Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Ponpes Singa Putih Munfaridin, dari Pondok Salaf Berkembang Menjadi Pondok Modern

Rizal Syatori • Minggu, 24 Maret 2024 | 23:05 WIB
MEGAH: Gedung bertingkat SPM 8, nantinya disiapkan sebagai Perguruan Tinggi di Ponpes Singa Putih Munfaridin.
MEGAH: Gedung bertingkat SPM 8, nantinya disiapkan sebagai Perguruan Tinggi di Ponpes Singa Putih Munfaridin.

KEBERADAAN pondok pesantren (ponpes) Singa Putih Munfaridin, memiliki kisah panjang hingga bisa berkembang seperti sekarang.

Pondok pesantren yang dulunya hanya fokus pada pendidikan Salaf, kini bertransformasi menjadi pondok modern.

Bahkan, salah satu pondok pesantren yang diperhitungkan di wilayah Kabupaten Pasuruan.

Terletak di Dusun Sentong, Desa Lumbangrejo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, Ponpes Singa Putih Munfaridin berdiri sejak tahun 1993 silam. Pendirinya, adalah Kiai M. Saifulloh Arif Billah.

Kyai Saifulloh mendirikan ponpes setempat, setelah lulus nyantri di Ponpes Darul Ulum, Kelurahan Bendomungal, Kecamatan Bangil dan Ponpes Roudhotul Mutaallimin, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri.

Dia menimba ilmu di kedua ponpes tersebut, sejak masih berusia 12 tahun hingga 25 tahun.

Selama 13 tahun itu pula, Kiai Saifulloh sempat tabarukan ke sejumlah pesantren. Seperti di Banten, Banyuwangi, Tebu Ireng dan ponpes yang lain.

KENANGAN: Santri Ponpes Salaf saat mengikuti pengajuan yang digelar Pengasuh sekaligus pendiri Ponpes Singa Putih Munfaridin, Kiai M. Saifulloh Arif Billah.
KENANGAN: Santri Ponpes Salaf saat mengikuti pengajuan yang digelar Pengasuh sekaligus pendiri Ponpes Singa Putih Munfaridin, Kiai M. Saifulloh Arif Billah.

Usai melakoni itu semua, ia memutuskan pulang ke kampung halaman atau kelahirannya di Dusun Sentong, Desa Lumbangrejo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan.

“Selesai mondok saya pulang kampung dan menikah. Baru kemudian, mendirikan ponpes salaf, dengan penasihat ponpes kala itu, Almarhum Mbah Dul dari Bangil. Saat itu, beliau masih hidup dan sehat,” jelas Kiai Saifulloh, ditemui Jawa Pos Radar Bromo di kediamannya.

Berdirinya ponpes salaf, berawal dari kedatangan lima orang asal Jateng di tahun 1993. Lima orang tersebut, datang ke kediamannya, sekaligus menemuinya untuk menjadi santri.

Bersamaan itu, juga berdatangan sejumlah orang untuk menjadi jamaah istighosah yang dipimpinnya.

Dari yang hanya beberapa orang, berkembang menjadi banyak orang.

“Dari situlah kemudian berdiri pondok salaf. Saat awal ngaji, masih ngemper atau numpang di bangunan sederhana berupa rumah kecil. Setelah itu, gedung pondok dibangun hingga tampak seperti sekarang,” tuturnya.

Awal ponpes salaf berdiri, jumlah yang menimba ilmu, hanya ratusan santri.

Mereka berasal dari berbagai daerah. Tak hanya dari Jawa Timur.

Tetapi juga, Jawa Tengah, Sulawesi, Palembang hingga daerah lainnya.

Kini, santri Pondok Salaf, hanya menyisakan belasan orang. Mereka bisa menima ilmu tanpa dipungut biaya, alias gratis.

“Gedung pondok salaf, mulai dibangun tahun 1994,” bebernya.

Saat awal mendirikan ponpes salaf, lingkungan sekitar pondok, masih berupa persawahan dan tegalan.

Akses masuk ke ponpes itu pun, berupa jalan setapak. Bahkan, karena berada di area pelosok, keberadaan Ponpes Singa Putih Munfaridin, tidak banyak diketahui orang.

Namun, seiring perkembangan zaman, didirikanlah pondok modern putra. Pendiriannya, direalisasikan tahun 2017 silam.

BERTINGKAT: Gedung bertingkat yang menjadi awal berdirinya Ponpes Singa Putih Munfaridin.
BERTINGKAT: Gedung bertingkat yang menjadi awal berdirinya Ponpes Singa Putih Munfaridin.

Setahun kemudian, pondok modern putri, ikut direalisasikan pendiriannya. Awal berdiri ponpes modern putra, hanya ada 13 santri.

Namun, jumlah itu terus berkembang. Terlebih setelah pondok modern putri didirikan. Kini ada ratusan santri, yang menimba ilmu di sana. Mereka berasal dari berbagai daerah.

Tak hanya dari Jawa. Tetapi juga, Sumatera, Bali, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua.

“Ternyata, keberadaan pondok modern perkembangannya bagus. Dari belasan orang santri, menjadi ratusan orang santri. Khusus santri yatim piatu, untuk pondok modern kami gratiskan. Sedangkan pondok salaf, tetap ada dan semua santrinya lepas biaya,” tuturnya.

 

Penamaan Singa Putih Munfaridin Memiliki Filosofi

Ada makna di balik penamaan Ponpes Singa Putih Munfaridin.

Kiai M. Saifulloh Arif Billah, sebagai pengasuh ponpes, tidak asal menyematkan nama pada pondok yang didirikannya.

Penamaan Singa Putih Munfaridin memiliki filosofi atau mengandung arti yang mendalam.

Ada kerja keras dan amalan-amalan yang terkandung di dalamnya.

“Filosofinya, kerja keras membersihkan hati. Munfaridin itu, nama amalan yang diamalkan santri-santri,” jelas Kiai Saifulloh.

Pada simbolnya, terdapat seekor singa putih. Singa putih itu digambarkan, dengan kondisi kedua tangannya yang mencengkeram.

Selain itu, dengan keadaan mulut yang mengaum atau mangap. Itu semua, juga memiliki arti.

“Nama pondok, ada filosofinya. Begitu pula untuk symbol, juga memiliki filosofi dan arti masing-masing,” tuturnya.

 

Berdiri MTs dan MA Unggulan, Hingga Rintis Perguruan Tinggi

Pendirian Pondok Modern Putra pada 2017 lalu, diikuti dengan berdirinya MTs Unggulan Singa Putih.

Setahun kemudian, MA Unggulan Singa Putih juga didirikan.

Kedua lembaga pendidikan tersebut, berada di kawasan atau lingkungan Ponpes Singa Putih Munfaridin. Bangunannya megah dan kokoh.

“Murid-murid yang bersekolah di MTs dan MA Unggulan ini, juga sekaligus santri pondok modern. Madrasah tersebut, menjadi sarana bagi para santri untuk mengenyam pendidikan formal,” ungkap pendiri dan pengasuh Ponpes Singa Putih Munfaridin Kiai M. Saifulloh Arif Billah.

Untuk sekolahnya, baik MTs dan MA, diberlakukan full day. Dari Senin sampai Jumat.

Kemudian untuk hari Sabtu, dikhususkan kegiatan ekstrakurikuler sekolah.

Seperti berkuda, panahan, renang, bola voli, futsal. Juga jurnalistik, multimedia hingga desain grafis, sesuai dengan peminatan.

MADRASAH: Bangunan MTs dan MA Ponpes Singa Putih Munfaridin yang digunakan untuk tempat belajar santri dalam menimba ilmu formal.
MADRASAH: Bangunan MTs dan MA Ponpes Singa Putih Munfaridin yang digunakan untuk tempat belajar santri dalam menimba ilmu formal.

Dalam perkembangannya, santri-santri yang belajar di MTs dan MA Unggulan Singa Putih, telah menorehkan sejumlah prestasi.

Tak hanya dalam akademik, tetapi juga olah raga. Tak hanya lokal tingkat kabupaten, karena juga merambah tingkat provinsi, nasional hingga internasional.

Alhamdulillah, selama ini, sudah seringkali meraih prestasi. Tentunya membanggakan, juga sekaligus sebagai penyemangat bagi santri yang lain,” tuturnya.

Kiai Saifulloh menceritakan, berdirinya sekolah dan pondok modern, merupakan hasil dari riyadoh, setelah umrah tujuh kali setiap tahun.

Akhirnya, ia mendapat petunjuk untuk mendirikan pondok modern putra dan MTs Unggulan Singa Putih.

“Dari situlah, setahun kemudian lanjut mendirikan MA Unggulan Singa Putih dan pondok modern putri. Target berikutnya, mendirikan lembaga sederajat berupa SMP,” bebernya.

Selain itu, ponpes modern Singa Putih Munfaridin, juga tengah merintis berdirinya perguruan tinggi. Sekarang dalam proses pengurusan perizinan.

“Gedung untuk perguruan tinggi, sudah terbangun. Tinggal menempati saja,” ungkapnya.

Nantinya, perguruan tinggi tersebut, tidak hanya untuk jenjang pendidikan para santri di Ponpes Singa Putih Munfaridin. Tetapi juga, untuk pelajar yang lain.

“Rencananya nanti, akan diawali tiga prodi dulu. Antara lain Pertanian, Peternakan dan Ekonomi-Manajemen,” bebernya.

 

Aktivitas Santri Ponpes Singa Putih Munfaridin

Ada ratusan santri yang menimba ilmu di Ponpes Modern Singa Putih Munfaridin. Mereka dilatih disiplin dengan pembagian waktu yang sudah ditata setiap harinya. Dimulai kegiatan salat Tahajud berjamaah, sekitar pukul 02.30. Dilanjutkan salat Subuh berjamaah dan disusul kemudian, zikir bersama.

Usai itu semua, ada kegiatan rutinan pagi yang tak dilewatkan.

Yakni kegiatan pagi berbahasa di ponpes. Materinya, Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Setelahnya, digelar salat Dhuha berjamaah.

Baru kemudian, para santri mengikuti pembelajaran di madrasah.

BELAJAR: Santri putra dan santriwati saat mengikuti kegiatan pondok pesantren.
BELAJAR: Santri putra dan santriwati saat mengikuti kegiatan pondok pesantren.

Mereka belajar di MTs dan MA Singa Putih Munfaridin, hingga sore hari.

“Usai sekolah, para santri mengikuti ngaji madrasah diniyah pembelajaran kitab. Kemudian Magribnya, salat berjamaah dan dilanjut berzikir tidak putus, sampai dengan salat Isya berjamaah,” jelas ustad Ahmad Adib Muta’ali, pengajar di Ponpes Singa Putih Munfaridin.

Selanjutnya, selama sekitar satu jam, mulai pukul 20.00-21.00, mereka kembali madrasah diniyah.

Kemudian ngaji kitab kuning atau bandongan pukul 21.00-22.00 malam.

Setelah itu, sekitar 30 menit hingga pukul 22.30 wajib belajar dan lanjut tidur.

Rutinitas itu, dilakoni para santri pondok modern setiap hari.

Kecuali Jumat dan Minggu. Karena Jumat malam, ngaji plus zikir diikuti semua santri dan wali santri, guru, masyarakat umum hingga tamu yang diasuh kiai langsung.

“Sedangkan Minggu sore, ngaji dengan kiai, juga diikuti semua santri termasuk santri salaf. Lalu para wali santri, masyarakat umum dan tamu,” terangnya.

Sementara itu, kegiatan rutinitas santri Pondok Salaf, dibimbing langsung ustad salaf setiap harinya. (zal/one)

Editor : Jawanto Arifin
#ponpes singa putih #kabupaten pasuruan #ponpes singa putih munfaridin #prigen