gunting atau sebaliknya, bisa menyebrang di jembatan kecil tersebut. Namun, hanya bisa dilalui oleh pejalan kaki atau pesepeda kayuh,” beber dia.

Namun, pada kedua sisi jembatan, tidak dilengkapi dengan leneng atau pegaman.

Di mana, leneng tersebut berfungsi untuk pegangan tangan atau sandaran, layaknya jembatan pada umumnya. Hal ini jelas sangat membahayakan pengguna jalan.

Kondisi itulah, yang akhirnya membuat jembatan setempat dibongkar. Pembongkaran direalisasikan pada kisaran 1976 silam.

TERAWAT: Kewenangan pengelolaan Sluis Krangkong berada di UPT Pengairan Purwosari. Namun, warga dan pemerintah desa setempat, sepakat untuk merawat dan menjaganya.
TERAWAT: Kewenangan pengelolaan Sluis Krangkong berada di UPT Pengairan Purwosari. Namun, warga dan pemerintah desa setempat, sepakat untuk merawat dan menjaganya.

Apalagi, ada jembatan baru yang lebih representatif dibangun, pada sisi barat Sluis Krangkong.

“Tahun 1976, dibangun jembatan baru pada sisi barat bangunan Sluis Krangkong. Jembatan tersebut cukup lebar, hingga bisa dilalui mobil bahkan truk. Selesai dibangun, jembatan kecilnya dibongkar. Sekarang, bekas dari jembatan kecil tersebut, telah hilang,” terang Katemun, 65, warga Dusun Krangkong, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Sukorejo.

 

Jadi Jujukan Wisata dan Spot Foto

Sluis Krangkong yang merupakan bangunan peninggalan zaman Belanda itu, terbilang ikonik.

Selain bentuknya masih utuh, keberadaannya pun terjaga hingga sekarang.

Tak heran, jika keberadaannya kerap menjadi jujukan untuk berwisata murah. Khususnya, kalangan pelajar, remaja, pemuda hingga kalangan dewasa.

Mereka datang, untuk berfoto ria di kawasan setempat.

“Banyak warga yang memanfaatkan kawasan setempat, untuk berfoto. Mereka yang mengendari motor atau mobil, memarkir kendaraannya di tepi jalan. Lalu, jalan kaki ke lokasi Sluis Krangkong untuk berfoto. Baik selfie menggunakan handphone hingga kamera SLR ataupun DSLR,” papar Kades Ngadimulyo, Kecamatan Sukorejo, Nurhadi.

Mereka yang datang, tidak hanya berasal dari Desa Ngadimulyo, Kecamatan Sukorejo.

Tetapi juga, dari desa lain. Bahkan juga dari luar daerah. Sebagian ada yang menikmati kawasan setempat, dengan cara hunting foto.

Namun, ada pula yang memanfaatkan kawasan setempat, untuk melepas kepenatan. Ngopi sambil makan snack atau camilan.

“Layaknya orang jalan-jalan dan berwisata. Mereka datang, untuk menikmati pemandangan di kawasan Sluis Krangkong,” urainya. (zal/one)

 

Tentang Sluis Krangkong

Editor : Jawanto Arifin
#Sluis Krangkong #zaman belanda #pintu air #zaman kolonial