Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Sejarah Panjang RSUD dr Moh Saleh Probolinggo: Berdiri 1914, Lokasi Awal Kini Jadi Gudang Dinkes

Inneke Agustin • Minggu, 7 Januari 2024 | 19:09 WIB
CIKAL BAKAL: Peta lokasi cikal bakal RSUD dr Mohamad Saleh di Jalan Suroyo.
CIKAL BAKAL: Peta lokasi cikal bakal RSUD dr Mohamad Saleh di Jalan Suroyo.

RSUD dr Mohamad Saleh Kota Probolinggo yang saat ini berdiri di Jalan Panjaitan memiliki sejarah panjang. Cikal bakalnya dimulai pada 1914, pada masa penjajahan Belanda.

Mungkin tak banyak yang tahu bahwa gudang Dinas Kesehatan Kota Probolinggo, dulunya ternyata sebuah rumah sakit. Hal itu diketahui dari peta Java, Res. Pasoeroean (oude Res. Probolinggo) tahun 1914.

Dalam peta tersebut, terdapat satu titik yang disebut Hospitaal atau rumah sakit. Titik tersebut berada tepat di depan Alun-alun Kota Probolinggo, sisi pojok barat.

Sehingga, bila diproyeksikan pada masa sekarang, lokasi tersebut bertransformasi menjadi kantor Dinas Kesehatan Kota Probolinggo yang ada di Jalan Suroyo.

Namun dahulu, Jalan Suroyo ini bernama jalan Heren Straat atau Jalan Tuan-Tuan. Sebab, pada masa itu di jalan tersebut banyak berdiri tempat tinggal meneer-meneer atau tuan-tuan Belanda.

KHAS BELANDA: Plafon khas bangunan Belanda di ruang bersalin RSUD dr Mohamad Saleh pada tahun 2023.
KHAS BELANDA: Plafon khas bangunan Belanda di ruang bersalin RSUD dr Mohamad Saleh pada tahun 2023.
KHAS BELANDA: Kondisi lorong menuju ruang bersalin di RSUD dr Mohamad Saleh pada tahun 2023. Tampak kuda-kuda khas bangunan Belanda.
KHAS BELANDA: Kondisi lorong menuju ruang bersalin di RSUD dr Mohamad Saleh pada tahun 2023. Tampak kuda-kuda khas bangunan Belanda.

Saat ini, jalan ini dikenal sebagai Jalan Suroyo. Banyak berdiri gedung-gedung pemerintahan dan perbankan.

Pemerhati sejarah dari Lembaga Masyarakat Warisan Pertahanan (Defense Heritage Society) Kota Probolinggo, Edi Martono mengatakan, rumah sakit yang awalnya terletak di Jalan Suroyo tersebut, kini pindah ke Jalan Panjaitan.

Pemindahan itu berlangsung sekitar tahun 1931. Hal itu diketahui dari isi berita berbahasa Belanda yang ditulis pada Jumat, 19 Juni 1931.

Dalam berita tersebut dijelaskan bahwa pada Senin, 15 Juni 1931, dilakukan upacara peletakan batu pertama rumah sakit Kota Probolinggo.

Peletakan batu pertama dilakukan oleh Wali Kota Probolinggo pertama, yaitu Ferdinand Edmond Meijer (F.E. Meyer). “Rumah sakit tersebut pindah pada tahun 1931. Pindah karena sudah overload. Setelah pindah, bangunan lama beralih fungsi menjadi gudang alat medis Dinas Kesehatan,” jelasnya.

Menurut Edi, dulunya Jalan Panjaitan masih bernama Bromo Straat atau Jalan Bromo. Ini karena jalan tersebut merupakan akses satu-satunya menuju Gunung Bromo dari Kota Probolinggo. Jauh sebelum ada Jalan Raya Bromo seperti saat ini.

“Setelah Bromo Straat, berubah menjadi Jalan Olah Raga. Barulah menjadi Jalan Panjaitan seperti sekarang,” imbuh dia.

Pembangunan rumah sakit baru itu, disokong oleh dana pinjaman sebesar 36.000 gulden Belanda. Serta atas bantuan keuangan dari sejumlah pabrik.

Seperti Pabrik Gula (PG) Maron, PG Wonolangan, PG Oemboel, PG Soemberkareng, PG Gending, dan ANIEM (Algemeen Nederlands Indische Electriciteit Maatschappij), sebuah perusahaan listrik swasta Belanda.

Setelah enam bulan, pembangunan rumah sakit akhirnya dirampungkan. Berdasarkan berita pada koran Belanda, Senin 14 Desember 1931, bahwa pada Rabu 9 Desember 1931 digelarlah upacara peresmian rumah sakit di kantor Wali Kota.

KHAS BELANDA: Kondisi lorong menuju ruang operasi RSUD dr Mohamad Saleh pada tahun 2023. Di sini, juga ada kuda-kuda khas bangunan Belanda.
KHAS BELANDA: Kondisi lorong menuju ruang operasi RSUD dr Mohamad Saleh pada tahun 2023. Di sini, juga ada kuda-kuda khas bangunan Belanda.
MASIH BANJIR: Kondisi salah satu ruangan di RSUD dr Mohamad Saleh pada tahun 2013 yang saat itu langganan banjir.
MASIH BANJIR: Kondisi salah satu ruangan di RSUD dr Mohamad Saleh pada tahun 2013 yang saat itu langganan banjir.

Upacara ini dihadiri oleh anggota dewan kabupaten, komite rumah sakit, dokter-dokter setempat, serta kepala-kepala pabrik ataupun perusahaan pendukung.

Dalam sambutannya, F.E. Meyer secara khusus berterima kasih kepada dewan Kabupaten Probolinggo yang telah memberikan subsidi tahunan.

Pujian khusus juga diberikan kepada Direktur Pekerjaan Umum Kota Probolinggo, Bapak Liems. Ia berharap bahwa rumah sakit tersebut dapat menjadi berkat bagi umat manusia. Bukan hanya di Probolinggo, tapi juga di seluruh Jawa Timur.

Setelah itu, semua undangan diajak untuk berkeliling ke bangunan utama rumah sakit. Meski, saat itu rumah sakit ini masih beroperasi tanpa nama.

Namun, para tamu undangan saat acara peresmian dibuat terkesan. Hingga memberikan pujian atas penataan rumah sakit yang dinilai rapi.

“Waktu itu, tarif dipatok sebesar 9 gulden Belanda untuk pasien kelas 1, kelas 2 sebesar 6 gulden Belanda, dan kelas 3 sebesar 3 gulden Belanda per harinya,” imbuhnya.

Seiring perkembangan zaman, rumah sakit tersebut terus berkembang. Sekitar tahun 1960-an, rumah sakit tersebut diberi nama Rumah Sakit Kotja Probolinggo.

Hingga tahun 1985, berubah lagi menjadi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Mohamad Saleh Kotamadya Probolinggo.

Penamaan dr. Mohamad Saleh, tak lepas dari salah satu tokoh terkenal dari Kota Probolinggo, yaitu dr. Mohamad Saleh.

Dia banyak berjasa di bidang kesehatan saat masa peperangan. Ia juga pernah menjabat kepala di rumah sakit setempat.

Rumah Sakit tersebut, dulunya masih berstatus kelas C yang menempati lahan seluas 9.982 meter persegi.

Pada saat perubahan peraturan tentang pembagian daerah administrasi, maka namanya kembali berubah menjadi RSUD dr. Mohamad Saleh Kota Probolinggo.

KINI: RSUD dr Mohamad Saleh di Jalan Panjaitan Kota Probolinggo.
KINI: RSUD dr Mohamad Saleh di Jalan Panjaitan Kota Probolinggo.

Wakil Direktur Umum dan Keuangan RSUD dr. Mohamad Saleh, Retno Feby Hariyati mengatakan, ada beberapa ruangan yang masih terbilang kuno. Antara lain adalah ruang operasi (OK), ruang Melati, ruang Radiologi, dan ruang Bougenville.

“Dari plafonnya masih nampak seperti zaman Belanda. Lalu ada lorong bernuansa Belanda menuju OK. Dindingnya juga lebih tebal, khas bangunan Belanda. Tapi sekarang sudah kami lapisi dengan keramik. Dulu tegelnya juga masih gelap. Tapi untuk tegel telah kami ganti dengan keramik,” kata Retno.

Seiring dengan perkembangan fasilitas pelayanan, tahun 2009 RSUD dr. Mohamad Saleh Kota Probolinggo ditetapkan sebagai Rumah Sakit kelas B nonpendidikan.

Ini berdasar surat Keputusan dari Menteri Kesehatan RI nomor 001/Menkes/SK/I/2009 tanggal 6 Januari 2009. Tak hanya itu, ia juga berkembang menjadi seluas 11.752.142 meter persegi. “Kemudian tahun 2018 terakreditasi B pendidikan,” bebernya.

Wakil Direktur Pelayanan Kesehatan RSUD, dr. Mohammad Ali Yusni menambahkan, sejumlah ruangan telah mengalami perubahan. Baik dalam bentuk fisik, maupun perubahan fungsi dari tahun ke tahun.

“Yang terbaru ada di daerah kamar jenazah. Sebab baru terbangun pada masa Covid-19. Saat ini menjadi ruang isolasi khusus (RIK) teratai, laboratorium patologi, dan IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah, red),” ulasnya.

Dokter Yusni -sapaannya- juga menjelaskan, saat ini ada sejumlah ruangan di RSUD. Total kapasitasnya 213 tempat tidur. Mulai dari ruang Melati Ibu, Melati Bayi, Ruang Flamboyan dan sederet ruangan lainnya. (mg/one)

 

Cikal Bakal RSUD dr Mohamad Saleh

Editor : Jawanto Arifin