Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Riwayat Pelabuhan Tanjung Tembaga Probolinggo, Jadi Saksi Perlawanan pada Penjajah

Muhammad Fahmi • Minggu, 3 Maret 2024 | 23:19 WIB
1.	TEMPO DULU: Pemandangan sejumlah kapal yang sandar di Pelabuhan Tanjung Tembaga Probolinggo (Istimewa)
1. TEMPO DULU: Pemandangan sejumlah kapal yang sandar di Pelabuhan Tanjung Tembaga Probolinggo (Istimewa)

Pelabuhan Tanjung Tembaga jadi saksi perkembangan Kota Probolinggo dari masa ke masa. Pelabuhan yang didirikan sejak era kolonial ini, memiliki peran yang cukup strategis.

===========================

Potensi sumber daya laut Indonesia yang melimpah, membuat Belanda lantas menjajahnya.

Pada masa penjajahan Belanda, banyak penerapan kebijakan-kebijakan untuk mendukung praktik kolonialisme. Salah satunya, adalah pembentukan enam belas gemeente di Jawa.

Probolinggo menjadi salah satu kota yang berpola gemeente,  karena letak geografisnya tergolong strategis.

Yaitu, berada di pesisir utara pulau Jawa. Melalui undang-undang desentralisasi tahun 1903 (Desentrasatie-wetgeving 1903), Probolinggo berganti status menjadi gemeente, yang pelaksanaannya dimulai tahun 1905.

Kemudian, Probolinggo memiliki gemeente raad (Dewan Kotamadya), pada 1918 yang tercatat dalam Stbl 322-1918 tanggal 1 Juli 1918.

Pemerintah kolonial tidak memberikan status gemeente, kepada semua daerah yang ada di Hindia Belanda.

Status ini, hanya diberikan kepada daerah-daerah yang memiliki keistimewaan khusus.

Tiga macam faktor yang menjadi pertimbangan Pemerintah Hindia Belanda untuk menentukan berdirinya suatu gemeente, yaitu faktor keuangan, faktor penduduk, dan faktor keadaan setempat.

“Penetapan Probolinggo sebagai gemeente, membawa dampak besar terhadap perkembangan Probolinggo sebagai kota kolonial. Perkembangan yang ada, dapat terlihat dari berbagai aspek kehidupan. Baik sosial, ekonomi budaya, maupun sarana infrastruktur,” kata Edi Martono, pemerhati sejarah dari Lembaga Masyarakat Warisan Pertahanan (Defense Heritage Society) Kota Probolinggo.

Salah satu infrastruktur yang dibangun pemerintah kolonial Belanda, adalah Pelabuhan Tanjung Tembaga, yang berlokasi di Kelurahan/Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo.

Karakteristik aktivitas di pelabuhan tersebut, meliputi bongkar muat barang kebutuhan pokok dan hasil pertanian maupun perkebunan.

Selain itu, kegiatan Angkatan Laut, pusat distribusi barang, dan perdagang.

Bahkan, Pelabuhan Tanjung Tembaga, mendapat predikat sebagai Pelabuhan Industri Kecil.

“Pelabuhan Tanjung Tembaga di masa kolonial, dijadikan penopang anggaran daerah,” imbuh Edi.

Pelabuhan Tanjung Tembaga, memegang peran ekspor impor hasil bumi yang cukup tinggi, untuk wilayah Hindia Belanda di bagian timur.

Berdasarkan data tabel Statistisch jaaroverzicht van Nederland-Indie (kolonien) jaargang 1926, halaman 242 dan Hand book of Netherland EastIndie dalam Nasution, 2006, tentang Ekonomi Surabaya pada Masa Kolonial 1830 hingga 1920, dijelaskan kegiatan impor tahun 1921 hingga 1927 di Kota Probolinggo, memiliki jumlah terbesar.

Bila dibandingkan dengan Pelabuhan Pasuruan, Panarukan, maupun Banyuwangi, Probolinggo menempati urutan pertama sebanyak 22.819 ton.

Sementara Pasuruan sebanyak 9.302 ton, Panarukan sebanyak 13.984 ton, dan Banyuwangi sebanyak 2.282 ton.

1.	SANDAR: Sejumlah kapal sandar di Pelabuhan Tanjung Tembaga saat ini (Zainal Arifin)
1. SANDAR: Sejumlah kapal sandar di Pelabuhan Tanjung Tembaga saat ini (Zainal Arifin)

“Hal ini disebabkan, penduduk di Probolinggo lebih padat daripada wilayah lainnya. Selain itu, angka impor menunjukkan bahwa Pelabuhan Probolinggo, lebih berpotensi sebagai sarana pengiriman barang, daripada pelabuhan di wilayah lainnya. Sehingga, mendorong Probolinggo lebih cepat berkembang,” jelasnya.

Edi menguraikan, kegiatan ekspor di tahun 1921 hingga 1927, juga sama.

Jumlah ekspor melalui Pelabuhan Tanjung Tembaga jauh lebih besar. Dilansir dari Statistsch jaaroverzicht van Nederland-Indie (kolonien) jaargang 1926, halaman 242 dan Verslag 1 van de kleine havens in Nederland Indie over het jaar 1923 dalam Astutik, 2013 mencatat  Probolinggo sebesar 258.244 ton, Pasuruan sebesar 192.801 ton, Panarukan sebesar 172.321 ton, dan Banyuwangi sebesar 48.390 ton.

“Probolinggo memiliki aktivitas pengiriman barang, yang lebih besar daripada pelabuhan-pelabuhan lain di ujung timur Pulau Jawa. Sehingga, Pelabuhan Probolinggo dijadikan sebagai pintu keluar masuknya komoditas perdagangan Belanda. Kondisi ini, didukung dengan adanya infastruktur yang memadai, seperti adanya tram dan kereta yang menuju langsung ke wilayah pelabuhan,” papar Edi.

Pada 22 Juli 1947 silam, juga pernah terjadi peristiwa bersejarah di area sekitar Pelabuhan Tanjung Tembaga.

Yakni, pembakaran gudang sembako oleh masyarakat pribumi.

Karena mereka, tak ingin gudang berkuran sekitar 90 meter kali 15 meter tersebut, dikuasai Belanda.

1.	PELABUHAN BARU: Gerbang masuk menuju Pelabuhan Tanjung Tembaga Baru Probolinggo. (Zainal Arifin/ Radar Bromo)
1. PELABUHAN BARU: Gerbang masuk menuju Pelabuhan Tanjung Tembaga Baru Probolinggo. (Zainal Arifin/ Radar Bromo)

Gudang  itu, terletak di sisi barat, tempat bersandarnya kapal-kapal nelayan.

Di gudang inilah, kala itu, warga menyimpan sembako. Sebagian besar berupa beras.

“Saat itu, memang terjadi pertempuran antara pasukan Belanda dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Sayangnya, pasukan Belanda lebih unggul. Sehingga, dapat masuk ke Kota Probolinggo. Warga yang enggan dikuasai Belanda, melakukan upaya pembumihangusan. Mereka membakar gudang sembako dan sejumlah kapal tranportasi,” beber warga Keluahan Sukabumi, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, tersebut. (gus/one)

 

Editor : Muhammad Fahmi
#pelabuhan probolinggo #pelabuhan tanjung tembaga