Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Cerita Rumah Paula dan Sonja Jadi Saksi Jejak Kejayaan Pabrik Gula di Maron

Achmad Arianto • Rabu, 1 November 2023 | 23:45 WIB
SAKSI KEJAYAAN PG MARON: Potret rumah Paula dan Sonja dulu.
SAKSI KEJAYAAN PG MARON: Potret rumah Paula dan Sonja dulu.

BANGUNAN peninggalan zaman Hindia-Belanda masih banyak ditemui di Kabupaten Probolinggo. Sebagian jadi aset pemkab setempat. Salah satunya bekas rumah dinas staf Pabrik Gula Maron yang konstruksinya masih kokoh. Saat ini, masih difungsikan sebagai rumah dinas Kecamatan Maron.

Sejak zaman Kolonial Hinda-Belanda wilayah Probolinggo dikenal memiliki potensi tanam tebu yang cukup baik.

Tak heran, banyak Pabrik Gula didirikan untuk memproduksi tebu menjadi gula kemudian diperdagangkan.

Pabrik-pabrik gula tersebut membentang berjajar di jalan Daendels yang saat ini menjadi jalur Pantura.

RUMAH PAULA KINI: Kondisi Rumah Paula kini yang dimanfaatkan untuk rumah dinas sekretaris kecamatan (Sekcam) Maron.
RUMAH PAULA KINI: Kondisi Rumah Paula kini yang dimanfaatkan untuk rumah dinas sekretaris kecamatan (Sekcam) Maron.

Sebut saja Pabrik Gula Pajarakan, Gending, dan Dringu yang saat ini kondisinya masih tampak megah. Mencerminkan majunya industri tebu kala itu.

Namun, ada juga pabrik gula yang dibangun oleh Belanda jauh dari jalan Daendels. Seperti Pabrik Gula Maron. Fisik dari pabrik tersebut memang sudah tidak ada.

Namun, masih ada beberapa bangunan tersisa yang masih berdiri kokoh. Menjadi penanda bahwa Kecamatan Maron memang pernah menjadi salah satu pusat industri gula.

Di antaranya, Rumah Paula dan Sonja (Saat ini jadi rumah dinas Kecamatan Maron, Red) jadi salah satu bukti kejayaan gula di Maron.

Dihimpun dari berbagai sumber keberadaan dua bangunan tersebut erat kaitannya dengan kehadiran pabrik gula Maron (Suiker Fabriek Maron).

Pabrik Gula Maron didirikan sekitar awal tahun 1870-an oleh DFK Pietermaat. Pada akhir tahun 1880-an, dikelola oleh Pietermaat dan putranya.

Dengan penataan saluran irigasi yang baik, ladang tebu di sekitar Maron tumbuh subur. Pabrik ini memiliki produksi yang cukup baik dan menjadi unggulan kala itu.

"Dari beberapa informasi, lokasi pabrik gula Maron ada di timur Koramil Maron. Saat ini sudah tak tersisa. Menjadi lapangan Maron," kata Staf Kecamatan Maron Khoirussovi saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo.

Pada saat pabrik tersebut dibangun Belanda, juga turut membangun fasilitas penting lainnya. Termasuk rumah dinas untuk staf pabrik gula.

Letaknya hampir mengelilingi wilayah pabrik. Baik di sisi utara, selatan, timur dan barat. Nah sisi barat terdapat rumah Paula dan Sonja.

Kabid Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Probolinggo Sulaiman menjelaskan, Pembangunan pabrik dan pelengkapnya menggunakan dana pinjaman. Atau hipotik tahun 1885.

Ketika Pietermaat meninggal tahun 1886, penerusnya dipaksa untuk melunasi dana pinjaman tersebut.

Apabila, tidak dapat dilunasi akan dijual kepada Ho Yam Loo yang merupakan pengusaha kaya asal Tiongkok.

Pemerintah Hindia-Belanda sempat cemas dengan industri gula yang terancam punah. Salah satunya Pabrik Gula Maron yang jatuh ke tangan pengusaha Tiongkok.

Semula tahun 1886 pabrik Gula Maron dilelang. Namun, upaya tersebut membutuhkan hasil.

Tidak ada peminat untuk pabrik yang selalu memiliki reputasi baik itu. "Akhirnya pengusaha Ho yam Loo, kemudian membeli Pabrik Gula Maron," ucapnya.

Pabrik Gula Maron pada akhirnya jatuh ke tangan pengusaha Tiongkok dan aset-asetnya banyak diperjualbelikan.

Sehingga, tidak ada aset yang mengikat kepemilikannya secara hukum. Termasuk bangunan dua bernama Rumah Paula dan Rumah Sonja yang kini kemudian menjadi rumah dinas Kecamatan Maron.

Diikuti pula beberapa bangunan bekas tempat tinggal para karyawan dan pejabat pabrik yang berada di sekitar kecamatan Maron.

Jejak berdirinya Pabrik Gula Maron saat ini sudah tidak ada. Puing sisa kejayaan pabrik gula sudah rata dengan tanah. Bahkan sudah berubah menjadi lapangan.

Sementara tersisa beberapa rumah pejabat yang saat ini beralih fungsi menjadi perumahan milik masyarakat.

"Masih perlu kajian dan penelitian yang mendalam apa yang menyebabkan Pabrik Gula Maron tak tersisa," bebernya.

 

Cerita Rumah Paula dan Sonja

MASIH ORISINAL: Kondisi interior bagian dalam rumah Sonja yang kini dijadikan rumah dinas Camat Maron.
MASIH ORISINAL: Kondisi interior bagian dalam rumah Sonja yang kini dijadikan rumah dinas Camat Maron.

Dua Rumah Seperti Bercermin, Masih Orisinal

Bangunan staf pabrik gula Maron yang masih tersisa rumah Paula dan Sonja begitu terawat. Struktur bangunannya juga masih orisinal dan kokoh. Kini berubah fungsi menjadi rumah Dinas Kecamatan Maron. Hingga saat ini masih digunakan untuk hunian dan menerima tamu.

Rumah Paula dan Sonja ini memiliki memiliki struktur bangunan unik. Dua bangunan tersebut memiliki ukuran sama. Dua-duanya menghadap arah selatan. Dengan spesifikasi bangunan panjang 20 meter, lebar 10 meter, dan tinggi 5 meter. Uniknya bangunan ini memiliki model cermin.

Rumah Paula memiliki 3 ruangan inti yang berada di sisi sebelah barat. Kemudian pada sisi timur merupakan ruang keluarga dan depan merupakan ruang tamu.

Sementara pada rumah Sonja memiliki 3 ruangan inti yang berada disisi sebelah timur. Kemudian pada sisi barat merupakan ruang keluarga dan depan merupakan ruang tamu.

"Dua rumah ini unik seperti bercermin. Dulunya ada sebuah bangunan kecil seperti garasi sebagai penyekat. Sekarang sudah tidak ada," kata Staf Kecamatan Maron Khoirussovi.

Sovi –sapaan- akrab Khoirussovi menjelaskan, bangunan tersebut masih orisinal. Tidak ada perubahan konstruksi bangunan. Sebab, bangunan peninggalan budaya bersejarah tersebut hanya dilakukan pemeliharaan dan pengecatan secara berkala.

Ia mengatakan, konstruksi bangunan masih begitu kuat. Baik struktur bangunan yang berupa gedung dan kerangka atap bangunan.

Bangunan berkonstuksi batu, batu bata, dan semen. Sementara kerangka atap bangunan disusun menggunakan balok kayu. Dengan siku kayu yang di rekatkan menggunakan paku kayu dan plat besi sebagai penguat sambungan.

Staf Kecamatan Maron yang sudah bekerja selama 14 tahun ini mengatakan, rumah Paula saat ini difungsikan sebagai rumah dinas Sekretaris Kecamatan Maron. Sementara rumah Sonja saat ini difungsikan sebagai rumah dinas Camat Maron.

Sementara ruang tengah yang dulunya merupakan garasi dua rumah ini. Saat ini berdiri bangunan baru yang digunakan sebagai ruang layanan administrasi.

"Kalau perawatannya hanya dengan cara dibersihkan rutin. Kayu bagian atap masih asli berupa balok. Belum pernah diganti hanya dibersihkan dari sarang laba-laba dan kotoran kelelawar," tuturnya.

Kabid Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Probolinggo Sulaiman menuturkan jika dua bangunan tersebut memiliki nilai budaya dan historis. Sehingga memiliki nilai yang cukup tinggi. Perlu dijaga dan dipelihara agar menjadi aset kebudayaan yang bisa dinikmati oleh generasi penerus.

"Gedung Paula dan Sonja sudah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Tentunya, perlu dijaga agar tetap terawat," imbuhnya. (ar/mie)

Editor : Jawanto Arifin
#PG Maron #pabrik gula #rumah paula dan sonja