Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Jejak Peninggalan Pabrik Kulit “Jacatra” di Kraton yang Awalnya Produksi Gula dan Didirikan di Zaman Hindia-Belanda

Fahrizal Firmani • Minggu, 10 Maret 2024 | 21:55 WIB
SEKITAR TAHUN 1935: Bangunan pabrik kulit Jacatra di Gadingrejo saat masih jaya. Nampak aktivitas produksi pabrik yang potretnya pernah terekam dalam koran terbitan Belanda.
SEKITAR TAHUN 1935: Bangunan pabrik kulit Jacatra di Gadingrejo saat masih jaya. Nampak aktivitas produksi pabrik yang potretnya pernah terekam dalam koran terbitan Belanda.

JAMAK orang yang menyebutnya dengan sebutan pabrik kulit “Kraton”. Ini lantaran posisinya berada di perbatasan Kota dan Kabupaten Pasuruan, dekat sungai Welang.

Pabrik Kulit “Jacatra” ini punya sejarah panjang. Tapi siapa sangka, pabrik yang dibangun pada zaman pemerintahan Hindia Belanda, awalnya didirikan sebagai pabrik gula.

Dari penelusuran Jawa Pos Radar Bromo, pabrik kulit ini ini awalnya bernama “Djakatra Oost”. Beroperasi tahun 1856. Tercatat pemiliknya adalah W.F. Modderman.

Pada Mei 1889, pabrik gula ini berhenti beroperasi karena diputus kontrak oleh pemerintah Hindia Belanda saat itu. Setelah itu, pabrik ini digunakan untuk pengolahan kopi. Namun hanya bertahan sebentar.

SEKITAR TAHUN 1935: Bangunan pabrik kulit Jacatra di Gadingrejo saat masih jaya. Nampak aktivitas produksi pabrik yang potretnya pernah terekam dalam koran terbitan Belanda.
SEKITAR TAHUN 1935: Bangunan pabrik kulit Jacatra di Gadingrejo saat masih jaya. Nampak aktivitas produksi pabrik yang potretnya pernah terekam dalam koran terbitan Belanda.
SELALU TERTUTUP: Bangunan pabrik kulit dengan kondisi saat ini.
SELALU TERTUTUP: Bangunan pabrik kulit dengan kondisi saat ini.

“Mulai September 1934, pabrik ini beralih menjadi pabrik kulit. Sejarah pendirian pabrik kulit ini tertulis dalam koran terbitan Belanda pada 1936,” jelas pemerhati sejarah Pasuruan Achmad Budiman Suharjono.

Kata Budiman, dalam koran itu disebutkan, pendirian pabrik kulit “Jacatra” ini memiliki desain dan ukuran yang setara dengan pabrik kulit Wonotjolo dan Sun Liong di Batavia (Jakarta). Promotor perusahaan ini adalah Pilger dan Smit.

Keduanya merupakan bekas pegawai pabrik gula Pleret di Pasuruan yang ditutup pada 1935. Mereka menghubungi Borsumij, perusahaan perdagangan milik Belanda, yang bertindak sebagai organisasi penjualan untuk produk Jacatra.

Pabrik ini memiliki luas 70 ribu meter persegi dan terletak di lokasi yang sangat strategis dekat rel dan jalan raya. Selain itu ada jalur menuju ke laut. Perahu dapat mengarungi Kali Bulu dari laut menuju lokasi pabrik.

“Lokasinya sangat strategis. Sekitar lima kilometer dari pusat Kota Pasuruan. Dan juga dekat dengan laut,” tutur Budiman.

Seperti halnya bisnis baru, banyak kesulitan yang harus diatasi pada awalnya. Penyamakan saat itu tidak dikenal di wilayah Kraton. Sehingga buruh harus mempelajari proses dan mesinnya.

Jacatra dimulai dengan tiga orang pekerja asli Eropa dan 50 buruh. Dalam waktu singkat, bertambah menjadi enam karyawan Eropa dan 120 buruh. Pada pembukaan September 1934, produk utamanya adalah kotak Jawa.

Lalu, pada 1935 menyusul produksi kulit sol. Hingga pada pertengahan 1935 memproduksi kulit glace.

Pabrik itu memiliki kapasitas bulanan 6.000 kulit sapi yang diproses menjadi kulit Jawa, dan ikat pinggang. Serta, 6.000 kulit domba menjadi kulit berkualitas super.

“Pasokan kulit sapi diperoleh dari Madura dan sejumlah daerah di Jawa Timur. Sementara kulit domba, sebagian besar diperoleh dari Jawa Barat,” sebut Budiman.

 

Pernah Kena Banjir Besar di 1936

Bencana banjir sempat melanda Pasuruan pada tahun 1936. Tak terkecuali di Kraton. Bencana ini membuat banyak penduduk yang mengalami kerugian cukup besar. Pabrik kulit Jacatra juga ikut terimbas.

Budiman menyebut bencana ini terjadi selama satu hari mulai Rabu malam hingga Kamis. Penyebabnya, hujan deras yang turun membuat Kali Welang di wilayah Kraton meluber.

Dampaknya, air ini masuk ke pemukiman penduduk hingga setinggi dua meter. Sehingga barang rumah tangga mengambang. Air juga membanjiri pabrik kulit. Menyebabkan banyak kerusakan.

DULU: Salah satu bangunan di pabrik kulit sekitar tahun 1930-an.
DULU: Salah satu bangunan di pabrik kulit sekitar tahun 1930-an.
KINI: Salah satu bangunan di pabrik kulit sekitar tahun tahun 2021.
KINI: Salah satu bangunan di pabrik kulit sekitar tahun tahun 2021.

Untungnya, saat itu tidak ada korban jiwa. Namun, seorang pria harus terluka karena kepalanya tertimpa lemari yang jatuh. Ia pun dibawa ke rumah sakit. Namun lima rumah ambruk dampak banjir.

Beberapa tempat dalam pabrik yang digunakan untuk penyamakan kulit, ikut kebanjiran.

Tingginya hingga mencapai satu meter. Manajemen dan karyawan pabrik harus bekerja selama semalaman untuk mengantisipasi kerusakan lebih banyak.

“Banjir ini adalah banjir besar pertama yang terjadi di wilayah Kraton dan Pasuruan. Tertulis dalam koran belanda edisi 5 Juni 1936,” terangnya.

Dalam koran ini disebut, jika Wedono dan Asisten Wedono (setingkat dengan camat dan sekretaris camat) juga sibuk sepanjang malam. Bagi penduduk, banjir ini merupakan kerugian yang cukup besar. Banyak perabotan rumah tangga rusak.

“Pabrik kulit “Jacatra” juga mengalami kerusakan dan kerugian yang besar karena tidak diasuransikan untuk dampak banjir,” sebut Budiman.

 

Sekarang Bangunan Pabrik Masih Berdiri Tapi Sepi

Meski tidak seperti dulu, bangunan pabrik kulit ini masih berdiri kokoh. Bangunan ini berada di Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan. Warga sekitar lokasi pabrik banyak yang memiliki memori terhadap pabrik ini.

Kokoh Arie Hidayat, warga Karangketug, Kota Pasuruan menuturkan, saat dia masih kecil, pabrik ini masih beroperasi dengan baik. Para karyawan diberi rumah dinas yang lokasinya di sisi timur pabrik.

Ia sering bermain ke rumah dinas milik pabrik. Kebetulan ia memiliki teman bermain yang orang tuanya bekerja di pabrik ini.

Dulu, limbah pabrik sering dibuang ke kali di belakang pabrik dan mengalir ke laut.

“Tidak jarang warga yang tinggal di belakang pabrik mengeluh dengan bau limbahnya,” jelas pria yang menjabat kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Pasuruan ini.

Saat ini kondisinya jelas berbeda. Rumah dinas tidak terurus. Tumbuh tumbuhan rimbun tampak memenuhi rumah ini. “Sayangnya saat ini rumahnya tidak terurus,” jelas Kokoh.

Beberapa kali Jawa Pos Radar Bromo, mendatangi lokasi pabrik. Namun pagar pabrik selalu tertutup.

Sehingga tak diketahui apakah masih ada aktivitas produksi atau tidak, di dalam pabrik ini.

Lurah Karangketug Rudy Kurniawan menyebut, pihaknya kurang mengetahui apakah pabrik masih beroperasi atau tidak. Kemungkinan, pabrik beroperasi namun dalam skala produksi kecil.

“Sudah tidak seperti dahulu. Sepertinya tetap berproduksi tapi disesuaikan saat ada pesanan,” tuturnya. (riz/fun)

Editor : Jawanto Arifin
#Jacatra #pabrik kulit