KEBERADAAN museum Probolinggo, memiliki sejarah yang panjang. Sebelum tampak seperti sekarang, dulunya gedung tersebut menjadi tempat bagi kalangan elit, priyai atau bangsawan untuk bersenang-senang.
Pada 1855, Probolinggo menjadi ibukota Karesidenan Probolinggo dan ibukota afdeling yang termasuk Karesidenan Pasuruan, karena letaknya yang strategis dan penting.
Setelah tahun 1855, Pasuruan, Probolinggo, Besuki, dan Banyuwangi dijadikan ibukota Karesidenan, dengan nama Karesidenannya mengikuti nama-nama ibukotanya.
Setelah adanya undang-undang desentralisasi tahun 1903 (Desentrasatie-wetgeving 1903), barulah Probolinggo berganti status menjadi gemeente yang pelaksanaannya dimulai tahun 1905.
Probolinggo lantas memiliki gemeente raad (Dewan Kotamadya) pada 1918 yang tercatat dalam Stbl 322-1918 tanggal 1 Juli 1918.
Probolinggo kemudian dipimpin oleh Asisten Residen bernama Ferdinand Edmond Meijer yang kemudian menjadi walikotanya pada 1928.
Pemerhati sejarah dari Lembaga Masyarakat Warisan Pertahanan (Defense Heritage Society) Kota Probolinggo, Edi Martono mengatakan, pemerintah Hindia Belanda kala itu menetapkan Undang-Undang Wijkenstelsel.
Peraturan tersebut mengharuskan tiap etnis mendiami daerahnya secara terpisah.
Sehingga membentuk tata kota dengan pola grid yang simetris dengan sumbu kota di Heerenstraat di Kota Probolinggo.
“Heerenstraat merupakan sumbu utama sekaligus pusat kota. Dahulu, di sini didominasi permukiman orang Belanda dan Eropa. Makanya disebut Heerenstraat atau jalan tuan-tuan. Sebab banyak menir-menir yang tinggal di wilayah tersebut. Kemudian dibangun juga sebuah kelab atau tempat pesta di jalan tersebut,” kata Edi.
Gedung untuk kelab tersebut berdiri sejak tahun 1814 di Heerenstraat.
Tepat setelah Kota Probolinggo kembali menjadi daerah kekuasaan Pemerintah Kolonial Belanda usai menjadi tanah partikelir yang dikuasai oleh seorang Mayor China, Han Kik Ko, yang juga menjabat sebagai Bupati Probolinggo pada 1766 hingga 1813.
“Dahulu gedung tersebut sempat menjadi rumah dinas Bupati Han Kik Ko,” terang Edi.
Bahkan berdasarkan peta tahun 1914, gedung ini dijelaskan dengan nama Societeit de Harmonie atau Societeitsgebouw.
Gedung ini terletak di Jalan Suroyo nomor 17 Kota Probolinggo.
Dahulu gedung ini sempat dijuluki “Rumah Bola” oleh penduduk pribumi sebab bentuknya memang menyerupai ballroom di masa sekarang.
Societeit de Harmonie memiliki fungsi sebagai tempat pertemuan, main bilyar ataupun kartu, pergelaran seni kebudayaan, pesta bagi orang-orang Belanda dan Eropa lainnya.
Banyak acara yang digelar di Societeit Harmonie, seperti pertunjukkan musik, opera, dansa, main bilyar hingga makan malam. Dalam acara makan malam, menu yang biasanya tersaji di atas meja makan besar adalah menu makanan Barat yang didominasi oleh daging, roti, dan lainnya.
“Tidak ketinggalan pula tersaji berbagai macam minuman keras atau minuman beralkohol yang sudah menjadi sebuah tradisi atau budaya masyarakat Eropa,” ulasnya.
Sehingga, tidak sembarang orang dapat masuk ke dalam gedung tersebut.
Hanya orang-orang Belanda dan Eropa dari kelas atas, pejabat, pengusaha dan priyai yang boleh menjadi anggota perkumpulan eksekutif ini. Diketahui asosiasi “Societeit Harmonie” ini dibentuk tanggal 20 Juni 1857.
Kemudian, pada peta tahun 1946 Societeit de Harmonie masih dinamai sebagai club.
Baru setelah masa pemerintahan kolonial, bangunan ini berubah nama menjadi Panti Budaya.
Lalu pada 1 Maret 1989 berubah lagi menjadi Graha Bina Harja.
“Setelah merdeka, gedung ini dimanfaatakan masyarakat maupun instansi untuk berbagai kegiatan termasuk menggelar event,” imbuh Edi.
Berubah Menjadi Museum
Kawasan Graha Bina Harja merupakan tanah eigendom yang terdiri atas tiga bidang, yaitu tanah eigendom nomor 447 dengan luas 7.193 m², tanah eigendom nomor 49 luasnya 4.95 m², dan tanah eigendom nomor 721 yang luasnya 1.300 m².
Akhir tahun 2008, terdapat gagasan pendirian museum dimana Gedung Graha Bina Harja dinilai paling cocok untuk ditempati sebagai museum tersebut.
Ide ini berasal dari Dinas Pemuda Olahraga Budaya dan Pariwisata, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, BiasArts (British Indonesia Artists Society) dari Brighton Inggris, serta beberapa pihak lain.
Kemudian pada 2009, mulai diterbitkan beberapa surat keputusan Walikota terkait upaya pembangunan Museum Probolinggo. Bahkan sejak 26 Agustus 2009 museum ini sebenarnya telah dibuka untuk umum.
Namun, baru pada 15 Mei 2011, Wali Kota Probolinggo saat itu, H.M. Buchori meresmikan Gedung Graha Bina Harja yang kemudian dijuluki Museum Probolinggo tersebut.
Pergantian nama Gedung Graha Bina Harja menjadi Museum Probolinggo sendiri berlangsung cukup lama yaitu sejak tahun 2008.
Museum ini diharapkan dapat menjadi jendela sejarah serta pusat pengembangan seni budaya, pendidikan, dan pariwisata.
“Museum digunakan sebagai tempat penyimpanan benda-benda bersejarah yang ada di dalam negeri ataupun luar negeri yang baru ditemukan dan berkaitan dengan sejarah Kota Probolinggo,” jelas Edi.
Untuk pembangunan museum, Pemkot Probolinggo mengerahkan segala ikhtiar.
Salah satunya menelusuri jejak peninggalan sejarah hingga ke Belanda.
Selain itu, pemkot juga bekerja sama dengan Museum Empu Tantular Surabaya dan Mojokerto.
Ada 8 ruang untuk memajang koleksi yang dimiliki oleh Museum Probolinggo yang telah diatur sesuai urutannya.
Memutar dari pintu sebelah kanan dan berakhir di pintu utama dari gedung ini, yang berada disebelah selatan, jika pengunjung hendak memasukinya.
Tercatat, ada sekitar 550 koleksi yang dipajang di museum ini.
Benda-benda bersejarah di dalamnya berasal dari 41 situs.
Meliputi alat-alat transportasi tempo seperti cikar, dokar dengan replika kuda dari patung, becak, dan sepeda pancal. Ada pula sepeda motor vespa, lokomotif tenaga uap, dan kapal terbang pemberian TNI AL yang juga turut dipajang.
Ada pula keris, guci, replika patung manusia yang sedang membatik menunjukkan bahwa ada jejak kerajinan batik di Kota Probolinggo.
Kemudian terdapat alat-alat pertanian, seperti bajak tradisional, penumbuk padi (lesung), dan perlengkapannya.
Foto-foto gedung-gedung Kota Probolinggo ketika zaman Belanda dulu, lengkap dengan foto walikota Probolinggo pertama hingga H.M. Buchori.
Sempat Menjadi Museum Rasulullah
Pada 22 Oktober 2020, nama bangunan cagar budaya itu diubah lagi menjadi Museum Rasulullah.
Ini karena sebelumnya, pernah dijadikan sebagai tempat penyimpanan sementara benda-benda peninggalan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya.
Museum sejarah peninggalan Rasulullah SAW, diresmikan oleh Walikota Probolinggo, Habib Hadi Zainal Abidin bertepatan dengan Hari Santri Nasional.
Peresmian museum Rasulullah SAW dilaksanakan tepat pada Hari Santri Nasional (HSN) VI dan menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW.
Beberapa benda peninggalan yang dapat dilihat di dalam museum tersebut, antara lain sorban, rambut, darah bekam, kiswah, batu sijjil, alas kaki, baju perang, pedang Sayidina Khalid bin Walid, serta barang bersejarah Islam lainnya.
Namun, pada 4 September 2022, Museum Rasulullah Probolinggo ditutup.
Museum di Jalan Suroyo Kota Probolinggo dipastikan tidak lagi dimanfaatkan sebagai Museum Rasulullah.
Wali Kota Probolinggo Hadi Zainal Abidin bahkan memastikan, tidak ada lagi barang atau artefak Rasulullah di dalam museum itu.
Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Bromo, artefak Rasulullah di dalam museum telah dikeluarkan semuanya oleh pihak ketiga.
Sebab, semua artefak itu harus dibawa kembali ke kantor Bea Cukai Jakarta untuk pengurusan perpanjangan izin impor sementara.
Lantaran izin impor sementara artefak itu hampir habis.
Di sisi lain, artefak Rasulullah itu rencananya akan dipamerkan ke daerah-daerah lain.
Ditambah, perjanjian kerja sama pameran dengan Pemkot Probolinggo juga sudah berakhir. Sejumlah koleksi Museum Rasulullah dipindah ke Jakarta.
Berikutnya, akan diserahkan kepada pemiliknya asal Malaysia, Profesor Abdul Manan Embong, dari GW MAR (Galeri Warisan Museum Artefak Rasulullah).
Setelah kegiatan Museum Rasulullah resmi ditutup, gedung difungsikan sepenuhnya untuk Museum Probolinggo. (gus/one)
Editor : Jawanto Arifin