Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Cerita Berubahnya Nama Heerenstraat Jadi Jalan Suroyo, Salah Satu Pusat Kota Probolinggo

Inneke Agustin • Senin, 22 Januari 2024 | 01:55 WIB
PUSAT KOTA: Jalan Heerenstraat dipotret tahun 1875 silam. Gedung-gedung bersejarah di sepanjang Jalan Suroyo, di antaranya Museum Kota Probolinggo, Gereja Katolik Maria Bunda Karmel, dan Kantor PM.
PUSAT KOTA: Jalan Heerenstraat dipotret tahun 1875 silam. Gedung-gedung bersejarah di sepanjang Jalan Suroyo, di antaranya Museum Kota Probolinggo, Gereja Katolik Maria Bunda Karmel, dan Kantor PM.

JALAN Suroyo jadi salah satu pusat Kota Probolinggo. Kondisi itu berlangsung sejak zaman kolonial. Saat ruas jalan setempat masih bernama Heerenstraat.

Lalu, kapan nama Heerenstraat mulai berubah jadi jalan Suroyo? Alasan apa yang mendasari perubahan nama itu?

Penamaan Jalan Suroyo di jalan yang dulunya bernama Heerenstraat, berasal dari salah satu pahlawan yang gugur di Probolinggo.

Kisah dimulai saat agresi militer Belanda I pada 1947. Saat itu, aktivitas Belanda semakin meningkat.

Rakyat yang melintas di Jalan Raya Pos atau Grotepostweg (sekarang Panglima Sudirman), menjadi sasaran berondongan peluru penjajah.

Tentara Indonesia mencoba melawan meski kalah persenjataan. Salah satunya, yaitu Serma Suroyo yang gugur pada Juli 1947 silam. Ia berusaha mempertahankan markasnya.

Saat itu, ia bersama kedua rekan prajurit, tengah piket mingguan di dalam markas.

Meski ia telah diminta mundur oleh pimpinannya, namun Serma Suroyo tak ingin Belanda berhasil menguasai Probolinggo.

Sehingga ketika Belanda menyerang markas, mereka bertekad untuk melawan hingga titik darah penghabisan.

“Akhirnya, ketiganya tewas setelah Belanda berhasil memberondong markas dengan peluru,” kisah Pemerhati sejarah dari Lembaga Masyarakat Warisan Pertahanan (Defense Heritage Society) Kota Probolinggo, Edi Martono.

“Serma Suroyo tewas di markasnya, yang sekarang merupakan Sub Detasemen Polisi Militer V/3-1, di Jalan Suroyo, Kota Probolinggo,” imbuh Edi.

Serma Suroyo lantas dimakamkan di halaman gedung Panti Budaya Probolinggo.

Namun, pada 10 November 1960, makamnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Kota Probolinggo, Jalan Soekarno Hatta, Kelurahan Tisnonegaran, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo.

“Untuk mengenang jasa pahlawan Serma Suroyo, maka namanya diabadikan menjadi nama jalan di Kota Probolinggo. Menggantikan nama Heerenstraat tadi,” tukas Edi.

 

Bangunan Kuno Tergerus Modernisasi

Setelah kemerdekaan dan zaman orde baru, peran sumbu utama sebagai simbol kekuasaan kolonial menjadi hilang.

Bangunan-bangunan Belanda yang mayoritas satu lantai dan luas, kini berubah menjadi kapling-kapling yang lebih sempit.

Bentuk gedung-gedungnya pun, kini berubah menjadi bertingkat. Seperti gedung bank BCA, BRI, hingga BNI.

Pohon asam yang dulunya rindang, sudah tidak mendominir pemandangan. Berganti bangunan, yang tampilannya kini lebih mencolok.

Tak hanya bentuknya, sejumlah gedung beralih fungsi. Seperti kantor Asisten Residen.

Berakhirnya pemerintahan Belanda yaitu masa pemerintahan Jepang, bangunan ini mulai beralih fungsi sebagai pangkalan militer.

Setelah masa pemerintahan Jepang tahun 1953, bangunan menjadi Markas Kodim 0820.

Kemudian, Societeit de Harmonie. Setelah masa pemerintahan kolonial, bangunan ini berubah nama menjadi Panti Budaya.

Pada 1 Maret 1989, berubah lagi menjadi Graha Bina Harja. Lalu secara resmi, beralih fungsi lagi, menjadi Museum Probolinggo pada 15 Mei 2011.

“Di peta 1914, namanya memang masih Societeit. Bahkan di peta 1946, nama Museum Probolinggo masih disebut sebagai Club,” kisah Pemerhati sejarah dari Lembaga Masyarakat Warisan Pertahanan (Defense Heritage Society) Kota Probolinggo, Edi Martono.

“Sebab, memang di sana, dulunya menjadi pusat hiburan bagi para menir Belanda,” imbuhnya.

Tak hanya itu, Gereja Protestan Imanuel yang terletak di sebalah utara KFC Kota Probolinggo, pada masa pemerintahan Jepang sempat dijadikan sebagai gudang amunisi.

Namun setelah berakhirnya pemerintahan Jepang, bangunan ini kembali difungsikan sebagai tempat ibadah hingga saat ini. (gus/one)

Editor : Jawanto Arifin
#pusat kota probolinggo #heerenstraat #Kota Probolinggo #jalan suroyo