Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Hotel Centraal, Hotel Mewah di Pusat Kota Probolinggo yang Dulu Kerap jadi Pilihan Utama Tamu Eropa

Fahrizal Firmani • Minggu, 26 November 2023 | 18:40 WIB

 

SEBELUM INDONESIA MERDEKA: Hotel Centraal yang dahulu letaknya berhadapan dengan residen yang sekarang diberi nama Jalan Suroyo.
SEBELUM INDONESIA MERDEKA: Hotel Centraal yang dahulu letaknya berhadapan dengan residen yang sekarang diberi nama Jalan Suroyo.

SEBELUM berdiri banyak hotel seperti saat ini, Kota Probolinggo pernah memiliki hotel mewah kelas dunia. Pekerjanya dari Belanda dan tamu tamunya dari Eropa. Hotel ini diberi nama Hotel Centraal.

Hotel Centraal ini terletak di persimpangan jalan utama Kota Probolinggo yang kini dikenal dengan Jalan Suroyo. Hotel ini berdiri tahun 1930. Pemiliknya adalah orang Tiongkok.

Uniknya, mayoritas pekerjanya dari Belanda. Meski begitu, ada pula karyawannya yang berasal dari Indonesia.

Namun, mereka diperkejakan sebagai tenaga kasar, seperti tukang bersih bersih dan tukang angkut barang milik tamu hotel.

BERGANTI BISNIS: Restoran waralaba cepat saji yang kini menempati bangunan di eks lahan Hotel Centraal.
BERGANTI BISNIS: Restoran waralaba cepat saji yang kini menempati bangunan di eks lahan Hotel Centraal.

Hotel ini menjadi pilihan utama tempat menginap tamu dari Eropa. Selain karena lokasinya strategis, hotel ini berada di seberang kantor residen Belanda (kini jadi markas Kodim 0820 Probolinggo).

“Banyak tamu yang tujuannya ingin bertemu dengan residen. Mereka menginap di hotel ini. Lokasinya strategis dan mewah,” kata budayawan dan pemerhati sejarah Kota Probolinggo, Edi Martono.

Dari catatan surat kabar milik Belanda, pada 1935, Hotel Centraal pernah mengalami penurunan tamu. Banyak tamu dari Eropa yang menyebut tarif sewanya terlalu mahal. Untuk satu malam, sekitar 150 gulden.

Karena pelayanannya baik dan fasilitasnya lengkap, hotel ini tetap ramai. Tidak hanya dijadikan tempat menginap. Banyak tamu asing yang mengadakan pertemuan di hotel ini.

Dari segi bangunan, hotel ini memiliki ruang aula yang luas. “Ada dua lantai. Lantai pertama memiliki fasilitas ruang aula. Banyak tamu yang sering mengadakan pertemuan di tempat ini. Sehingga hotel Centraal tetap bertahan, walau mahal,” jelasnya.

Pada awal masa kemerdekaan, hotel ini berubah nama menjadi hotel Victory. Pemiliknya tetap warga keturunan Tionghoa.

Namun pekerja dan tamunya berganti. Tidak ada lagi karyawan Belanda atau tamu Eropa.

“Pekerjanya sepenuhnya dari Indonesia. Dan tamu tamunya juga dari Indonesia. Sebab Belanda sudah tidak lagi ada di Indonesia,” tutur Edi.

 

Bangkrut setelah Berganti Nama

Setelah berganti nama menjadi Hotel Victory, hotel ini tetap menjadi jujukan warga luar kota Probolinggo yang ingin menginap. Kebetulan, pada masa awal kemerdekaan, ini pernah jadi satu-satunya hotel yang ada di Probolinggo.

Edi menyebut, usai berubah nama menjadi Hotel Victory, hotel ini tetap ramai pengunjung. Banyak kapal yang bongkar muatan di Pelabuhan Probolinggo. Para kapten biasanya memilih beristirahat di hotel ini.

Karena ramainya tamu yang menginap, manajemen hotel melakukan renovasi pada bangunannya. Hotel yang sebelumnya hanya satu lantai meningkat menjadi dua lantai. Ruang aula di lantai pertama diperluas.

Sementara untuk lahan parkirnya menggunakan lokasi di sisi selatan dan sisi utara hotel. Setiap harinya, lahan parkir ini selalu ramai oleh kendaraan dari para tamu. Saat akhir pekan, kamar hotel selalu penuh.

Namun hotel ini sempat menjadi sengketa oleh pemiliknya dengan pihak yang mengklaim sebagai ahli waris. Sengketa ini sampai menggandeng pengacara dari ibu kota. Oleh pemenangnya, hotel ini berganti nama menjadi New Victory.

“Usai berganti nama, hotel mengalami pasang surut. Akhirnya tutup pada medio 1990-an usai banyak kapten kapal yang memilih membeli rumah di wilayah Probolinggo,” tutur Edi.

 

Sekarang Menjadi Restoran Waralaba

Selama hotel berganti nama menjadi New Victory, Edi Martono mengaku, dirinya pernah menginap di hotel ini beberapa kali pada awal 1990-an. Bahkan saat dirinya belum menjadi warga Probolinggo.

Saat itu, harga semalamnya sekitar 45 ribu. Namun dengan fasilitas yang ada, harga ini sebanding.

Usai tutup, hotel ini dijual oleh pemiliknya. Lokasi hotel ini dibeli oleh salah satu pemilik hotel di Probolinggo. Bangunan hotel lama dirobohkan dan dibangun kembali.

Kini bekas hotel Centraal itu disewa oleh salah satu waralaba asal amerika serikat.

“Ada informasi hotel ini tutup karena banyaknya operasi yang dilakukan oleh pihak berwajib. Sehingga, tamu hotel tidak bisa membawa teman wanita mereka menginap di hotel itu,” tutur Edi.

Isnaini Ramdhoni, warga Kota Probolinggo menyebut jika hotel New Victory sempat cukup ramai. Namun saat ia duduk di bangku SMP, hotel itu tutup. Ia tidak tahu apa penyebabnya.

“Beroperasinya saat saya masih kecil. Waktu saya SMP tahun 1997 sudah ada papan bertuliskan dijual,” tutur Doni-sapaan akrabnya. (riz/fun)

Editor : Jawanto Arifin
#bangunan kuno #hotel di probolinggo