BERDIRI di tengah-tengah kota dan punya wilayah yang luas, pabrik karton Pasuruan ini memiliki sejarah panjang. Dibangun jauh sebelum Indonesia merdeka, berganti-ganti kepemilikan hingga kini tertutup untuk umum.
Bangunan itu cukup ikonik. Khas arsitektur Belanda. Berada di sisi barat Jalan Wahidin, Kelurahan Pekuncen, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan.
Bangunan itu dikenal oleh masyarakat sebagai pabrik karton. Pabrik ini pernah berjaya dan memiliki sejarah panjang.
Pemerhati sejarah Pasuruan, Budiman Sujatmiko mengungkapkan, sebelum menjadi Pabrik Karton, bangunan ini berulang kali digunakan untuk sejumlah bisnis.
Bangunan itu disebut-sebut berdiri pada 1886. Awalnya digunakan sebagai pabrik pengeringan dan pemrosesan kopi.
Pemiliknya adalah seorang pengusaha yang bergerak di sejumlah bisnis, Mr D. Mounier.
Ia juga seorang pengacara di Surabaya. Dan memiliki usaha kopi Gondanglegi, Malang; kopi dan coklat di Banyuwangi hingga Kina di wilayah Tengger.
“Mr D. Mounier ini pengusaha sukses. Saat itu dia juga sebagai mantan pemilik Pabrik Gula Djenggolo I di Sidoarjo,” tutur Budiman.
Berada tepat di pinggir timur sungai Gembong, untuk pengiriman hasil produksi menggunakan perahu sebagai transportasi utama. Sebelum ada pendangkalan sungai seperti sekarang.
Tahun 1897 tercatat, bangunan ini menjadi gudang untuk semen dan kapur merek “Gembong” yang diproduksi oleh pabrik di Surabaya. Pabrik semen ini memasok untuk pemerintah di wilayah timur Indonesia.
Namun, tahun 1911 pabrik tercatat berganti pemilik. Dibeli oleh A.J. Over De Linden yang bergerak di bidang penggilingan kopi, padi, air dan listrik.
Namun, pada 1913 kembali berganti pemilik. Seorang pengusaha Tiongkok bernama Tan Bian Thiang membelinya. Pada peta tahun 1923 dan 1944, tertulis sebagai pabrik pengolahan padi.
Setelah kemerdekaan, barulah bangunan ini digunakan untuk pabrik pengolahan padi dan pabrik karton. “Aktivitas pabrik ini berhenti di awal tahun 1990 an. Sebelum sempat berganti-ganti kepemilikan dan penggunaan,” tutur Budiman.
Saksi Kegemilangan SSB Pasuruan
Pabrik Karton menjadi saksi kegemilangan sekolah sepak bola (SSB) bagi anak-anak yang diberi nama rukun agawe santosa (rusa).
Pada medio 1970 an hingga 1980-an, SSB ini sering meraih prestasi saat mengikuti kejuaraan hingga luar kota.
Tokoh masyarakat kelurahan Pekuncen, Kecamatan Panggungrejo, Sujito menyebut SSB ini selalu berlatih di lapangan yang berada di sisi utara pabrik Karton. SSB Rusa ini sering mengharumkan nama Pasuruan di turnamen antar kota.
Namun, SSB ini berhenti beraktivitas hampir bersamaan dengan tutupnya Pabrik Karton. Usai ada insiden anak yang terjatuh di cekungan tanah yang berada di dekat bibir sungai Gembong.
Karena ada cekungan, tanah ini diuruk menggunakan limbah batu bara. Namun rupanya, limbah ini masih terasa panas. Sehingga, menyebabkan kulit kaki anak yang terjatuh itu melepuh. Lapangan ini pun ditutup untuk aktivitas apapun.
“SSB Rusa ini berjaya bersamaan dengan pabrik karton pada 1970-an dan 1980-an. SSB tutup awal 2000 an usai lapangan ditutup,” tuturnya.
Eks ketua RT 2 RW 1 ini menyebut, dulunya pabrik ini merupakan pabrik besar. Dengan membuat kertas karton dari bahan ampas tebu sisa pengolahan gula dari pusat penelitian perkebunan gula Indonesia (P3GI) Pasuruan.
Waktu itu, untuk menjemur produksi kertas karton di lapangan, pabrik menggunakan cikar yang ditarik oleh dua ekor sapi. Pengirimannya sampai ke luar kota Pasuruan. Baik Malang maupun Surabaya.
“Kalau saat ini, jadi gudang serbuk tembakau yang tidak terpakai untuk dijual. Serbuk ini bisa digunakan pupuk organik. Pemiliknya PT Sampoerna,” tutur Sujito.
Sejarah Panjang Pabrik Karton Pasuruan
-1886
Tahun didirikan bangunan. Awalnya dimiliki Mr D. Mounier untuk pemrosesan kopi
-1897
Jadi gudang semen dan kapur merek Gembong yang diproduksi pabrik di Surabaya
-1911
Pabrik dibeli A.J. Over De Linden yang bergerak di bidang penggilingan kopi, padi, air dan listrik.
-1913
Pengusaha asal Tiongkok bernama Tan Bian Thiang membelinya.
-1923-1944
Pada peta tertulis, pabrik jadi tempat pengolahan padi
Pabrik sempat hancur saat peperangan melawan Belanda
-18 april 1949
Pabrik rampung direnovasi
Setelah era kemerdekaan, jadi pabrik karton dan sempat berjaya
Sempat Hancur saat Perang, Kini Tertutup
Bekas bangunan yang dulunya megah ini pernah digunakan untuk berbagai kegiatan. Mulai hiburan rakyat hingga lokasi syuting film.
Namun sayang, kini bangunan ini tidak terawat dan tertutup untuk umum. Pabrik ini memiliki halaman yang luas. Dulunya sering dimanfaatkan sebagai taman hiburan rakyat.
Mulai pasar malam, hingga pentas lumba lumba dan sirkus pernah diadakan di sini. Sekolah sepak bola juga rutin berlatih di tempat ini.
“Sayang, kini kondisinya tidak terawat dan juga tertutup. Namun, masih dimanfaatkan untuk gudang tembakau,” jelas Budiman, pemerhati sejarah asal Pasuruan.
Didirikan pada masa kolonialisme Hindia-Belanda, pabrik ini sempat hancur dan porak-poranda waktu perang kemerdekaan. Sebelum direnovasi, pabrik dibuka dan diresmikan pada 18 april 1949.
Surat kabar lama terbitan Belanda pernah menyebutkan, pabrik ini sengaja didirikan di Pasuruan. Alasannya, karena upah tenaga kerjanya saat itu lebih murah daripada di Surabaya maupun Probolinggo.
“Bahan baku murah dan tenaga kerja murah disebut menjadi faktor utama pendirian pabrik di Pasuruan. Ini disebutkan dalam koran tahun 19 April 1949,” terang Budiman. (riz/mie)
Editor : Jawanto Arifin