Sebuah saluran irigasi di wilayah Pandaan menjadi bagian dari sejarah.
Dibangun pada era Belanda tahun 1912 silam, saluran irigasi tersebut, bertahan hingga sekarang. Kondisinya pun, masih terjaga.
Bangunan yang dimaksud, berupa Saluran Irigasi Pateguhan.
Nama itu diambil, dari lokasinya yang berada di Dusun Pateguhan, Desa Tawangrejo, Kecamatan Pandaan.
Saluran Irigasi Pateguhan, merupakan saluran irigasi sekunder yang kini berada di bawah kewenangan Dinas Pengairan Provinsi Jawa Timur.
“Dinamakan saluran irigasi Peteguhan, karena lokasinya ada di Dusun Pateguhan. Itu bangunan lama. Dibangun saat penjajahan Belanda, sekitar tahun 1912 silam,” kata Kepala Desa Tawangrejo, Kecamatan Pandaan, Sukirno.
Saluran Irigasi Pateguhan, memiliki kaitan erat dengan Talang Abang yang berada di Desa Sumbergedang, Kecamatan Pandaan.
Karena sama-sama dibangun, pada era penjajahan Belanda, sekitar tahun 1881-1882 lalu.
Hulu saluran air Pateguhan, ada di Dusun Kedondong, Desa Sumbergedang.
Mengalir ke Pateguhan, Desa Tawangrejo hingga Dusun Besonggol dan Bareng, Desa Sumberejo, Kecamatan Pandaan.
“Dari Desa Sumbergedang kemudian Tawangrejo, sampai ke Sumberejo, Kecamatan Pandaan. Total panjang saluran air Pateguhan, mencapai kurang lebih 1,5 kilometer. Oleh warga di tempat kami, saluran air ini disebut Lak,” imbuhnya.
Sukirno menguraikan, Saluran Irigasi Pateghuan memiliki bentuk ikonik.
Jaraknya lebih rapat dibanding saluran irigasi kebanyakan. Serta bertrap-trapan atau berundak.
“Bentuk paling ikonik, memang berada di Pateguhan. Karena bertrap-trapan dengan jarak yang dekat,” sambung dia.
Sebagian besar, air dari Saluran Irigasi Pateguhan untuk mengairi sawah yang ada di Pateguhan dan sekitarnya.
Karenanya tak heran, pertanian di wilayah setempat, cukup subur. Bahkan, bisa panen tiga kali dalam setahunnya.
Hal ini wajar. Menginggat di saluran air ini, airnya terus mengalir. Meskipun di musim kemarau. Walau tak sederas ketimbang saat penghujan.
“Sebagian lainnya, dialirkan ke Pabrik Es Kasri melalui pipa berukuran besar. Digunakan sebagai penggerak turbin,” bebernya. (rizal fahmi syatori/one)
Dipakai Untuk Mandi dan Cuci Baju
Tak hanya untuk irigasi. Karena Jaringan Irigasi Pateguhan juga dimanfaatkan untuk mandi dan mencuci.
Terutama, bagi para petani sepulang dari menggarap sawah.
Bahkan, saluran air setempat, juga menjadi jujukan anak-anak. Untuk bermain dan berenang ketika liburan. Atau sepulang dari sekolah.
“Bahkan juga, kerap dimanfaatkan warga untuk mencuci baju. Jadi, manfaat Saluran Irigasi Pateguhan ini cukup banyak. Karena memang, airnya cukup jernih,” ujar Riza Rahmawan, salah seorang staff perangkat di Pemdes Tawangrejo, Kecamatan Pandaan.
Hal senada juga disampaikan Supeno, kasun Besonggol, Desa Sumberejo, Kecamatan Pandaan.
Menurutnya, air dari saluran irigasi setempat, memang jernih. Bahkan, kelihatan dasarnya.
Tak heran, jika banyak warga yang memanfaatkannya. Tak sekedar petani untuk mandi seusai dari sawah. Tetapi juga, warga. Baik mencuci baju ataupun membasuh diri. “Kondisi saluran air di desa kami juga sama. Airnya bersih. Kerap dimanfaatkan untuk mandi dan mencuci,” sambung dia. (rizal fahmi syatori/one)
Kerap Jadi Jujukan Wisatawan
Saluran Irigasi Pateguhan memang memiliki daya tarik. Bentuknya yang ikonik ditambah bangunan yang merupakan peninggalan Belanda, menyita banyak perhatian warga untuk mendatanginya.
Tak hanya warga sekitar. Tetapi juga dari luar kota. Seperti Sidoarjo hingga Surabaya.
“Entah mendapat informasi dari mana, Saluran Air Pateguhan ini, kerap menjadi jujukan wisatawan, lho. Rata-rata yang datang, merupakan kalangan pelajar dan mahasiswa,” ucap Riza Rahmawan, salah seorang staff perangkat di Pemdes Tawangrejo.
Mereka datang, tak sekedar menikmati kesegaran air dari saluran irigasi setempat.
Tetapi juga, untuk mengabadikan kawasan setempat. Baik dengan foto selfie ataupun membuat video.
“Paling sering saat liburan sekolah. Atau ketika hari weekend tiba. Ada saja yang datang dari luar Pandaan, untuk berfoto-foto ataupun membuat video di sekitar saluran air,” imbuhnya. (rizal fahmi syatori/one)
Editor : Abdul Wahid