PEMBANGUNAN menara air (water tower) di berbagai wilayah di Indonesia, memiliki sejarah yang panjang.
Tak terkecuali pembangunan Menara air Randu Pangger di Kota Probolinggo.
Meski tak berfungsi seperti sebelumnya, bangunan peninggalan kolonial tersebut, masih berdiri kokoh hingga saat ini.
Belanda memiliki alasan sendiri untuk membangun menara air.
Tujuan utamanya, tak lain untuk penyediaan pakoran air bersih. Agar tetap stabil dan teratur.
Hal tersebut seiring dengan pembangunan infrastruktur yang dibangun pemerintah kolonial Belanda.
Mulai kompleks militer, rumah sakit, perumahan, dan lain-lain.
“Tentunya, aspek-aspek tersebut membutuhkan pasokan air bersih juga,” kata Pemerhati Sejarah dari Pojok Literasi Kota Probolinggo, Edi Martono.
Edi menjelaskan, menara air berfungsi sebagai tempat penyimpanan air bersih, yang dapat didistribusikan secara merata ke seluruh wilayah.
Selain itu, menara air juga membantu menjaga keberlanjutan pasokan air. Terutama ke daerah-daerah yang mungkin mengalami fluktuasi ketersediaan air.
“Harapannya dengan menara air tersebut, pasokan air tetap memadai dan tidak tergantung musim. Sebelum adanya menara air, kan airnya didapat dari sumur atau air bor (aarischeput). Sehingga ketika musim kemarau, terkadang kering,” jelasnya.
Menara air Randu Pangger di Kota Probolinggo tersebut mulai dibangun oleh Belanda pada 1927.
Bangunan ini dirancang oleh seorang insinyur irigasi bernama W.H. Brandenburg. Dan diresmikan oleh Residen Probolinggo bernama Gerrit Scholten pada 21 Juli 1928.
Bangunan ini memiliki ketinggian sekitar 30 meter. Terdiri dari dua tangki.
Di mana, tangki yang di atas, berkapasitas 130 meter kubik. Sementara yang bawah, kurang lebih 40 meter kubik.
Sementara sumber airnya, diambil dari Ranu Ronggojalu, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo.
Pengambilan dan pendistribusian air kepada masyarakat, dilakukan melalui sistem perpipaan.
Hal tersebut memang umum dilakukan pihak kolonial pada masa 1900-an.
Pembangunan pipa-pipa besar ini, berlangsung antara tahun 1920 hingga 1923. Sistem tersebut dikenal dengan sebutan waterleiding.
Dalam bahasa Belanda, leiding berarti saluran atau pipa. Sedangkan water berarti air.
Sehingga waterleiding secara harfiah berarti saluran air.
“Namun masyarakat Indonesia kesulitan mengucapkan leiding. Akhirnya disebut ledeng. Makanya air ledeng ini, erat kaitannya dengan air PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) hingga sekarang. Yang artinya, air disalurkan melalui pipa,” beber dia.
Menjadi Suplai Air Bersih bagi PDAM
Jauh sebelum berdirinya PDAM, telah ada usaha pemerintah setempat untuk memberikan jaminan air bersih dan sehat.
Yakni dengan menggunakan sumur bor (aarischeput), yang disebut SAM (Saluran Air Minum).
Air tersebut berguna sebagai air minum dan kebutuhan lainnya.
“Namun saat itu, kapasitas masih kecil. Sehingga, hanya sebagian masyarakat yang dapat merasakan atau menerima manfaatnya,” jelas Pemerhati Sejarah dari Pojok Literasi Kota Probolinggo, Edi Martono.
Baru pada Juli 1928, Walikota Probolinggo pertama, dapat menggunakan air bersih yang telah ditampung di menara air.
Hal itu, untuk memenuhi kebutuhan daerah dan masyarakat setempat.
Air lantas dialirkan melalui pipa berdiameter 200 mm, dengan kekuatan tenaga mesin diesel kurang lebih 20 PK ke menara.
Pada 1949, terdapat penggantian mesin penggerak pompa air, menjadi berkekuatan 27 PK. Begitu juga pada 1954, pompa di-upgrade kembali berkapasitas 35 PK.
“Hal tersebut sejalan dengan meningkatnya jumlah konsumen. Sehingga peralatannya, baik mesin maupun pipa utama, turut ditambah kapasitasnya. Selain itu, juga dibuka jalur-jalur baru, ke seluruh pelosok jaringan Kota Probolinggo,” kata Edi.
Melihat perkembangan perusahaan yang semakin pesat, maka SAM mengubah statusnya menjadi BPAM (Badan Pengelolaan Air Minum) pada 1974.
Hal tersebut bertujuan, agar SAM nantinya, dapat menjadi Perusahaan Daerah.
“Baru kemudian dengan lahirnya PERDA Nomor 13/1975, PDAM Kota Probolinggo terbentuk pada 3 November 1975,” tutur Edi.
Meski demikian, semakin meningkatnya jumlah konsumen sejak 1993, membuat Menara Air Randu Pangger Kota Probolinggo ini, tidak lagi berfungsi sebagai pusat penampungan air untuk suplai masyarakat.
Sebab kapasitas tangki menara sudah tidak mencukupi lagi.
“Kini air yang diproduksi dari pusatnya di Ranu Ronggojalu langsung didistribusikan ke konsumen,” tukas Edi. (gus/one)
Editor : Jawanto Arifin