GUNUNG Bromo terletak di Provinsi Jawa Timur. Gunung ini menjadi salah satu daya tarik wisata di Kabupaten Probolinggo.
Nama Bromo diambil dari salah satu nama Dewa kepercayaan agama Hindu yaitu Dewa Pencipta, Brama.
Pemandangan indah yang ditawarkan Gunung Bromo, telah tersohor hingga ke manca negara.
Hal tersebut membuat keluarga Morbeck merintis jalur menuju lokasi tersebut pada 1870.
Keluraga Morbeck terkenal sebagai keluarga kaya raya.
Istri Morbeck mengelola sebuah hotel internasional bernama Hotel Morbeck. Lokasinya berada di tepi Jalan Balaikota, Kota Pasuruan.
Sementara Morbeck sendiri, dikenal sebagai agen pabrik gula, yang pengirimannya hingga ke luar Pasuruan.
Hotel Morbeck kemudian semakin dikenal hingga ke luar Jawa.
Morbeck juga menerima permintaan penginapan dan berbagai kebutuhan yang diperlukan pada tanggal-tanggal tertentu.
Seperti layanan perjalanan atau biro travel ke Tosari dari Inggris dan Amerika.
Di masa itu, Morbeck menyediakan segala sarana transportasi dan akomodasi bagi wisatawan yang akan berkunjung ke Bromo.
Dapat dikatakan, Morbeck merupakan agen tour and travel pertama yang mempromosikan Wisata Gunung Bromo hingga ke Inggris dan Amerika.
“Tercatat wisata Bromo ini dikunjungi pertama kali oleh Raja Siam (sekarang Thailand) King Rama V, Koning Chulalongkorn. Ia berhasil mencapai tenda di lautan pasir dengan kendaraan beroda pada 1896,” kata Edi Martono, Pemerhati sejarah dari Lembaga Masyarakat Warisan Pertahanan (Defense Heritage Society) Kota Probolinggo.
Sejarah Pembuatan Tangga Menuju Kawah Gunung Bromo
Saat berkunjung ke wisata Gunung Bromo, memang belum lengkap rasanya bila belum turun ke lautan pasir dan mendaki tangga menuju kawahnya.
Sebab bagi masyarakat Tengger sendiri, lautan pasir dan kawah Gunung Bromo merupakan tempat keramat dan disakralkan.
“Di puncak gunung, keelokan panorama Bromo menjadi jauh lebih indah. Pengunjung disuguhkan pemandangan cantik lautan pasir dan gagahnya Gunung Bromo,” jelas Edi Martono, Pemerhati sejarah dari Lembaga Masyarakat Warisan Pertahanan (Defense Heritage Society) Kota Probolinggo.
Demi menuju puncak kawah, pengunjung harus menapaki ratusan anak tangga.
Hingga kini, masyarakat percaya bahwa jumlah anak tangga tersebut kerap berubah-ubah saat dihitung.
Hal ini masih menjadi misteri, ada yang menyebut 240, 245, 250, 255, bahkan 260 anak tangga.
Dahulu, tangga menuju kawah Gunung Bromo masih menggunakan bambu.
Namun kemudian, dibangun menggunakan struktur beton pertama kali oleh Morbeck pada 1910.
Pembangunan ini untuk menyambut Z. H. Johann Albrecht Hertog van Macklenburg.
Ini tercatat dalam prasasti yang diletakkan pada awal anak tangga.
Prasasti tersebut bertuliskan Bromo-Trap gebouwd in Maart 1910 Voor het eerst berstegen door Z. H. Johann Albrecht Hertog van Macklenburg.
“Bila diterjemahkan artinya Bromo Trap dibangun pada Maret 1910 dipasang untuk didaki pertama kalinya oleh Z. H. Johann Albrecht Duke of Macklenburg,” kata Edi-sapaannya.
Z. H. Johann Albrecht adalah seorang pria asal Mecklenburg yang lahir pada 8 Desember 1857.
Ia merupakan putra keenam Adipati Friedrich Franz II dari isteri pertamanya Auguste dari Reuß-Köstritz.
Setelah kakaknya Adipati Friedrich Franz III mangkat, Johann Albrecht diangkat sebagai adipati atas nama keponakannya Friedrich Franz IV.
Ia menjadi Wali Adipati Mecklenburg-Schwerin mulai tahun 1897 hingga 1901.
Kemudian setelah Friedrich Franz IV cukup umur, Johann Albrecht mengundurkan diri pada tahun 1901.
Ia lantas dinobatkan menjadi Wali Adipati Braunschweig periode tahun 1907 hingga 1913. Setelah pada 16 Februari 1920, ia meninggal.
Edi mengatakan bahwa dalam kehidupannya, Johann Albrecht menikah sebanyak dua kali.
Pernikahan pertamanya dengan Elisabeth Sybille dari Sachsen-Weimar-Eisenach, putri Karl Alexander dari Sachsen-Weimar-Eisenach.
Pernikahan ini berlangsung pada tanggal 6 November 1886 di Weimar.
“Setelah isteri pertamanya meninggal, ia menikah lagi dengan Elisabeth dari Stolberg-Roßla. Sayang dari kedua pernikahan itu, ia tidak dikaruniai anak seorangpun,” jelasnya.
Kondisi Wisata Gunung Bromo saat Ini
Kini Wisata Gunung Bromo berkembang pesat.
Bahkan pada libur Nataru 2023 lalu, jumlah pengunjungnya hampir memenuhi kuota perharinya yaitu 3.500 pengunjung.
Jumlah tersebut telah dinaikkan dari sebelumnya hanya 2.750 pengunjung per hari.
“Untuk menunjang kenyamanan para wisatawan asing maupun domestik, tangga yang awalnya hanya satu jalur kini dibuat dua jalur untuk naik dan turun. Sehingga para wisatawan tidak bertabarakan antara yang akan naik dan yang akan turun,” jelas Edi.
Kemudian berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Probolinggo Nomor 1/2024 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRB) yang ditetapkan pada awal Januari 2024, tiket masuk Gunung Bromo dinaikan.
Bagi wisatawan domestik, awalnya dipatok Rp 20 ribu, kini menjadi Rp 25 ribu.
Sedangkan untuk wisatawan mancanegara yang dulu dikenakan tarif sebesar Rp 30 ribu, sekarang menjadi Rp 35 ribu.
Harga tersebut sudah termasuk asuransi sebesar Rp 3 ribu.
“Memang perlu penyesuaian. Seperti cetak karcis retribusi kawasan dan parkir. Termasuk sosialisasi kepada pengunjung. Awal tahun ini, dilaksanakan. Harapannya, kenaikan tarif tersebut, juga akan mendongkrak perolehan PAD,” ujar Bambang Heriwahjudi, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Probolinggo.
Kabid Destinasi dan Industri Pariwisata Disporapar Kabupaten Probolinggo Umi Subiyantiningsih menambahkan, selain untuk mendongkrak PAD juga meningkatkan pelayanan keamanan dan kenyamanan pengunjung.
“Sebab kenaikan harga tiket tersebut juga sudah termasuk asuransi bagi pengunjung. PAD untuk Bromo tahun ini yaitu Rp 2.266.405.000. Ada kenaikan sesuai dengan Perda PDRB Nomor 1/2024,” paparnya. (gus/one)
Editor : Jawanto Arifin