KELURAHAN Sukabumi memiliki sejarah panjang. Sebelum disebut Sukabumi, daerah di Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo ini juga pernah dikenal dengan nama Baremi hingga Pekalongan.
Pada awal kemerdekaan Indonesia, peta Kota Probolinggo masih belum memuat wilayah Sukabumi.
Yang ada, kawasan yang kini bernama seperti nama kota di Jawa Barat itu, masih bernama Pekalongan.
Jauh sebelum itu, kawasan setempat disebut-sebut bernama Baremi.
Pemerhati sejarah Edi Martono mengungkapkan, dalam pupuh 34 bait ke empat, kitab Negarakertagama disebutkan daerah bernama Baremi.
Penyebutan ini mengacu pada cerita Raja Majapahit. Prabu Hayam Wuruk pernah berkunjung ke lokasi itu pada 1359.
Kemungkinan karena masyarakat terbiasa mencari kemudahan dalam pelafalan, kalimat Baremi disebut menjadi Bremi.
Sebagian masyarakat meyakini asal usul nama ini dari kata Sumbering Bumi.
“Baremi atau Bremi ini kemungkinan merupakan sebuah desa yang sudah memiliki pemerintahan walau sebatas tokoh masyarakat,” ujar pria yang juga warga Cempaka, Sukabumi, Mayangan itu.
“Mengingat ada beberapa makam yang disebut Makam Buyut atau Makam Punden,” imbuhnya.
Lalu, dalam peta Probolinggo sekitar tahun 1800-an, ditemukan nama Bremi dan Pekalongan.
Lokasi yang disebut Bremi, saat ini dikenal sebagai daerah yang meliputi Jalan Wijayakusuma hingga Jalan Cempaka.
Sementara Pekalongan kini merujuk pada wilayah Jalan Panjaitan hingga ke timur sampai sebagian Jalan Suroyo.
Nama, Pekalongan sempat muncul di peta Probolinggo hingga tahun 1946.
Edi menjelaskan, penyebutan nama Pekalongan ini ada dua versi. Pertama, karena banyak pohon besar di Jalan Cempaka dan Jalan Kaca Piring.
Pohon ini di masa lampau dihinggapi oleh sejenis Kalong. Sehingga, wilayah ini disebut dengan nama Pekalongan.
Ada versi lain yang menyebutkan nama Pekalongan muncul karena pada 1800 an, banyak pedagang batik dari Pekalongan yang datang ke Probolinggo. Mereka datang untuk berjualan batik.
Lama kelamaan mereka berdomisili untuk membuat dan menjual batik. Mereka bermodisili di sekitar jalan Panjaitan, Suyoso dan Imam Bonjol.
Karena itulah, pada waktu itu lokasi tersebut diberi nama desa Pekalongan.
“Batik kuno Probolinggo memiliki ciri khas seperti batik Pekalongan. Karena, dulu memang banyak pedagang batik asal Pekalongan yang datang ke Probolinggo,” tutur Edi.
Berubah Jadi Sukabumi saat Dipimpin Kertosari
Pada 1918, dewan Kota Probolinggo atau dalam bahasa Belanda disebut dengan Gemeente Raad dibentuk untuk pertama kalinya.
Berdasar pada staatsblad nomor 322 tahun 1918 yang ditanda tangani 20 Juni 1918 dan berlaku sejak 1 Juli 1918.
Adanya staatsblada ini, Kota Probolinggo yang sebelumnya jadi wilayah Karesidenan Pasuruan, berhak mengelola daerah dan anggarannya sendiri.
Setelah sekian lama dipimpin oleh tokoh masyarakat, maka dibentuklah pemerintahan desa.
Pada awal berdirinya, pemerintahan desa ini dipimpin oleh seorang petinggi atau biasa dipanggil pak tinggi yang dipilih langsung oleh masyarakat.
Sedangkan desanya diberi nama desa Pekalongan. “Pemerintahan desa ini pertama kali ada pada 1924. Kades pertama di desa Pekalongan saat itu adalah Tirtosari yang menjabat sampai tahun 1927. Sistem pemerintahannya sama seperti desa saat ini,” kata sejarawan yang juga anggota KIM Edi Martono.
Beberapa nama sempat menjadi kades kala itu. Mulai Tirtosari, lalu Djojokerto yang menjabat mulai 1927 hingga 1930. Kemudian, Kertosari menjabat dari 1930 hingga 1953, Abdul Majid menjabat dari 1953 sampai 1971 hingga terakhir Soeharto pada 1971 hingga 1986.
Pada saat Kades dijabat oleh Kertosari waktu zaman penjajahan Jepang sekitar 1942, sebagian wilayah desa Pekalongan mulai berubah menjadi Sukabumi.
Namun nama Pekalongan masih dikenal oleh masyarakat hingga 1946.
Selama periode 1942 hingga 1946, nama Pekalongan merujuk pada sebagian wilayah Sukabumi saat ini, mulai dari Jalan Wijayakusuma hingga Jalan Panjaitan. Sementara Sukabumi meliputi wilayah Panjaitan ke timur hingga jalan Suroyo.
Sebagai wilayah yang dikenal pada masa lampau. Sukabumi memiliki sejumlah bangunan tua yang masih berdiri megah sampai saat ini.
Seperti, Masjid Agung Raudlotul Jannah, Makam Melayu hingga Gereja Kristen Jawi Wetan.
“Meski begitu selama periode tersebut, kadesnya tetap satu. Hingga akhirnya pada 1946, nama Pekalongan berganti sepenuhnya menjadi Sukabumi seperti yang dikenal sekarang,” tutur Edi. (riz/mie)
Editor : Jawanto Arifin