Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Jejak Pendirian Jalur Trem Uap di Probolinggo yang Dulunya Menjadi Jalur untuk Mengangkut Gula

Inneke Agustin • Minggu, 18 Februari 2024 | 20:45 WIB
KENANGAN: Keberadaan Tram Station te Probolinggo, yang dahulu diperkirakan ada di depan Pegadaian Kota Probolinggo saat ini.
KENANGAN: Keberadaan Tram Station te Probolinggo, yang dahulu diperkirakan ada di depan Pegadaian Kota Probolinggo saat ini.

SEJARAH perkeretaapian di Indonesia dimulai ketika pencangkulan pertama jalur kereta api Semarang-Vorstenlanden (Solo-Yogyakarta) di Kelurahan Kemijen, Kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang, Jawa Tengah, oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda Mr. L.A.J Baron Sloet van de Beele, pada 17 Juni 1864.

Pembangunan dilaksanakan oleh perusahaan swasta Nederlansch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) menggunakan lebar sepur 1.435 mm.

“Selain itu, pemerintah Hindia Belanda juga membangun jalur kereta api di Indonesia melalui perusahaan Staatssporwegen (SS).

Jalur pertama yang terbentuk adalah Surabaya-Pasuruan-Malang, pada 8 April 1875,” kata pemerhati sejarah dari Lembaga Masyarakat Warisan Pertahanan (Defense Heritage Society) Kota Probolinggo, Edi Martono.

Edi menjelaskan, keberhasilan NISM dan SS, mendorong investor swasta membangun jalur kereta api lainnya.

Seperti Semarang Joana Stoomtram Maatschappij (SJS), Semarang Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS), Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS), Oost Java Stoomtram Maatschappij (OJS), Pasoeroean Stoomtram Maatschappij (Ps.SM), Kediri Stoomtram

Baca Juga: Cerita Berubahnya Nama Heerenstraat Jadi Jalan Suroyo, Salah Satu Pusat Kota Probolinggo

Maatschappij (KSM), Probolinggo Stoomtram Maatschappij (PbSM), Modjokerto Stoomtram Maatschappij (MSM), Malang Stoomtram Maatschappij (MS), Madoera Stoomtram Maatschappij (Mad.SM), Deli Spoorweg Maatschappij (DSM).

Probolinggo dikenal mempunyai daerah hinterland yang subur, sebagai salah satu penghasil komoditi perkebunan yang cukup besar di Jawa.

Demi mempermudah pengangkutan hasil kebun, pemerintah kolonial menghadirkan transportasi trem uap yang dioperatori PbSM mulai tahun 1894.

Pembangunan tersebut, berdasarkan besluit tertanggal 15 Desember 1894, nomor 6 oleh Pemerintah Kolonial.

BERUBAH: Jalan Panglima Sudirman yang dulunya diperkirakan sempat terdapat jalur trem uap. 
BERUBAH: Jalan Panglima Sudirman yang dulunya diperkirakan sempat terdapat jalur trem uap. 

Jalur pertama yang dibuka PbSM, adalah jalur Jati-Gending, sepanjang 10 kilometer dan jalur Gending-Jabung sepanjang 19 kilometer, pada 21 April 1897.

Kemudian, jalur Probolinggo-Jati, sepanjang 1 kilometer, pada 22 Juni 1897.

Setahun kemudian, dibuat jalur Jabung-Paiton sepanjang 5 kilometer, tepatnya pada 22 Juni 1898.

Dan pada 22 September 1898, PbSM membangun jalur baru, yaitu Jati-Probolinggo Pelabuhan, sepanjang 3 kilometer.

“Terakhir PbSM, membangun jalur Kraksaan-Kalibuntu, sepanjang 2,8 kilometer pada Mei 1900. Bila dilihat dari peta 1914, tempat Tramstation berada di daerah sekitar Kantor Pegadaian, Jalan Panglima Sudirman saat ini,” jelas Edi.

Jalur kereta api Probolinggo–Paiton, mulanya dari Pelabuhan Tanjung Tembaga Probolinggo, lalu sejajar dengan jalur SS di petak Probolinggo–Jati.

Di sinilah, tempat lokomotif-lokomotif uap milik PbSM dirawat.

Karena diponya, memang terletak satu kompleks dengan Stasiun Jati.

Kraksaan–Kalibuntu, hanya dijadikan sebagai lintas cabang pendukung Pelabuhan Kalibuntu. Seluruh jalur tersebut, tampak pada Peta Probolinggo tahun 1914.

Pada masa jayanya, jalur tersebut, banyak mengangkut komoditas gula dari pabrik gula yang dilalui.

Antara lain, PG Bagu, PG Paiton, PG Kandangjati, PG Pedjarakan dan PG Sebaung.

Meski demikian, trem uap tersebut, tak hanya digunakan untuk angkutan barang.

Karena juga, untuk mengangkut penumpang. Hal itu bisa dilihat, dari foto-foto wagon penumpang trem.

Lokasi stasiun PbSM, juga berbeda dengan stasiun SS atau yang kini menjadi Stasiun Probolinggo.

Jalur trem uap tersebut, membentang dari Sumber Kareng hingga Paiton dengan panjang sekitar 40 kilometer.

“Armada lokomotif yang pernah dioperasikan oleh PbSM, antara lain ada seri B16 yang terdiri dari B1601, B1602, B1603, B1604, B1605, B1606, B1607, dan B1608. Serta, seri C25 yang terdiri dari C2501, C2502, C2503, C2504, dan C2505. Dulu, juga dibedakan antara trem untuk masyarakat pribumi dan kolonial. Ya, kalau sekarang, sama seperti ada kelas ekonomi dan eksekutif,” jelas Edi.

 

PETA: jalur trem uap yang ada di Probolinggo. 
PETA: jalur trem uap yang ada di Probolinggo. 

Banyak Rel Trem Uap Yang Terabaikan

Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, stasiun dan kantor pusat kereta api yang sebelumnya dikuasai Jepang, lantas diambil alih.

Puncaknya, adalah pengambilalihan Kantor Pusat Kereta Api Bandung, tanggal 28 September 1945.

Sehingga saat ini, pada tanggal tersebut, diperingati sebagai Hari Kereta Api Indonesia.

Hal ini sekaligus, menandai berdirinya Djawatan Kereta Api Indonesia Republik Indonesia (DKARI).

Ketika Belanda kembali ke Indonesia pada 1946, Belanda membentuk kembali perkeretaapian di Indonesia bernama Staatssporwegen atau Verenigde Spoorwegbedrif (SS/VS).

Yaitu gabungan SS dan seluruh perusahaan kereta api swasta (kecuali DSM).

Namun, pada Desember 1949, melalui perjanjian Konfrensi Meja Bundar (KMB), dilakukan pengambilalihan kembali aset-aset milik pemerintah Hindia Belanda.

Pengalihan ini dilakukan, dalam bentuk penggabungan antara DKARI dan SS/VS menjadi Djawatan Kereta Api (DKA) pada 1950.

Kemudian, pada 25 1963 Mei, DKA berganti menjadi Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA).

Pada tahun yang sama, juga mulai diperkenalkan lambang Wahana Daya Pertiwi yang mencerminkan transformasi Perkeretaapian Indonesia, sebagai sarana transportasi andalan, guna mewujudkan kesejahteraan bangsa tanah air.

Selanjutnya, pemerintah mengubah struktur PNKA menjadi Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA), pada 1971.

Dalam rangka meningkatkan pelayanan jasa angkutan, PJKA berubah bentuk menjadi Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka) pada 1991.

Perumka berubah lagi, menjadi Perseroan Terbatas, yaitu PT Kereta Api (Persero), pada 1998.

Kemudian, pada tahun 2011, nama perusahaan PT Kereta Api (Persero) berubah menjadi PT Kereta Api Indonesia (Persero).

“Sementara, paska kemerdekaan, jalur-jalur PbSM mulai mangkrak. Bahkan, sebagian di antaranya dicabut. Dulu ketika 1986, masih ada tampak beberapa rel sisa PbSM di daerah sekitar perempatan Randu Pangger. Tapi kini, banyak rel-rel yang sudah tertumpuk bangunan ataupun jalan,” kata Edi.

Beberapa aset peninggalan, kemudian dipelihara pemerintah dan PT Kereta Api Indonesia (PT KAI).

Contohnya, lokomotif trem uap dengan seri C2501.

Lokomotif buatan pabrik Hanomag, Hannover, Jerman tersebut, kini disimpan di Museum Transportasi Taman Mini Indonesia Indah (TMII) sejak 1987. (gus/one)

Editor : Abdul Wahid
#Trem Uap #sejarah #probolinggo